“Bunga Pujaanku” 

Oleh: Rm.Edy Menori, Pr
Ketua Yayasan Pendidikan Sukma Pusat Keuskupam Ruteng

Sejak kutanam bunga ini berpuluh tahun silam, aku tak mengharapkan dia mekar, sebab keindahannya bukan karena dia mekar tetapi karena di dalam namanya sudah terkandung keindahan. 

Cukuplah disebut namanya maka engkau akan merasakan aroma keindahannya. 

Itulah sebabnya sedari awal aku setia merawatnya biar dia tetap hidup. 

Semula banyak yang memintaku untuk menyemat gelar penghargaan pada nama itu karena berjasa menyemburkan keharuman di seantero jagat. Ketika kutanya apa bentuk penghargaan yang diberikan dan apa tujuan pemberian gelar tersebut? 

Mereka menjawab karena jasanya mengajarkan keindahan maka pantas diberi gelar dan dengan penghargaan seperti itu sudah tentu media akan mempublikasikan sehingga wisatawan dari mancanegara berdatangan untuk menikmati keharuman aromanya. 

Dalam hati aku membayangkan sebuah nama yang telah menyejarah dan dikenal luas harus ditambah nama baru di depannya, apa tidak membingungkan banyak orang yang sudah  mengenal dan mencintai nama itu? 

Bukankah “Bunga” telah menjadi semacam ‘branding’ yang terkenal dan tidak butuh embel-embel yang ditambahkan di muka atau di belakang namanya untuk membuatnya terkenal? 

BACA JUGA:  Masyarakat Bari Membutuhkan Pembangunan, Sampaikan Suara Kami kepada Presiden

Menyusul pertanyaan berikut dalam benakku. Siapa yang berhak memberikan gelar? 

Siapa yang memperjuangkannya? 

Jangan sampai perubahan nama ini membuat nama mereka diorbitkan dan menjadi terkenal? Bisa jadi, nama bunga hilang tenarnya gara-gara perubahan ini. 

Yang paling saya takuti adalah keunikan keindahan bunga akan pudar setelah semua orang mau ikut merawatnya tanpa memahami dan menjaga kondisi tanah dan hawa yang  kondusif bagi tanaman ini untuk memancarkan keharuman khas penuh pesona. 

Ada yang membisikan kepadaku kalau perubahan ini sudah sesuai dengan regulasi internal tanaman yakni bertumbuh dan mekar. 

Saya jadi bingung sudah lama bunga ini di tanganku, aku rawat dan pelihara sampai menjadi besar dan terkenal. 

Apanya yang tidak bertumbuh dan mengapa pula kita memaksanya untuk mekar? Apa artinya mekar untuk sebuah bunga yang sudah matang dan mendunia karena keunikannya. Justru keunikannya yang mesti dipelihara dan dijauhkan dari tangan-tangan jahil yang menyembunyikan muslihat di balik  wacana yang tampak indah tetapi merusak identitas bunga yang telah berakar dan mendunia? 

BACA JUGA:  Serah Terima Jabatan Panglima TNI di Mabes TNI

Bukankah mengubah sesuatu yang sudah baku dan terkenal, menyebabkan yang mengubahnya  terkenal dan yang berkepentingan terhadap perubahan tersebut meraih keuntungan?  Bukankan perubahan itu memuat kepentingan untuk menghilangkan originalitas sebuah nama? 

Bagiku bicara tentang bunga bukan terutama urusan logika apalagi berkaitan dengan  kepentingan instan. Bagiku keindahan bunga   bersentuhan dengan nilai dan cita rasa nilai. Tentang nilai ini tidak ada orang yang bisa menjelaskan kepadaku bahwa pendirian mereka yang rational jauh lebih benar dari keyakinanku akan rasa damai yang telah terpatri di hatiku. 

Saya tidak marah kepada kalian yang berpikir rational dan kritis karena kalian didik untuk itu dan itu tuntutan ilmu yang kamu pelajari dan telah pula mendisain cara pikirmu. Itulah pula dampak dari sekolah yang mengabaikan pendidikan humaniora, penanaman nilai dan cita rasa ‘seni’ sehingga logikamu minus nilai rasa keindahan. Bunga yang pada hakekatnya memancarkan keindahan kalian ingin rationalkan agar bermanfaat dari segi ekonomi dan politik. 

BACA JUGA:  Terkait Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Desa Satar Punda; Ini Penjelasan Bupati Manggarai Timur

Pertanyaannya ekonomi siapa yang bakal meningkat? 

Siapa yang dapat keuntungan secara politik? 

Aku ini yang empunya bunga ‘enjoy’ di sini lalu kamu mau beri aku penghargaan demi kegembiraan dan kesejahteraanku. Apakah kesejahteraan yang kamu pikirkan jauh lebih berharga dari senyum kedamaian yang kurasakan selama ini? Aku lebih memilih hidup damai dalam kesederhanaan dari pada menjadi makmur di atas kemaksiatan. Aku mencintai bungaku, ingin kupelihara keunikan keharuman aromanya sampai mati.