Fitri Aku bangun pagi

Aku Bangun Pagi

CerpenSastra

Aku bangun pagi- pagi sekali hari ini. Tak seperti biasanya. Sembari mengucek-ngucek mata; aku tengok jam di layar ponsel pukul 04.37 Wita, ternyata sudah subuh.

Dengan tergesa-gesa tanpa membereskan terlebih dahulu aku berdiri meninggalkan tempat tidurku meninggalkan hangat yang semalaman menemaniku melewati dingin dan gelapnya sang malam.

Aku berjalan menuju meja kecil yang sengaja mama letakkan di pojok ruangan dapur rumahku, di sana ada beberapa termos dan cerek air yang ditata cukup rapi dan di sebelahnya lagi ada rak piring berwarna biru tua, sebuah gelas bening kecil ditelungkup di sana aku mengambil lalu menuangkan air; meminumnya perlahan menikmati kesegarannya ditenggorokanku.

Terdengar dari kejauhan riuh kokok ayam saling bersahutan menyambut pagi di awal bulan ini. Juni… (Juni bulan kelahiran si sulung, seketika aku seperti teringat memori tentang kita di bulan yang sama tahun 2012 kemarin. Yah… Tujuh tahun yang lalu).

Lumayan lama aku terpaku dalam lamunanku, mengenang kisah kita yang tiada duanya. Kisah yang begitu indah nan menyesatkan. Kisah cinta dua sejoli yang di mabuk asmara. “Ahhh… itu cuma masa lalu,” bicaraku dalam hati. Kenangan itu berusaha aku tepis seketika.

Aku alihkan pikiranku lagi dan kembali fokus dengan segelas air putih yang sedari tadi aku tinggalkan begitu saja.

Sepuluh menit berlalu, udara dingin menyapu kulitku dengan mesranya di waktu bersamaan. Aku beranjak dari bangku kayu buatan papa, melangkahkan kaki menuju kamarku.

Kuraih jaket berbahan parasut berlogo “Pertamina” milik papa dan sebuah topi hitam yang sengaja kugantung di belakang pintu kamarku. Celana tidur kuganti dengan jeans denim selutut, kemudian sneaker biru langit andalan kupilih jadikan alas kakiku kali ini. Terakhir rambut kukuncir seadanya tak lupa headset beserta ponsel kuselipkan dalam saku jaket.

Hampir pukul 05.00 Wita, pelan-pelan kubukakan pintu, dan keluar dari rumah. Lalu kututup kembali. Di luar masih sedikit agak gelap. Mentari belum juga menampakkan batang hidungnya. Hanya ada bulan, dan beberapa bintang tersisa.

***

Lopas pagi sendiri, dan baru kulakukan lagi setelah bertahun-tahun berlalu. Begitu saja tanpa aktivitas yang sama. Dulu hal ini sering kita lakukan bersama-sama. Bersama bayi kecil yang menanti harinya untuk dilahirkan ke dunia.

Kuberlari menyusuri gang kompleks perumahan, sambil mendengarkan dentuman musik yang berasal dari ponselku. Lagu-lagu bergenre slow rock milik Backstreet Boys kuputar berulang-ulang (Drowning, yang kuingat judul lagunya itu).

Kuberlari, berlari, dan terus berlari. Sampai akhirnya tiba di persimpangan jalan Pengadilan Negeri Ruteng. Kuberhenti sebentar sembari melepas lelah dan kembali mengatur nafasku yang sedikit menderu. (Kayak mesin kendaraan saja. Hehehe…).

Sesaat kubingung sendiri arah mana yang harus kupilih. Lalu kuputuskan untuk mengambil jalur yang lurus, tidak mau kuberbelok ke kanan maupun ke kiri.

Kembali kuberlari lagi. O2-nya masih sangat segar dan bersih. CO2 hanya berkisar 2-5 % saja. Jika dibandingkan pada siang hari. “Bersyukur sekali masih bisa menikmati udara sesegar ini,” kataku dalam hati. Jalanannya masih terlihat lengang, tak banyak kendaraan yang lewat. Ada beberapa helai daun bergerak ke sana kemari, tertiup oleh angin seperti sedang menari menyambut pagi.

Dari arah berlawanan kulihat seorang pemuda. Tingginya sekitar 175-178 cm, padat, dan berisi. Dia mengenakan t-shirt dan topi dengan warna senada. Celana pendek kotak-kotak hitam, palang merah (untungnya bukan motif bunga kamboja) plus sneaker hitam.

Dia atau pemuda itu lopas pagi juga. Dia… Dia… Aah… Dia Bukan siapa-siapa. Dia cuma pria yang ada di sosial media, yang sering ngelikepostinganku di Facebook. Sempat darah ini berdesir, irama jantung seakan berlomba mengejar. “Tatapannya bikin aku grogi.”

Mataku berulang-ulang kugosok. Karena berpura-pura kelilipan. Ternyata sebenarnya mau memastikan, beneran dia apa bukan, sih? Saat berpapasan nafasku seolah tertahan. Aku kaget setengah mati, hampir jatuh tersenggol kakiku sendiri. Dia itu ternyata Reynold. Reynold yang biasa kusapa Rey. Pemuda sosial media yang kukenal beberapa bulan terakhir ini di Facebook.

Sedikit gerimis (gerakan imi amas). Aku mengambil ponsel pura-pura scroll atas bawah. Sembari kukurangi kecepatanku berlari. Mungkin jaraknya kami sekitar 5 meter. Aku balikkan badan, menatap raganya (cukup lama, sih) pada saat sedang berlari pelan di ujung jalan. Mungkin karena feeling yang sama, dia pun berhenti. Membalikkan badannya lalu melambaikan tangan ke arahku. “Yeeeiii… Amazing! Pagi yang GILA!” teriakku senang.

Entah apa yang ada dalam pikirannya kini, yang pasti pagi tadi aku sedikit menggila.

***

Pagi yang menggila. Sekiranya semesta merestui perjumpaan kita. Sesaat namun melekat.

Sepanjang perjalanan aku seperti gagal fokus. Terus memikirkannya, senyum-senyum sendiri dengan mata sedikit berbinar. Membayangkan wajah simetris pemuda itu. Lekukan bibir tipis, mata yang cenderung sipit (seperti oppa-oppa Korea). Hidung tak begitu mancung, tapi nyatanya benar-benar kombinasi yang sempurna.

Rupawan… sungguh!!!

“Aku tergila-gila, otakku sedang tak waras kali ini, sedikit error rupanya!”

Matahari mulai meninggi, berkawan dengan awan. Bintang malam pun menghilang satu per satu dari cakrawala. Aku terus berlari sembari membenahi topi dan beberapa helai rambut yang menghalangi pandanganku.

Motang Rua. aku berhenti sejenak di sana. Merebahkan tubuhku yang sedikit lelah. Embun pagi masih saja betah di beberapa helai rumput pancasila yang ada di Motang Rua.

Seketika pandanganku tertuju pada sekelompok anak kecil yang duduk di tengah lapangan. Mereka tertawa lepas, sesekali saling menjahili satu sama lain, lalu cemberut sebentar kemudian tertawa lagi. “Bahagia sekali sepertinya andai bisa kembali ke masa itu, mengulangnya lagi pasti bahagiaku tak terkira,” harapku dalam hati.

Di pelataran panggung, ada tiga orang pemuda sibuk mengurus sound system satu di antaranya memegang mike. “Cek, cek, cek…,” ucapnya. Pria itu sedang memastikan apakah mikenya bekerja dengan bagus atau malah sebaliknya. Dua pemuda lainnya tak kuamati dengan baik apa yang tengah mereka lakukan. Yang pasti mereka benar-benar sibuk.

Hampir 30 menit kududuk di sana. Matahari pun makin meninggi, panasnya menyengat kulit wajahku. Bintang di langit tak kudapati lagi yang tersisa. Hanya beberapa kumpulan awan nan putih. “Untuk hari ini cukup sampai di sini dulu,” kataku dalam hati.

Aku bangun dan membenahi kembali jaket dan topi yang tadi sempat berantakan dan sedikit agak kotor.

****

Saat dalam perjalanan pulang menuju rumah aku kembali teringat Reynold. Pria tampan berwajah simetris itu berhasil mencuri hatiku. Di sosial media kalau lagi asyik ngechat, dia selalu bilang dia itu Adipati Dolken (samaran Brama Kumbara). Memang pas dan ngena banget kalau dibilang seperti itu. Mirip sih wajahnya, hanya saja Rey itu kulitnya tidak terlalu putih.

Sepanjang perjalanan aku terus memikirkannya. Seakan-akan di jidatku sudah dituliskan namanya. Hahaha…

Pertemuan tak sengaja tadi benar-benar memacu semangatku untuk lopas pagi tiap hari. Siapa tahu besok dan hari-hari berikutnya bisa bertemu dia lagi. Seperti candu. Hati ini terpanah asmara.

“Rey… Rey… Rey…,” nama itu terus mengusik hatiku. Pagi ini menjadi pagi terindah bagiku. Kejutan Tuhan yang tak kusangka.

*****

Hari ini berlalu dengan cepat… Seolah matahari berlomba, adu kecepatan dengan jarum jam. Jingga mulai tampak di sisi lain cakrawala. Senja pun tiba. Seperti biasa kusisihkan sedikit waktuku untuk duduk di sini, di sebuah taman di tengah kota. Menikmati angin dan hawa dingin kota kecilku. Bersama semesta menyaksikan senja berlalu.

Senja kali ini berbeda. Pertemuanku dengan Rey pagi tadi ternyata menjadi pertemuan yang pertama dan terakhir.

Chat dariku tak lagi diread apalagi direply tak seperti biasanya.”

Ditelp tapi ponselnya sibuk. Kadang direject. “Rey, kenapa tiba-tiba begini… Kesannya seperti menghindariku saja. Ahhh… atau mungkin Rey memang benar-benar lagi sibuk, makanya dia jadi seperti ini,” aku berusaha menenangkan batinku sendiri. Menepis ragu dan prasangka buruk tentangnya.

Satu dua jam diriku masih nyaman saja tanpa kabar darinya. Tiga jam berlalu masih dengan situasi yang sama.

Kuraih ponselku yang semenjak aku tiba tadi tak kuhiraukan. WhatsApp kubuka, satu per satu story dari teman-teman aku cek. Ada nama dia juga di sana, Denpasar. Aku terhenyak seketika saat membacanya. Lidahku terkatup rapat tak bisa berkata. Telingaku pun terasa kedap sesaat. Tubuh ini lemas banget. Seperti dihantam badai, dan aku terdiam dalam harap.

“Rey? Ke Denpasar?” tanyaku dalam hati.
“Ahh, tidak mungkin!”
“Apa iya, Rey balik ke Jakarta. Masa iya secepat itu?”
“Ahh, tidak mungkin!”

Dengan pede yang selangit dan rasa ingin tahu yang cukup besar, kukesampingkan rasa maluku. Aku mengirimkan pesan untuknya dan alhasil, nihil jawaban. Dia tak merespons. Sampai detik ini.

Oleh: Fitri
Penulis adalah Pegiat Literasi Digital tinggal di Ruteng. Selain sibuk dengan tugas dan rutinitas harian, perempuan yang akrab disapa Lia atau Fitri ini giat menulis, puisi, sajak, elegi, cerpen di dinding Facebooknya.