BIASA-BIASA SAJA

Rohani Sastra

Narasi P.Paul Ngganggung Oleh Gerard N. Bibang

KEKASIH Allah itu telah kembali ke rumahnya. Ia bukan penduduk bumi. Ia penduduk surga. Bumi ini hanyalah perjalanannya. Rumahnya, di sana, indah tiada tara, dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.

Allah menitipkan kepadanya imamat dan kaul-kaul kebiaraan sebagai peta dan metodologi agar selama perjalanan di bumi, ia jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumah iblis yaitu neraka jahanam. Di bawah kebeningan cahaya peta itu, ia sudah ‘melihat’ Allah dan merasakan kebahagiaan bersama-NYA yang mungkin tak kasatmata bagi mata telanjang.

Maka Pater Paul sejatinya tak pergi. Tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah menyatu dengannya. Mungkin Pater Paul memang telah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum detik kematiannya dini hari Jumat 19 Agustus lalu di Rumah Sakit Siloam Kupang, karena saya, mungkin engkau dan kita-kita, meletakkan diri semakin jauh dari titik kebahagiaan yang ia sudah lama menikmatinya.

Maka wajarlah, gemuruh isak tangis serta pekikan-pekikan lara berdatangan dari seluruh penjuru Nusa Bunga dan Nusa Cendana: “Kita sangat kehilangan,” “SVD ditinggalkan oleh salah seorang putra terbaiknya”, Miss u opa dan bapa Pater-ku. “

Tidak! Pater Paul tak pernah pergi. Kekasih Allah tak pernah mati. Bisa jadi pekikan-pekikan itu sebenarnya tidak terutama tentang Pater Paul, melainkan lebih terkait dengan kandungan batin saya sendiri. Semua pernyataan itu sangat memancarkan kedalaman cinta, semangat mempertahankan optimisme ke depan, mungkin juga diam-diam terdapat kandungan kecemasan dan kebingungan dari dalam ego saya sendiri karena belum juga melihat ALLAH. Atau mungkin terdapat semacam raungan di kandungan jiwa tentang kapan persisnya giliran itu datang menjemputku untuk kembali ke sana.

Ia kembali tanpa mengagetkan siapa-siapa. Tidak menabrak logika manusia. Usia 78 tahun, penyakit asam urat yang menganiaya tubuh dan jiwanya bertahun-tahun, beberapa kali keluar masuk rumah sakit dan tiada hari tanpa menelan obat, semua ini mengisyaratkan bahwa saat kembali ke rumahnya, bisa terjadi kapan saja. Itulah yang terjadi Jumat lalu. Ia memeluk saudara maut dengan biasa-biasa sesuai dengan frase yang sering ia kumandangkan: Biasa-Biasa Saja.

Bab Tiga

Biasa-biasa saja dan jadilah manusia biasa. Ibarat lagu, inilah refrein yang sering ia lantangkan dalam berbagai formulasi melalui dua mata kuliah yang ia ampu: Sosiologi dan Metodologi Penelitian di Bukit Mentari Ledalero, awal hingga medio 80-an.

Saya mengenalnya pertama-tama ketika lectio brevis, semacam kuliah umum singkat di awal tahun ajaran baru thn ’82. Setelah semua mahasiswa STFK Ledalero berkumpul di Aula Hijau, datanglah seorang lelaki paruh baya yang tidak seberapa tingginya, membuka kuliah umum itu dengan kalimat singkat: “ Ini bukan lectio brevis tapi lectio brevissima (=kuliah umum tersingkat).” Kami semua tertawa. Benar. Kuliah umum itu berlangsung tidak sampai 30 menit. Ia menjelaskan status STFK yang sudah diakui pemerintah dan beberapa dosen tamu yang akan mengajar pada tahun ajaran baru itu. Belakangan kami diberitahu bahwa Pater Paul adalah direktur sekolah.

Setelah dua tahun berserius-serius dengan filsafat dan teologi, saya dan teman-teman seangkatan bertemu lagi dengannya di ruang kuliah. Aduh, bagai embun di hari gerah. Kuliah-kuliahnya santai, seperti membawa kami berkelana masuk keluar kampung dari desa ke desa dan – ini penting- membuat kami sadar: Oh ya, kami ini kuliah di dunia. Pada dua tahun sebelumnya, betapa mengkerutnya dahi kami menghafal terminologi filsafat dan teologi berikut nama-nama filsuf dan teolog besar yang membawa kami terbang ke dunia barat dan dunia ide serta membawa kaki kami melayang-layang antara langit dan bumi. Tapi sekarang bersama Pater Paul, kami tersenyum dan lebih banyak tertawa melalui dua cabang ilmu. Freude durch Wissenschaft! Kegembiraan dalam ilmu, inilah harta termahal yang kami dapatkan bersamanya.

Kegembiraan itu dimulai dengan istilah Bab Tiga. Secara kebetulan atau tidak, dua mata kuliah ini hanya sampai pada bab tiga. Karena sibuk menyiapkam ujian dengan membuat makalah dan mempresentasikannya, kami — dan mungkin Pater Paul sendiri — lupa materi kuliah sudah sampai di mana. Ada beberapa bulan setiap kali Pater Paul masuk ruang kuliah dan tanya ‘terakhir sampai di mana”, jawaban kami serempak: bab tiga! sambil tertawa.

Mengagumkan, ia tampak tidak terusik. Mungkin perspektif kami berbeda dalam melihat soal. Kami mengatakan tidak selesai karena sistematika bahan kuliah masih memperlihatkan ada bab-bab selanjutnya. Sementara bagi Pater Paul, lain. Mungkin ia menganggap selesai itu bisa di bab mana saja. Kebetulan untuk masa kami: bab tiga. Sejak saat itu, diam-diam beberapa dari kami yang tergolong badung sering memanggilnya PBT alias Pater Bab Tiga.

Lebih istimewanya lagi, tak satu pun dari kami yang bertanya kepadanya kapan bab-bab selanjutnya diteruskan. Barulah bertahun-tahun sesudah meninggalkan Ledalero, ketika beberapa teman angkatan bertemu secara kebetulan dan mengenang istilah bab tiga, kami akhirnya berpendapat betapa luar biasa etos ke-guru-an Pater Paul. Memang begitulah seorang guru. Guru sejati adalah yang membuka peluang seluas-luasnya agar murid bergerak melangkah sendiri mengembarai cakrawala-cakrawala kemungkinan ilmu. Tindakan terburuk seorang guru adalah kalau ia memberitahukan sesuatu atau menyodorkan informasi-informasi, yang sebenarnya merupakan hak azasi murid untuk menelusuri dan memperolehnya secara mandiri.

Lantas siapa menyangka kami kerdil dalam ilmunya hanya karena macet di bab tiga? Saya mulai dari sosiologi. Judul bab tiga tertulis: Imajinasi Sosiologis. Yaitu sejumlah perangkat analisis gejala-gejala sosial dengan menggunakan kata kunci: imajinasi. Bahwa imajinasi tidak sama dengan angan manusia yang tertuju kepada perbuatan mengejar bayang-bayang, petuah yang disinonimkan dengan kesia-siaan perbuatan manusia. Bahwa imajinasi sosial adalan rahim bagi perubahan demi perubahan. Ia telah lama mengorganisir kerja sosiologis dan membuat gejala dan fakta sosial menjadi interpretabel (make sense).

Tiba-tiba Frater Frietz angkat tangan: “ Pater, ini filsafat sosial atau sosiologi?”
“Campur baur ka Frietz,” jawab Pater Paul. Kami tertawa. “ Pater tolong kasi yang ringan-ringan dan sederhana.”

Begini ya, lanjut Pater Paul: Kalau tiap hari kita bisa tenang mengunyah makanan enak yang tidak bisa didapatkan oleh ribuan saudara-saudara kita di luar sana meski mereka dengan bekerja keras tiga bulan penuh ditambah lembur tiap malam; dan kita mengenyam itu semua dengan perasaan yang tenteram-tenteram saja , maka kemungkinannya ada tiga.
Pertama, kita tidak punya imajinasi sosial. Kedua, kita tahu masalah sosial, tapi tak bisa bersikap ilmiah, sehingga tak bisa merumuskan keharusan-keharusan hidup kita. Kemungkinan ketiga, memang kita kurang bermoral dan tidak punya hati.

Kami merasa disindir. Senyap seluruh ruangan! Untunglah, ada Frater Boni Selu. Ia angkat tangan dan sambil berdiri, berkata: “Pater, saya mau imajinasi sosial saja.” Kami tertawa. Pater Paul juga terbahak-bahak.

Di hari-hari selanjutnya, dengan pedoman imajinasi sosiologis itu, kami berkelompok turun ke kampung- kampung, dari Gere hingga Hoba atau ke mana saja untuk mengamati interaksi sosial dengan wawancara orang sebanyak mungkin dan ini yang menarik, kegembiraan kami menjadi-jadi. Interaksi antara kami menjadi warna warni. Dalam terang imajinasi sosial, segalanya diberi makna baru. Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.

Ternyata kegembiraan ini tidak menyapa semua penghuni bukit mentari itu. Dari sana sini ada yang bergumam: ini kuliah apa. Hanya hura-hura. Bahkan, tidak ilmiah. Waktu itu kami berdoa semoga telinga Pater Paul tertutup untuk semua itu. Eh, ternyata kami keliru.

Ia berkata: “Satu pengalaman pahit pernah saya alami pada awal berkarya sebagai dosen. Mahasiswa mengeritik kuliah saya tidak baik. Saya akui itu betul. Hanya sayangnya orang tidak melihat latarbelakangnya. Hari ini saya tiba di Ledolero, esoknya mulai kuliah tanpa persiapan sementara itu saya dipercayakan mengatur sekolah, yakni Direktur studi untuk Seminari Tinggi Ledalero dari tahun 1977-1982 dan Sekretaris untuk Sekolah Tinggi Filsafat Agama Katolik Ledalero tahun 1977- 1992. Sebagai sekretaris banyak kerjanya… Tentu hal ini yang tidak dilihat orang. Perlu kita belajar mendalami sesuatu tidak cukup melihat permukaannya..” (lihat: Buku Kenangan Syukur 40 Tahun lmamat P. Paul Ngganggung SVD, Biara St. Arnoldus Janssen, Oebufu, Kupang, 2010).

Wahai para penghina, ke mana engkau membuang mukamu ketika ia dengan gagahnya di Cilaket, Jawa Timur, pada 1978, berbicara secara mencengangkan di depan kelompok Seminari Tinggi KWI tentang “Pendidikan Seminari Tinggi adalah Pendidikan Pastoral” yang diadopsi bulat-bulat pada sidang KWI 1978 dengan menetapkan pendidikan Seminari Tinggi adalah pendidikan pastoral dan penetapan itu masih berlaku hingga sekarang?

Wahai para pengejek, ke mana matamu menatap ketika ia dari Soverdi Matraman naik bis umum dan miktrolet ke Kantor Dikti di Jln Sudirman Jakarta pulang pergi untuk mengurus Sekolah Tinggimu agar diakui keberadaannya di bumi bertiwi tempat kakimu berpijak dan melangkah mencari makan? Ke mana wajahmu menoleh ketika ratusan mahasiswa, yang engkau usir dari pintu kamarmu dengan berkata ‘kamu bodoh’, keluar masuk ke kamar Pater Paul tanpa jadwal konsultasi meminta bimbingan skripsi dan semuanya lulus dengan kepala tegak?

Wahai para pencemooh, hidungmu engkau kembangkan ke arah mana ketika udara segar engkau hirup dari dedaunan hijau berbunga di halaman tengah Ledalero, yang setiap sore, ia siram, tanam dan tata tanpa mengenal cuaca padahal pada saat yang sama ia layani Paroki Wairpelit dengan porsi waktu yang diberikan kepadamu dan kepadanya sama banyaknya?

Tapi yah, itu tadi. Pater Paul tetap Pater Paul. Wajahku merunduk malu setiap kali berpapasan dengannya. Ia adalah orang besar. Di depan cemoohan dan hinaan, ia tetap ia. Hatinya luas seluas samudera dan menerima semuanya itu seperti lautan memeluk sesendok garam. Jiwanya tidak retak. Rupanya itulah yang bernama pekerja SADBA, kekasih ALLAH.

Gila vs Ilmiah

Pada mata kuliah metodologi, kegembiraannya lain lagi. Kami terhibur dengan istilah-istilah baru: Ibid, Op.cit, Loc.cit, dll, selain kerangka-kerangka logis sebuah tulisan dan pengutaraan pikiran atau pendapat yang ia jabarkan pada bab-bab pendahuluan.

Hanya di sana sini, ia menyelipkan frase-frase yang bermakna abadi. Misalnya: ini hanya metodologi. Kalau substansi sudah didapat, yah, kamu tidak perlu lagi metodologi. Kaul-kaulmu hanya metodologi. Jubahmu hanya metodologi. Agama hanya metodologi. Ijazah, gelar dan jabatan, semuanya hanya metodologi. Inti semuanya ialah mencintai ALLAH. Titik! “Hidup juga hanya metodologi, Pater” sambung Fr Openg. “ Betul” jawabnya. Dan kami pun tertawa.

Tibalah saat gembira itu. Kami berkelompok turun ke kampung kampung mewawancarai orang dengan menggunakan imajinasi sosiologis dan menerapkan teori metodologi: ibid, op.cit, loc.cit, dll. Kami bertiga: Benyamin Raya, Boni Selu dan saya berbagi tugas. Singkat kisah: Benyamin Raya (baca: Benya) didaulat merumuskan dan mengetik makalah itu serta mempresentasikannya di depan Pater Paul dan mahasiswa lain, sementara kami berdua duduk berdampingan untuk menangkis pertanyaan audiens.

Benya: Tesis kami: banyak orang sinting di sekitar sini karena tekanan ekonomi, selebihnya karena ikatan kekerabatan yang kian longgar.

Benya dengan fasih membeberkan data-data dan dengan lancar menyebut ibid, op cit, dll, dengan cukup sering menyebut nama Om Wadi. Nah, di sini mulai masalah. Untuk diketahui, pada masa itu, ada dua orang gila yang hidup di sekitar Ledalero: Moli, seorang gadis, yang tinggal di depan pintu gerbang Ketapang di Gere dan Om Wadi, lelaki paruh baya yang tinggal di Wairpelit.

Setelah Benya berkali-kali menyebut Om Wadi, akhirnya Pater Paul bertanya: “ Frater, Om Wadi siapa ini?” “Om Wadi, orang gila yang di Wairpelit, Pater”. Semua tertawa.
“ Hebat kelompok kalian ya. Narasumbernya orang gila” tegas Fr Pit Sambut. Fr Boni Selu berdiri dan menangkis: “ Teman-teman, siapa yang gila? Saya yang wawancara om Wadi dan tanya apakah kau gila, dia jawab: saya tidak gila ko! Jadi: siapa yang gila.” Sambung Benya: “ Kita tidak tahu pikiran om Wadi. Tuhan bekerja khusus atas orang seperti dia. Bisa saja dia anggap kita-kita ini gila. Jadi: siapa yang gila?”
“Kau yang gila. Gila sosiologis” kata Fr Sirilus Sungga sambil tertawa. Kali itu saya lihat Pater Paul terkekeh-kekeh bersama seluruh mahasiswa memecah kesunyian bukit Ledalero. Pada ujian-ujian makalah berikutnya dari kelompok lain, kegembiraan ini merambat dan menyeruak tak terkira.

Seingat saya, Pater Paul tidak memberi catatan banyak terhadap makalah kami selain mengatakan singkat: “ Beginilah kerja imajinasi sosiologis”. Ia juga tidak mempersoalkan istilah gila. Sampai pada akhirnya kami tiba pada satu titik yang kami dapatkan dari pencarian kami masing-masing bahwa dalam imajinasi, orang akan berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan gila, orang keluar dari segala yang diketahui dan karena itu imajinasi bisa jadi sangat menakutkan dan semuanya ini bermuara pada kebebasan berpikir, keasyikan berinteraksi dan kemudahan berkolaborasi.

Barulah kemudian kami paham mengapa ia mengharuskan kami bekerja dalam kelompok. Wisdom of the crowd is wiser than the wisest person. Pemikiran kolektif yang kritis (tidak seragam karena dipaksanakan) selalu lebih hebat daripada pemikiran indvidu yang paling hebat sekalipun.

Being Nice

Ini satu lagi: ia piawai dalam pergaulan. Egaliter. Saya kira bukan karena ia belajar sosiologi. Setelah saya menelusuri asal kelahirannya, Ruteng, saya paham: laro jaong letang temba (= pengantara atau mediator) yang mensyaratkan pandai bicara dan nai ngalis agu tuka ngengga (=bijaksana dan sabar) adalah darah yang mengalir dalam nadinya dari orang tuanya.

Ayahnya, Kraeng Po Nongko adalah jubir dan asisten Kraeng Bagung, Raja Manggarai sejak 1924. Tentang kraeng Po muda yang lincah, Kontrolir Coolhaas berkata dalam nada superlatif: “ Paling cerdas dan paling tegas, juga paling brutal dan paling gemuruh, dia masih muda tetapi memiliki nama besar” (Lih. Dami N. Toda dalam Manggarai Mencari Pencerahan Histografi, Penerbit Nusa Indah, Ende, 1999:hlm 332).

Darah raja mengalir dalam raganya. Rajakah ia? Tidak! Sama sekali jauh dari warisan darahnya. Diperkaya oleh SABDA melalui serikat yang ia pilih, spiritualitas laro jaong letang temba warisannya, ia olah menjadi etos menerima siapa saja menjadi saudara dan saudari sambil bergandengan tangan menjadi metodolgi dalam pencaharian ALLAH, yang dari dulu hingga sekarang ADALAH YANG ADA.

Dalam hidup sosial, warisan itu ia terjemahkan dengan apa yang ia sebut ketrampilan sosial yaitu menjadi manusia biasa-biasa yang baik, being nice, dalam hubungan interpersonal dengan siapa saja, di mana pun kakinya berpijak.

Setelah berpuluh tahun mengarungi suka duka kehidupan, apa yang dulu ia katakan itu benar seratus persen. Dewasa ini bukannya kemampuan teknis tidak lagi penting melainkan ketrampilan sosial seperti negosiasi, sigap menolong dan persuasi belum tergantikan oleh komputer. Inilah ketrampilan yang menjadi jiwa memicu jenjang karir. Lebih dari itu. Inilah jembatan emas yang membuat seseorang happy karena hubungan interpersonal yang manis itu akan mekar bermusim-musim.

Kekasih Allah itu telah kembali ke rumahnya. Yang mungkin dan harus kita lakukan adalah meneliti dan menghitung ulang karya-karyanya, menghormatinya dengan ilmu, merayakannya terus menerus dengan cinta, menjunjungnya dengan semangat tanpa henti untuk memelihara keindahan hidup sebagai metodologi yang dititipkan Tuhan, serta menghidupkan kembali kandungan perbuatan-perbuatannya itu di dalam berbagai modus imajinasi sosial sehari-hari.

(gnb:tmn aries: jkt:minggu:28.8.2016)