Boni Hasudungan dan Pesan Natal

Daerah

“Selamat Natal om Alfred. Semoga Damai Sejahtera menyertai om Sekeluarga. “Jangan pernah letih berbuat baik”.

Pesan Natal itu dikirim melalui pesan whatsapp (WA). Pesan itu satu dari sekian kabar baik di pesta Natal tahun 2020. Sebagai penerima, ada perasaan senang. Itu menambah suasana damai. Tidak hanya untuk pribadi, keluarga juga meresapinya.

Pesan itu dikirim oleh Boni Hasudungan. Ia Sekda Kabupaten Manggarai Timur. Tetapi pesan WA-nya bukan sebagai Sekda, tetapi sebagai pribadi yang ramah dan rendah hati. Kualitas pribadinya itu membuat ia mudah bergaul dengan siapa saja.

Tidak itu saja. Boni Hasudungan juga merupakan pribadi yang dikenal supel dan suka berbagi. Supel-nya terlihat dari cara ia bercerita atau berdiskusi dengan setiap orang dari berbagai lapis masyarakat. Boleh jadi benar bahwa cerdas itu baukan soal isi kepala, tetapi kualitas pergaulan.

Derajat manusia pun tidak dilihat dari apa yang ia jabat. Seorang manusia diukur dari apa yang bisa ia berikan untuk orang lain. Jabatan itu hanya status. Ketulusan membantu sesama adalah kualitas pribadi manusia.

Bukanlah sebuah kebetulan apabila Boni Hasudungan berbagai pesan Natal dengan menuliskan “jangan pernah letih berbuat baik”. Ia tentu tidak hanya menulis, tetapi ia juga berbuat. Ia tidak hanya membagi makna Natal, tetapi ia mengajak untuk tak letih berbuat baik.

Kualitas pribadi itu tidak hanya pada kata, tetapi juga pada tindakan. Jika keadilan yang diupayakan, maka keadilan itu mesti dimulai dari pikiran, lalu perbuatan. Keduanya mesti selaras. Kalau adil ada di pikiran, sementara perbuatan busuk, itu (bisa) dianggap sebagai korupsi. Kalau perbuatannya adil, sementara pikiran busuk, itu (bisa) disebut pencitraan atau intrik.

Boni Hasudungan jelas tidak sedang melakukan intrik, apalagi berbuat koruptif. Ia tidak berbohong kepada orang lain yang ia bantu. Kalau ia dibohongi oleh orang lain (yang pura-pura minta bantuan) mungkin saja sering ia alami. Tetapi itu tidak melemahkan niatnya untuk terus berbuat baik.

Ia juga bukan seorang politisi, yang biasanya gemar pada pencitraan dan intrik. Pak Boni membantu orang lain tak membawa embel-embel-nya sebagai pejabat. Ia bukan politician-bureaucrat yang mendompleng tenar pada program-program “Matim Seber”. Boni Hasudungan membantu atas nama pribadinya. Ia pun membantu dari kelebihan juga kekurangannya.

Selain berupa barang (salah satunya, kursi roda), uang pribadinya sering ia sumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Sumbangan dana diberikan karena ada kepercayaan bahwa sang penerima bisa menggunakannya dengan baik dan jujur. Semua itu sudah sering ia lakukan dengan tulus.

Setidaknya, sudah banyak orang yang merasakan kebaikan Pak Boni. Hanya sedikit yang terekspos. Hanya secuil yang tergiring angin. Mengutip Pierre De Laplace, “yang kita ketahui amatlah sedikit, yang tidak kita ketahui sunggulah banyak”. Biblisnya, apa yang diberikan tangan kanan, jangalah diketahui oleh tangan kiri”.

Tentu, tugas kemanusiaan dalam membantu sesama membutuhkan banyak tangan. Dalam situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, tugas-tugas kemanusian itu tampak lebih berat. Setiap orang mestinya terpanggil untuk saling berbuat baik, minimal bagi diri sendiri dan keluarga. Selebihnya, untuk orang lain dan orang asing.

Pesan Natal adalah pesan damai, pesan kebaikan. Pesan itu juga sebagai ajakan. Ajakan untuk “hadir” di tengah penderitaan orang lain. Melaui berbagai media telekomunikasi, pesan itu disebarkan untuk melahirkan tindakan. Itulah salah satu fungsi mahapenting media telekomunikasi.

Suatu Ketika, Alexander Graham Bell ingin menciptakan alat komunikasi dengan transmisi gelombang listrik. Untuk menyiapkan semua itu, ia mengajak temannya Thomas Watson. Ia menggunakan alat pengatur suara dan magnet untuk menghantar bunyi.

Bell berhasil dan memantenkan hasil penemuannya itu pada tanggal 7 Maret 1876 dengan nama “electric speakingtelephone”. Untuk pertama kalinya ia mengirim pesan padatemannya, “Watson, come here, i want you”, pada tanggal 10 Maret 1876.

Seperti itulah pretext pesan Natal yang terkirim melalui media telekomunikasi. “… come here, i want you”. Bahwa kita membutuhkan orang lain untuk terus berbagi kebaikan kepada setiap orang yang kekurangan dan membutuhkan bantuan.

Akhirnya, “jangan pernah letih berbuat baik”. Pesan Natal Pak Boni itu saya teruskan untuk kita semua. Semoga pesan itu tersampaikan. Kita sudah pernah berbuat baik, dan janganlah berhenti. Salam damai Natal untuk kita semua. Emanuel!

Alfred Tuname
Esais