Julie Laiskodat Bersama MPIG-KAFM Lakukan Diskusi Virtual di Caffe Mane Ruteng. 

Ruteng sorotNTT. Com-Dalam rangkaian Reses ke wilayah Kabupaten Manggarai, Julie Sutrisno Laiskodat, anggota komisi IV DPR RI, melakukan kegiatan diskusi virtual bersama MPIG-KAFM(Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis-Kopi Arabika Flores Manggarai), Selasa(21/7/2020)bertempat di Caffe Mane Ruteng.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pengembangan integritas pertanian agrowisata dan ekonomi kreatif berbasis kopi melalui pola kemitraan MPIG dan para pihak. 

Bergabung sebagai pemateri dalam diskusi Virtual ini, Dr. Ir. Robinson Sinaga SH. LLM(Direktur Fasilitas Kekayaan Intelektual, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Dr. H. Riyaldi, MM(Ketua Asosiasi Indikasi Geografis Indonesia), Dirut BOP Labuan bajo Shana Fatina. 

Julie Laiskodat menyampaikan bahwa Kopi Manggarai sangat terkenal sampai ke luar negeri, namun petani kopinya belum makmur, harga ditentukan oleh pengepul kopi, ini sudah berlangsung lama dan harus dirubah. 

Julie menjelaskan, persoalan kopi harus diurus mulai dari hulu hingga hilirnya. Misalnya benih kopi diatur oleh kementrian dan lahannya diatur oleh pemerintah setempat. Sedangkan pemerintah provinsi membantu fasilitas penunjang baik sebelum maupun pasca panen kopi.

BACA JUGA:  Pembagian BLT di Desa Bangka Kenda Menuai Protes Warga, Diduga Syarat Nepotisme

Dikatakannya, mengatasi hal ini perlu integrasi lintas kementrian. Mengatasi persoalan ini bukan hanya urusan kementerian pertanian saja tetapi kemeterian perdagangan dan pariwisata juga perlu dilibatkan.

“Petani kita harus dilatih untuk menjadi petani profesional. Fasilitas penunjang kerja harus ditingkatkan. BUMD dan BumDes harus diberi peran untuk kesejahteraan petani kopi. Kopi kita harus super premium,” tegas dia.

Program kerja dinas harus dimulai dari bawah atau Botoms up dalam arti dilapangan yang tahu keunggulan mereka apa, butuhnya apa dan pemerintah memfasilitasi.

Istri gubernur NTT itu memaparkan, nama besar kopi Flores khusunya Manggarai sangat mumpuni, sampai ke luar negeri. Kendati demikian, dari nama besar kopi Manggarai, Kopi Flores, apakah petaninya sudah sejahtera atau belum.

BACA JUGA:  Wagub NTT Pantau Permbangunan Rumah Susun Seminari Mataloko

Percuma kita memiliki nama besar soal kopi, kalau kesejahteraan petani kita masih belum meninggkat ini tantangan kita bersama, tegas Julie Laiskodat. 
Untuk diketahui MPIG-KAFM sendiri sudah terbentuk di tiga kabupaten yaitu kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur.

Bony Oldam Romas, Sekretaris MPIG-KAFM kepada media ini menyampaikan bahwa visi besar yang digagas adalah, Terwujudnya kesejahteraan petani dan masyarakat melalui pengelolaan kopi arabika Flores Manggarai yang bermutu, berdaya saing, diminati dunia secara berkelanjutan. 

MPIG-KAFM sendiri telah memiliki prestasi yang patut dibanggakan diantaranya, Menjuarai kontes kopi nasional, Mendapat medali emas dan perunggu di Prancis, Pembentukan 4 pokja di 3 kabupsten, Terlibat berbagai even lokal, nasional dan dunia. 

Lebih lanjut Bony Romas menjelaskan kenapa para pihak dilibatkan dalam kegiatan MPIG-KAFM ini dengan alasan: Sebagai ujung tombak pariwisata, kopi sekarang sebagai destinasi wisata, Mempromosikan produk lokal(salah satunya kopi), dan Menjadi tanggung jawab dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat NTT. 

BACA JUGA:  Khabar Gembira, Hari ini Matim Bebas Covid 19. Zona Hijau?

Turut hadir dalam kegiatan ini Anggota DPRD propinsi Fredy Mui, PSE Keuskupan Ruteng Romo Robert, Ketua dan anggota MPIG-KAFM.