Perempuan dan Skripsi

Catatan Akhir “Perempuan Sang Pejuang Skripsi”

Opini

Skripsi merupakan satu karya dalam bentuk tulisan, persyaratan administrasi penentu kelulusan bagi mahasiswa tingkat akhir pada sebuah perguruan tinggi. Walaupun hanya  dalam sebuah tulisan, namun ini merupakan representasi dari edukasi serta dedikasi seorang mahasiswa sejak  terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah universitas. Hingga bagaimana menemukan teman baru, mengikuti ospek, registrasi dan mengisi KRS  sampai pada mengikuti aktivitas perkuliahan.

Rasa beban dan tanggung jawab mulai muncul dalam diri, berawal dari tiada hari tanpa mengerjakan tugas. Pikiran berkontradiksi dengan pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa kuliah itu gampang. Entahlah …

Di kala itu aku memutuskan untuk meraih mimpiku dan mimpi besar keluargaku dan berjanji untuk berjuang. Ada begitu banyak tantangan dan pengalaman yang dipelajari sejak di sela keramaian kota, dari bagaimana hidup mandiri, makan seadanya, hidup super hemat, sampai baju kesukaan dan jajan favorit tidak diprioritaskan lagi mengingat print tugas kampus tiap hari.

Semua  derita manis itu puji Tuhan telah terlewatkan, bahkan hingga sampailah pada tahap di mana daya analisis, konsep dan gagasan serta kesabaran dan kedewasaan dalam berpikir dan mengambil keputusan dipadukan dengan tantangan serta hambatan. Semunya terakumulasi menjadi kekuatan besar menjadi fondasi dalam menghadapi tugas akhir ini.

Keraguan dan ketakutan seakan telah didesain sedemikian rupa hingga satu per satu datang dan tersistematis silih berganti merasuki nalarku. Namun aku berpikir bahwa sesungguhnya perasaan ragu dan takut yang timbul dari dalam diri, karena minimnya rasa optimis dan komitmen atas diri kita sendiri, sadar maupun tidak, ini menyebabkan karakter, daya analisis, kreativitas serta kemampuan kita hilang rasionalitasnya.

Bagaimana tidak! Sedangkan kita lebih dominan pesimis dari pada optimis atas sesuatu yang sudah lama  kita impikan. Lantas bagaimana teknik melawan rasa takut itu? Saya pikir sederhana, terus memulai! Bukan mencoba, karna mencoba akan berhenti di kala kita gagal. Memulai bukan hanya berdampak pada bagaimana hasilnya kelak, akan tetapi merupakan langkah awal dan landasan serta pintu untuk menemukan jalan.

Gagal, mulai lagi; gagal lagi, mulai lagi.

Tembok-tembok keraguan serta kerikil tajam sebagai penghambat langkah dan niat dengan sendirinya tersingkir oleh kucuran keringat di tubuh. Sebab, usaha dan tekad kita lebih besar dari pada percikan kelikir yang berserakan. Tanpa disadari, sampailah di mana satu tahapan awal telah dilalaui, pemula yang begitu menantang, namun atas tekad dan niat semuanya berjalan baik-baik saja.

Tersenyum itu pasti, terharu juga demikian, menyelimuti hati yang sedang risau dirasuki berbagai jawaban dan pertanyaan dari keluarga, teman, junior-junior.  Akan tetapi pertanyaan itu sengaja aku tunda dan tunda seakan tidak punya waktu untuk memberikan jawaban yang pasti.

Dalam diam di kala nalarku sedang kuistirahatkan, aku teringat sebuah pepatah, bukan pepatah kuno, bukan pula pepatah era orde lama, akan tetapi pepatah yang dipopulerkan kaum milenial yaitu,

“Proses dan hasil tidak saling menghianati”

Saat itu aku hanya bisa bernafas lega dan tersenyum.

Nalarku bangkit seakan mengajak hati untuk semakin optimis. Kaki sebagai tumpuan untuk terus berdiri tegak, tangan dan bola mata seakan menari menyambut niatku.

Kupejamkan mataku lalu menarik nafas, seolah-olah jiwa menghantarkan ragaku ke sebuah lembah dibawa puncak yang tinggi. Mata seakan tak berkedip sembari memandang jauh tanpa sadar hati dan mulutku terbuka,  jari jemariku ikut terkepal. Di bawah alam bawah sadarku, suara yang begitu keras kulantunkan di tengah kesunyian itu.

“Aku akan sampai puncakku”

Keringat dan air mata  ikut keluar berderai pada pipi dan tubuhku, seakan menyusuri suara lantangku.

Sesungguhnya di luar dugaanku kalau aku sudah sampai di sini.

Di titik di mana finish sudah bisa aku lihat namun masih belum bisa aku gapai hanya karena persoalan waktu. Dari situ aku tahu dan  sadar bahwa aku sedang dalam memperjuangkan tugas akhirku. “Skripsi”

Yohana Angelina Visti
Penulis adalah mahasiswa  Universitas Dwijendra Denpasar asal Manggarai Timur.

Catatan redaksi :   Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan redaksi SorotNTT.com