Antologi Puisi Yohanes Hadi Setiawan Salahkan Aku?

Puisi

Salahkah aku bila pergi tanpa kata?
Ketika sajak-sajak mulai ropos
Tidak memberikan pamit pada siapa saja
Entah kepadamu atau kepada segerombolan aksara

Pada siapa aku bernaung diri
Ketika air mukamu menjadi merah
Pada siapkah aku bersandarkan diri
Sebab bahumu sudah sembunyi

Salahkah aku bila pergi tanpa senyum?
Yang menggores lekuk indah pipi
Jejeran ridu yang siap menari
Aku hilangkan serta menutupi

Rasa pahit mengalir dalam dada
Darah seakan meminta jatah untuk berkata
Hati piluh tak mampu membendung rasa
Salahkah aku bila pergi tanpa doa?

Ke Mana Senyummu?

Ada yang hilang dari sosokmu
Apakah engkau menghilangkannya?
Ke manakah pergi senyummu?
Ketika batin terasah pahit tanpa dia

Aku kini meniti berkas-berkas pagi
Menyiapkan diri untuk pergi
Dimana senyum engkau sembunyi?
Di situ aku akan pergi seorang diri

Janganlah palingkan muka jelitamu
Berpaling pada gemuruhnya angin sunyi
Menondong senyumu tuk kembali
Meraba benci serta menyuruhnya pergi

Ke mana senyum kau hilangkan
Jajaran tubuh melikuk tanpa ampun
Syahdat doa enggan datang
Seperti senyum pergi dengan kaki tangan

Di Lereng Sunyi

Aku melihat sunyi menggunung tinggi
Nampak pepohona gugur dalamnya
Aku sedang berjalan-jalan di lereng sunyi
Mencari serta mencoba tuk mendaki

Guguran pepohonan menanda tak subur
Sebelumnya aku mencoba menjelaja
Jejak-jejak suara tak terlihat dalam dia
Pernah kupelajari namun hilang tanpa kabar

Sembari kutunggu luapnya larva sunyi
Kusondongkan badan pada pagi
Merayu dengan sunyi
Agar cepat runtuhkan diri

Di lereng sunyi aku saksikan
Angin dan awan tak hingap di atas puncak
Badai serta petir melambai-labai
Merenggut serta menguasi puncak

Ketika Hati Berkata

Ketika hati berkata tentang dia
Sendu kembali meraya dalam jiwa
Hidup seakan ditakluk oleh rasa
Melintas dalam pelukan senja

Jiwa meratapi setiap kata demi kata
Memoles duka yang kian membahana
Lantas hidup ini bagaikan melayar dalam duka
Melintas lautan yang menyimpan sejuta janji padanya

Bingkisan rindu berupa aksara-aksara
Hilang sekejap hanya jejak yang ada
Ketika hati berkata- kata
Luapan benci kembali meraya

Kini sepenuhnya menjelajah duka
bertunas kecewa dan gentar
Suka tidak memberi pamit pada siapa saja
Sepenuhnya hanya duka benci ketika hati berkata
Kepada Sahabat

Seketika aku mengingat dirimu
Yang masih jauh ketika kutatap
Rasanya ada gulungan duka dalam matamu
Ketika aku sedang bercermin bersama waktu

Sebuah goresan berarti sajak-sajak
Hendakku rangkai dan kubawa
Jemari kini sedang memeluk pena
Yang merangkak di atas lembaran kata

Ada hasrat kembali merajalela
Memberi sekuntum tulisan bermakna
Hari-hari kini sekan meraja
Melintas dalam pelukan senja

Sejak seorang sahabat menghilang
Tatapan mata seakan belum ada
Sekuntum kisah dalam kata-kata
Mulai dibawa angin untuk terbang

Yohanes Hadi Setiawan, Siswa Kelas XI SMAN 1 Satarmese, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Penulis aktif di Pers dan fotografer SMAN 1 Satarmese