Dari Tanah Gersang Kosong, Harekakae Jadi Pusat Ibadah

Daerah

Malaka, SorotNTT.com-Memasuki tahun 2021, pandemi Covid-19 belum juga reda. Meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 membuat pemerintah bergerak cepat mengeluarkan kebijakan agar virus tidak menyebar lebih luas lagi.

“Sedih karena awalnya bisa pergi ke mana-mana jadi terbatas. Kita jadi nggak bisa bebas bepergian seperti dulu lagi. Mungkin itu juga yang membuat banyak orang stres,” kata Zulfa Faizah, Head of Content Creator Insan Bumi Mandiri.

Hal yang sama juga terjadi di Desa Harakakae, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pandemi Covid-19 membuat warga harus menunda pembangunan masjid yang sudah direncanakan sejak akhir 2019 lalu.

Di Kabupaten Malaka khususnya di Kecamatan Malaka Tengah hanya terdapat 3 masjid yang biasa digunakan oleh warga. Desa Harekakae merupakan daerah yang tidak memiliki masjid, sehingga warga harus berjalan sejauh 4 kilometer untuk menuju masjid di desa lain. Alasan inilah yang membuat warga ingin sekali membangun masjid pertama di desa mereka.

“Selain jauh warga sepanjang jalan juga tak ada penerangan, Pak. Sangat gelap kalau malam, Makanya mereka lebih memilih sholat di rumah,” ujar relawan lapangan Insan Bumi Mandiri.

Warga Desa Harekakae yang sebagian besar berprofesi sebagai petani pun mulai mengumpulkan uang untuk patungan membangun masjid. Sayangnya karena keterbatasan biaya pembangunan menjadi terhenti.

Pada Juli 2019, Insan Bumi Mandiri dan kawan-kawan donatur mulai membantu proses pembangunan masjid pertama di Desa Harekakae. Sejak tahun 2019 hingga saat ini akses galang dana melalui website mereka masih dibuka untuk pembangunan masjid.

Berbagai kendala banyak dirasakan dalam proses pembangunan masjid. Tidak tersedianya listrik menyebabkan sumur bor yang dimiliki desa tidak berfungsi untuk menyediakan air. Warga pun berinisiatif untuk membeli air dengan harga yang cukup mahal yaitu Rp100.000/tangki.

Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Malaka juga menyebabkan runtuhnya dinding masjid. Musibah ini tidak menimbulkan korban jiwa, tapi proses pembangunan menjadi sedikit terhambat karena dinding yang sebelumnya telah berdiri harus dibangun ulang.

Kurang lebih selama satu tahun lebih, akhirnya pembangunan masjid ini hampir rampung dan akan dibangun gapura serta kubah mini. Masjid ini diberi nama Masjid Al-Bahr. Impian warga untuk memiliki masjid di desa tercinta akhirnya dapat terkabul. Kini warga tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk melaksanakan ibadah.

Hal senada juga disampaikan oleh Hayatul Fikri Aziz, Kepala Monitoring & Evaluating Insan Bumi Mandiri.

“Alhamdulillaah, senang sekali rasanya masjid di Desa Harekakae ini akhirnya bisa berdiri layak untuk masyarakat. Tidak hanya untuk salat berjamaah, pemuda desa pun juga sering bekumpul di sekitaran masjid untuk bertemu dan ngobrol bersama. Semoga masyarakat jadi makin taat beribadah dan masjid ini dapat selalu makmur ke depannya. Amiin,” tambah Fikri.

Kontributor: Wafiq Zuhakir
Editor: Jefri Dain