Upah Pekerja Tak dibayar , CV. Chavi Mitra Dilaporkan ke Disnakertrans Matim

Para pekerja melaporkan CV.Chavi Mitra ke Disnakertrans Kabupaten Manggarai Timur (Foto: Dodi Hendra)

Borong,Sorotntt.com – Direktur CV. Chavi Mitra, Vitus Yulius Nggajo, selaku kontraktor pengerjaan Lapisan Penetrasi (Lapen) di Desa Golo Paleng, Kecamatan Lamba Leda, dilaporkan ke Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Manggarai Timur. Ia dilaporkan oleh 33 orang pekerja proyek tersebut, lantaran upah mereka tak kunjung dibayar hingga saat ini.

Para pekerja menilai, Vitus sengaja menipu dengan mengumbar janji untuk melunasi upah mereka. Namun, dari sekian janji yang ia sampaikan, tak ada yang terealisasi. Padahal, pekerjaan telah diselesaikan tuntas sejak akhir Februari lalu.

BACA JUGA:  Pemda Matim dapat Penghargaan dari Kanreg X BKN Denpasar

“Janji demi janji dari pihak kontraktor. tapi tidak ada yang ditepati. Kami merasa itu sebagai cara meninabobokan pekerja.” ungkap Safrianus Sensi, salah seorang perwakilan pekerja, Jumat (8/4/2022).

Safrianus menceritakan , janji pertama dibayar pada 15 Februari, tidak tepati. Berikutnya dijanjikan bayar pada 26 Maret, namun yang dibayar hanya sebagian. Kemudian, janji terakhir dibayar 5 April 2022, namun tak kunjung terealisasi.

“Sehingga kami anggap kontraktor secara sadar dan sengaja tipu para pekerja. Maka kami bersepakat melaporkan kontraktor ke Disnakertrans Manggarai Timur.”pintanya.

Sementara itu, Kepala Disnakertrans Kabupaten Manggarai Timur, Fridus Jahang, melalui Kabid Ketenagakerjaan dan Industrial, Mikael Hamid, menjelaskan pihaknya akan menindaklanjuti pengaduan tersebut. menurutnya, hal itu merupakan hak para pekerja, sebab kewajiban mereka telah tuntas dilaksanakan.

BACA JUGA:  Koordinasi KPK dan Polda NTT Diharapkan Segera Membekuk PT. Yeti Dharmawan Dalam Kasus Galian C Ilegal di Ende

“Disnaketrans akan menyurati Direktur CV. Chavi Mitra untuk diminta klarifikasi, Selasa 12 April. Hasil klarifikasi itu akan diputuskan kapan mediasi antara pihak kontraktor dengan para pekerja,” tuturnya.

Lanjut Mikael, jumlah hari kerja dari 33 para pekerja Lapen tersebut bervariasi. Kontraktor baru membayar hanya Rp.15.000.000.

“Jumlah hari kerja ada yang 6 sampai 18 hari. Pihak kontraktor berikan upah kepada para pekerja pada 27 Maret 2022 sebesar Rp. 400.000 dan Rp.450.000 per pekerja. Kebijakan itu diambil agar para pekerja mendapat hak seadil-adilnya. Sedangkan sisa upah yang belum terbayar pihak kontraktor sebesar Rp. 8.610.000,00,” tutupnya.