Dengar Suara Tenaga Medis

Daerah

Oleh: Alfred Tuname
Esais

Jika tak ada perbuatan besar, tak ada salahnya juga perbuatan kecil dihargai. Tak ada yang tak pantas dihargai dari setiap usaha para tenaga medis. Usahanya untuk menyelematkan nyawa manusia itulah yang membuat publik perlu mengapresiasi keahlian mereka.

Rekam jejak kerja medis tampak sejak rencana kelahiran manusia hingga manusia itu menghembuskan nafas terakhirnya. Sentuhan tangan dan perkakas medis pasti pernah dialami oleh setiap manusia masa kini. Tak satupun luput dari semua kerja dan profesionalitas tenaga medis.

Mereka yang menyangkal dari setiap kerja para tenaga medis adalah mereka yang tak pernah ada dalam rahim seorang ibu. Karena setiap orang, sejak terbentuk dalam setitik darah, pasti pernah bersentuhan dengan tangan-tangan tenaga medis.

Oleh karena itu, mendengarkan suara para tenaga medis sama artinya mendengarkan bisikan kehidupan. Dalam bisikan itu ada harapan akan kesembuhan, ada harapan akan lenyapnya penderitaan. Ujungnya, kebahagiaan dan umur panjang.

Ketika pemerintah tidak mendengarkan suara para tenaga medis, kebijakan dunia kesehatan justru akan memakan korban. Tidak hanya masyarakat, para dokter dan tenaga medis pun akan menjadi korban. Risikonya tidak main-main: kematian.

Persis di musim pandemi Covid-19 sekarang ini, sudah banyak dokter dan tenaga medis yang meninggal karena penguasa dan para elite politiknya lebih mementingkan ambisi dan lestari kekuasaaan. Pilkada tahun 2020 tetap saja diselenggarakan, meskipun ada suara meminta tunda. Banyak protocol kesehatan diabaikan demi keselamatan ekonomi dan politik.

Publik pun bisa melihat sendiri betapa lelahnya para tenaga medis dalam menangani pasien terpapar Covid-19. Sembari menanti para ahli menciptakan anti-virus Covid-19, para tenaga medis berusaha menyelamatkan pasien, dan menciptakan protocol-protocol Kesehatan untuk menghindari virus Covid-19.

Jelas, tugas mereka bukan hanya menyelamatkan masyarakat dari virus Covid-19. Masih ada pasien-pasien regular yang terus meminta perhatian dan penanganan. Para ibu hamil, anak-anak hingga para manula menanti di rumah sakit, puskesmas, pustu, klinik, dll.

Semua itu menambah berat tugas-tugas pelayanan kesehatan. Sebagai panggilan profesi, tenaga medis tak menyerah. Semuanya dijalani dengan senyum, meskipun kepenatan terus membebani pundak mereka.

Nah, alangkah celakanya kita, apabila di tengah hiruk pikuk tugas dan beban tanggung jawab pelayanan kesehatan, kita justru datang dengan arogansi menuntut kesempurnaan pelayanan. Bahkan dengan tanpa pengetahuan SOP (standard operation procedure) pelayanan medis, kita menuntut tenaga medis untuk mengindahkan kemauan kita. Saat itu sebenarnya kita sedang merugikan pasien dan proses pelayanan kesehatan.

Sebagai ilustrasi, seorang politisi datang mengantar pasien ke rumah sakit. Pasien itu adalah seorang warga dapilnya. Pasien itu mengalami luka parah akibat mabuk pesta dan terjatuh di selokan. Untuk mengambil hati keluarga pasien, ia mendesak agar pelayanan segera bertindak cepat.

Karena dia politisi, arogansi terlanjur muncul. Kalimat-kalimat kasar pun tak terhindarkan. Arogansi semakin menjadi-jadi manakala status politiknya tidak diketahui oleh tenaga medis. Celakanya, arogansinya itu sejalan dengan kedunguannya dalam memahami SOP pelayanan kesehatan menghadapi pasien cedera akibat mabuk.

Itu sekadar ilustrasi kecil. Mungkin tak ada di dunia nyata. Tetapi kalau ada, publik akan bisa paham tabiat politisi kita. Arogansi politik kadang terlalu kuat mengendalikan nasip pelayanan kesehatan kita. Pasien lain bisa saja dari korban kalau tenaga medis tegas melawan arogansi itu (status effect).

SOP dapat dimengerti sebagai etika dasar pelayanan kesehatan. Kesigapan dan empati pelayanan diikat oleh standar itu, bukan oleh status dan jabatan politik keluarga pasien. Dengan mengamati dan memeriksa, tenaga medis pasti paham mana pasien kritis, mana pasien sedang. Prioritas pelayanan pun diukur dari kedaruratan kondisi pasien.

Trust pada proses pelayanan kesehatan akan mempercepat proses penyembuhan pasien. Mari kita ikuti prosedur yang sudah biasa ditetapkan dalam dunia kesehatan. Tak usah berulah. Tak perlu bertingkah banyak, apa lagi cengeng. Apalagi cepat-cepat dilakukan proses hukum pada soal kecil. Ketersinggungan bahasa (semantics problem)dan perceptualdistorsion, misalnya.

Tentu memang pasti ada kekeliruan. Ada kecerobohan etis. Tetapi itu bisa dimengerti sebagai kebocoran beban dan kelelahan. Sehingga pikiran dan tubuh pun kadang gagal meredam emosi yang meletup-letup. Itu manusiawi. Erare humanum est. Toh mereka tetap setia pada pelayanan dan empati dalam merawat pada pasien.

Jadi, mendengarkan suara tenaga medis juga berarti menaruh perhatian pada nasib para tenaga medis. Bukan hanya fasilitas kesehatan dan alkes, tetapi upah yang pas bagi jasa mereka. Singkatnya, ada anggaran yang pantas untuk dunia kesehatan, bukan ancaman pangkas anggaran. Dengan begitu, apa yang kita harapkan sesuai dengan apa yang kita berikan.

Akhirnya, mari kita dukung tenaga medis kita. Ada petuah Latin, o medice, senate ipsum. Dokter, sembuhkanlah dirimu sendiri! Tenaga medis pasti fit. Hanya saja, dukungan kita akan tetap jadi “obat” yang memaksimalkan passion dan panggilan profesi medis. Itu salah satu cara menghargai pelayanan mereka, meskipun kecil. Salam sehat!