Dipanggil Menjadi Local Change Makers di NTT

Catatan Reflektif tentang Berbagai Peluang Beasiswa Bagi Generasi Muda Kita

Oleh: Siprianus Jemalur

Penerima Beasiswa LPDP 2015 dan Alumni Short Course Australia Awards Indonesia on Sustainable Tourism, Australia 2019. Inisiator sekaligus Ketua Perkumpulan ludung Weru.Saat ini bekerja sebagai Staf Ahli Ibu Julie Sutrisno Laiskodat,Anggota DPR RI Komisi IV, Dapil Manggarai Raya, Flores, NTT

Ratusan bahkan ribuan peluang beasiswa hampir selalu ada setiap tahun bagi generasi muda Indonesia termasuk generasi muda kita di wilayah NTT.Sebagian dari generasi muda kita telah memanfaatkan peluang tersebut, tetapi tak sedikitpun mengabaikan peluang itu dengan berbagai alasan seperti tidak mengetahui informasi, persyaratan yang relative susah dan sebagainya.Alhasil, berbagai peluang tersebut terpental dari kita dan dimanfaatkan oleh oleh generasi muda lain di di daerah lain di Indonesia.Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan tetapi sekaligus juga menjadi tantangan serius bagi kita tidak hanya pemerintah daerah tetapi juga stakeholder lain seperti lembaga pendidikan, lembaga keagamaan,NGO dan tentu masyarakat kita sendiri.Karena itu, pada tahun 2022 ini kiranya menjadi kesempatan baik bagi kita untuk mencoba memnafaatkan secara berbagai peluang beasiswa tersebut.

Beasiswa merupakan salah satu peluang terbaik untuk meningkatkan SDM generasi muda kita terutama mereka yang memiliki latar belakang akademik yang baik tetapi mengalami kesulitan finansial untuk melanjutkan pendidikan mereka.Generasi muda yang bermutu tentu diharapkan akan menjadi pelaku utama dalam mengembangkan potensi sumber daya alam kita yang melimpah baik dalam sector pertanian, perikanan, peternakan, pariwisata, lingkungan, dan potensi sumber daya alam lainnya.Selama ini, potensi sumber daya alam ini belum dikelola dengan baik karena kita masih keterbatasan sumber daya manusia yang bermutu.Hasilnya sangat jelas bahwa kita masih dicap sebagai daerah miskin dan terbelakang.Kondisi ini harus diperbaiki ke depan. Melalui berbagai peluang beasiswa yang ada, sangat diharapkan agar status kita sebagai daerah miskin dan tertinggal lekas hilang dan beralih menjadi masyarakat yang produktif, kreatif, inovatif dan sejahtera. Misi mulia seperti ini tentu berada pada pundak generasi muda.

Hampir dapat dipastikan bahwa pada tahun 2022 yang akan datang ini,tumpukan berbagai peluang beasiswa akan kembali dibuka untuk generasi muda kita NTT.Peluang beasiswa itu antara lain Australia Award Indonesia (AAI) yang disediakan oleh Pemerintah Australia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan RI, American Indonesia Exchange Foundation (Aminef), Stipendium Hungaricum Scholarship dari Pemerintah Hongaria dan provider beasiswa lainnya.

Secara umum, berbagai program beasiswa tersebut di atas dapat diklasifikasikan ke dalam dua bentuk utama yaitu beasiswa jangka panjang (long term) dan beasiswa jangka pendek (short term).Beasiswa jangka panjang adalah beasiswa regular untuk program magister (S2) dan program doctoral (S3). Beasiswa long term ini banyak disediakan oleh Aminef melalui program fullbright scholarships untuk studi S2 dan S3 di berbagai kampus di Amerika Serikat.Sama seperti Aminef, Australia Award Indonesia juga menyediakan program beasiswa magister dan doctoral untuk kuliah di berbagai kampus di Australia.

Berbeda dengan long term scholarship, beasiswa jangka pendek adalah beasiswa non gelar dan pada umumnya berupa kursus singkat (short course) terkait berbagai isu penting di Indonesia seperti hak asasi manusia, pariwisata, pertanian, pendidikan, demokrasi, lingkungan, perdagangan orang, kesetaraan gender dan sebagainya.Dua jenis beasiswa ini sejauh ini pada umumnya disediakan oleh Australia Awards Indonesia dan Aminef. Sebagai contoh, pada tahun 2019, Australia Award Indonesia menyediakan program short course dengan berbagai topic seperti Sustainble Tourism Development, Gender Mainstreaming in the Public Sector, Leadership for Senior Multi faith Women Leaders, Tackling Marine Poluution Issues Through Recycling dan sebagainya. Setiap tahun juga, Aminef menyediakan program short course melalui berbagai bentuk beasiswa seperti Community College Initiatives, Hubert Humphrey Fellowship, The Global Undergraduate Exchange Program dan sebagainya.
Selain beasiswa yang disediakan oleh AAI dan Aminef sebagaimana disebutkan di atas, dalam satu decade terakhir ini juga, Pemerintah Indonesia sangat serius menginvestasikan SDM warga negaranya melalui program, beasiswa yang dikenal dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan LPDP.Beasiswa ini ada dasarnya disiapkan oleh Pemerintah Indonesia untuk menciptakan SDM generasi muda yang berkualitas di masa depan di berbagai daerah di Indonesia.Beasiswa LPDP pada umumnya adalah beasiswa S2 dan S3 baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, LPDP juga menyiapkan berbagai kategori untuk mengakomodir berbagai kelas dan status social warga Indonesia seperti beasiswa afirmasi, beasiswa targeted (PNS, TNI/POLRI), beasiswa santri, beasiswa disabilitas, beasiswa prasejahtera dan sebagainya. Keragaman model beasiswa ini memungkinkan banyak peluang bagi seluruh warga Negara untuk melanjutkan pendidikan bermutu ke depan.

BACA JUGA:  Pengukuhan dan Pelantikan DPD Ikatan Alumni Lemhanas Provinsi NTT masa jabatan 2021-2026

Daerah Prioritas Beasiswa

Hingga saat ini, sebagian besar kabupaten di NTT masih masuk dalam kategori sebaga daerah tertinggal.Hal tersebut dikukuhkan melalui Peraturan Presiden No. 63 tahun 2020.Dalam Perpres tersebut, presiden menetapkan sebanyak 62 daerah atau kabupaten yang dikategorikan sebagai daerah tertinggal.Bila kita melihat secara detail, sebagian besar daerah tertinggal alam perpres tersebut sebagian besar berada di kawan Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, Papua Barat.

Konsisten dengan hal tersebut di atas, Lembaga Pengelola Pendidikan Indonesia (LPDP) juga telah menetapkan daerah 3T di berbagai daerah di Indonesia dan sebagian besar juga berada di wilayah Indonesia Timur termasuk NTT.Berdasarkan data LPDP tersebut, khusus untuk wilayah NTT, daerah yang tergolong daerah afirmasi adalah Ende, Flores Timur, Manggarai, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Sika, Timor Tengah Utara, Kota Kupang, Alor, Belu, Kupang, Lembata, Malaka, Manggarai Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur dan Timor Tengah Selatan.Berdasarkan data tersebut di atas, maka seluruh kabupaten/kota di NTT masih masuk dalam kategori daerah afirmasi.

Status kita sebagai daerah tertinggal atau daerah afirmasi di satu sisi memang sangat menyedihkan, tetapi di sisi lain status tersebut membuka peluang baru bagi kita melalui berbagai program beasiswa yang ada.Sejauh ini, setidaknya ada dua program beasiswa yang secara khusus memberikan perhatian serius dalam meningkatkan SDM generasi muda di daerah-daerah afirmasi yaitu Australia Awards Indonesia dan LPDP.Kebijakan prioritas yang dimaksudkan adalah kemudahan persyaratan administrasi untuk melamar beasiswa diantaranya adalah soal Indeks Prestasi Kumulatif, skore TOEFL atau ILETS.Berkaitan dengan skore Toefl, Australia Award Indonesia juga telah menyediakan program peningkatan bahasa inggris melalui program English Language Training Assistance (ELTA) di NTT dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Program ini telah memungkinkan puluhan bahkan ratusan generasi muda dari NTT mengenyam pendidikan magister dan doctoral di berbagai kampus di Australia hingga saat ini.

Selain beasiswa Australia Awards Indonesia, salah satu lembaga beasiswa yang memberikan perhatian serius terhadap generasi muda dari daerah afirmasi adalah beasiswa LPDP.Sebagai daerah afirmasi, LPDP menyediakan persyaratan yang lebih mudah dibandingkan dengan beasiswa regular ataupun jenis beasiswa lainnya seperti beasiswa perguruan tinggi dunia dan sebagainya.Diantara persyaratan tersebut, adalah persyaratan Indeks prestasi kumulatif, TOEFL, dan Usia.Untuk mendaftar beasiswa LPDP dari daerah afirmasi, indeks Prestasi Kumulatif S1 minimal 2,5 skala 4, sedangkan untuk program doctoral adalah minimal 3,0 skala 4. Dari segi usia, untuk program magister usia maksimal pada saat mendaftar adalah 42 tahun sedangkan program doctoral minimal berusia 47 tahun.Dalam konteks persyaratan TOEFL, minimal skor toefl untuk program S2 dalam negeri adalah 400 dan S2 luar negeri adalah 500. Sedangkan untuk program doctoral dalam negeri, syarat toefl minimal adalah 450 dan untuk program doctoral luar negeri minimal 500 (Booklet Beasiswa Afirmasi LPDP 2021).

Manfaatkan Peluang Secara Maksimal

Peluang emas ini sudah tersedia di depan mata kita.Tugas kita sebagai generasi muda NTT tidak lain adalah memanfaatkannya semaksimal mungkin dalam rangka meningkatkan komptensi diri, skill dan jaringan sehingga pada gilirannya menjadi pribadi yang bermutu untuk terlibat dalam pembangunan komunitas dan masyarakat di NTT.Untuk mencapai mimpi seperti itu,maka generasi muda kita harus memiliki niat yang tinggi untuk mengubah diri dan masyarakat(local change makers).Sejauh ini mental menjadi petarung perubahan diri dan social kita terutama generasi muda kita tampaknya masih sangat lemah dan hasilnya tentu dapat kita rasakan yaitu kita tetap menjadi daerah dengan kualitas SDM terendah dibandingkan dengan daerah—daerah lain di Indonesia.

Bahwa untuk mendapatkan beasiswa ini tentu buknlah hal yang mudah tetapi tidak juga berarti bahwa sulit untuk mendapatkannya.Karena itu, mental atau daya juang menjadi hal yang sangat penting.Hal konkrit yang perlu dilakukan tentu pertama-tama adalah melengkapi semua persyaratan administrative yang dibutuhkan seperti KTP,Ijazah dan transkrip nilai, sertifikat toefl/IELTS dan persyaratan administrative lainnya.Selain itu, kita juga mempersiapkan diri untuk mengikuti berbagai tahapan seleksi selanjutnya baik seleksi potensi akademik maupun wawancara.Berbagai tahapan proses seleksi ini tentu dengan mudah dilakukan apabila ada semnagat dan dorongan yang kuat dalam diri kita untuk mewujudkannya.

BACA JUGA:  Laporkan Advokat yang Mengarahkan Masyarakat Miskin Menggunakan Kop Pribadi Sebab LBH Surya NTT Murni Gratis

Dalam catatan saya, salah satu kendala yang umumnya dihadapi oleh generasi muda kita untuk melamar dan mendaaptkan berbagai program beasiswa ini adalah sertifikat toefl/IELTS.Pokok soalnya bukan pada kemampuan bahasa inggris generasi muda kita tetapi akses pada lembaga tes toefl atau ielts itu sendiri yang pada umumnya berada di kota-kota besar yang relative sulit untuk diakses apalagi dari keluarga yang kesulitan secara finansial.Hal inilah yang menyebabkan berbagai peluang beasiswa untuk kita selama ini hilang begitu saja.Kondisi ini sesungguhnya dapat diatasi jika berbagai stakeholder strategis kita di NTT baik pemerintah daerah, lembaga perguruan tinggi, LSM/NGO.Hal konkrit yang bisa dilakukan misalnya adalah dengan memfasilitasi lembaga atau provider test Toefl/ILETS ke berbagai kabupaten atau daerah di NTT sehingga anak-anak muda kita dengan mudah mengikuti tes tersebut. Sejauh ini, saya belum melihat inisiatif seperti belum pernah dilakukan. Padahal, bila inisiatif seperti ini kita lakukan selama ini,tentu ratusan generasi muda yang berhasil mengenyam pendidikan bernutu di berbagai kampus di Indonesia bahkan di negara-negara maju baik di Asia, Eropa maupun Amerika Serikat.

Dalam kegelisahan soal akses provider toefl/ilets di atas, kita patut bersyukur dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini terutama jaringan telemonukasi.Kemajuan teknologi telah menciutkan ruang dan waktu termasuk dalam akses tes toefl yang disebutkan di atas. Meskipun jaringan internet yang baik belum merata di berbagai pelosok desa di NTT,tetapi pada umumnya jaringan ini relative sangat baik di berbagai kota kabupaten di NTT.Dengan demikian,generasi muda kita tidak membutuhkan waktu yang lama dan biaya tes toefl yang terlalu tinggi.Hingga saat ini, lembaga-lembaga tes toefl online sudah sangat banyak dan kita dapat mengaksesnya dengan mudah melalui mobile handphone yang kita miliki.

Urgensi Kerja Sama Multi Pihak

Upaya meningkatkan sumber daya manusia tentu bukan saja merupakan tanggung jawab pemerintah tetapi juga tanggung jawab semua elemen masyarakat termasuk lembaga-lembaga non pemerintah seperti lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha dan sebagainya.Cara pandang seperti ini barangkali ditentang oleh sebagian besar kita tetapi hemat saya, dalam konteks social kemasyakatan yang masih tertinggal seperti NTT,cara pandang seperti ini mau tidak mau harus menjadi acuan. Bahwa secara konstitusional, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat termasuk kualitas SDM masyarakat. Namun demikian, pemerintah daerah juga tentu memiliki keterbatasan baik dari segi SDM itu sendiri juga soal finansial.Keterbatasan seperti itu menyebabkan berbagai program pembangunan termasuk peniongkatan SDM generasi muda kita belum maksimal. Dalam situasi seperti itu, peran serta dari pihak di luar pemerintah menjadi sangat dibutuhkan.

Dalam konteks local NTT, lembaga-lembaga keagaman, komunitas pendidikan, pemerhati pendidikan, lembaga swasdaya masyarakat, perusaha-perusahan baik pemerintah maupun swasta memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan kualitas SDM generasi muda kita melalui berbagai bentuk dukungan baik pelatihan atau training maupun penyediaan beasiswa bagi generasi muda yang potensial.Dengan tidak mengabaikan kontribusi lembaga-lembaga lain, lembaga-lembaga berbasis keagamaan baik Katolik, protestan dan Islam memiliki peran yang sangat besar.

Harus diakui bahwa lembagalembaga keagamaan di NTT memiliki kontribusi yang sangat signifikan dalam memajukan pendidikan khususnya melalui adalah penyediaan lembagalembaga pendidikan formal baik di tingkat dasar maupun lembaga pendidikan tinggi. Namun demikian, dalam konteks NTT yang masih tertinggal, peran seperti ini kiranya perlu diperluas sehingga muncul generasi-generasi muda NTT yang makin handal ke depan.Hal konkrit yang dapat dilakukan tentu adalah memfasilitasi anak-anak muda potensial yang mereka miliki untuk melanjutkan pendidikan mereka melalui berbagai program beasiswa yang ditawarkan oleh berbagai pihak baik Australia Award Indonesia, Aminef maupun Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) baik untuk kuliah di dalam maupun luar negeri.

Pada saat yang sama, pemerintah daerah baik pemerintah Propinsi NTT maupun pemerintah daerah/kota di NTT dapat melakukan hal yang sama. Pada titik ini, tugas dan tanggung jawab konstitusional pemerintah daerah dalam rangka meningkat SDM warga masyarakat terutama generasi muda kita menjadi sangat penting untuk dilakukan.Hemat saya, pemerintah daerah memiliki posisi yang sangat strategis untuk melakukan ini karena sudah memiliki perangkat teknis yang sudah tersedia khususnya melalui dinas pendidikan dan pemuda baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota di seluruh NTT.Selain perangkat teknis, pemerintah daerah juga sudah memiliki anggaran yang relative baik untuk mengeksekusi program seperti ini.

BACA JUGA:  Camat Pacar Lantik Martinus Jebarus Sebagai Penjabat Kedes Pacar

Hemat saya, ada dua keuntungan besar yang dapat dicapai oleh pemerintah daerah bila inisiatif seperti ini dilakukan.Pertama, secara internal (birokrasi) pemerintah daerah akan mendapatkan mendapatkan sumber daya manusia yang bermutu untuk mendukung berbagai program pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah ke depan dalam berbagai sector baik di sector pendidikan, pertanian, kelautan, pariwisata, lingkungan dan sebagainya.Melalui upaya investasi SDM aparatur sipil negara di berbagai dinas terkait, pemerintah daerah kelak akan mendapatkan SDM yang lebih baik, kreatif dan inovatif. Kedua, pemerintah daerah juga tidak perlu menggunakan anggaran daerah untuk membiayai pendidikan para aparatur sipil Negara karena seluruh biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh berbagai provider beasiswa baik untuk pendidikan magister maupun doctoral di dalam maupun luar negeri.Jika peluang seperti ini dimanfaatkan secara maksimal, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan segera memiliki SDM yang bermutu untuk menjalankan berbagai program yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah ke depan.

Segera Dimulai

Pada tahun 2022 ini, berbagai peluang beasiswa yang telah dideskripsikan pada awal tulisan ini akan segera dibuka dan sudah seharusnya dimanfaatkan oleh generasi muda kita di berbagai daerah di NTT.Pemanfaatan peluang beasiswa ini tentu mengandaikan sipirit yang tinggi dari generasi muda kita dan pada saat yang bersamaan berbagai pihak terkait lainnya seperti pemerintah daerah, lembaga keagamaan, LSM, perguruan tinggi dan pihak terkait lainnya turut ambil bagian di dalamnya.

Bertitik tolak dari kegelisahan soal besarnya berbagai peluang beasiswa tersebut, pada tahun 2021,sebuah komunitas kecil (Ludung Weru) DI Labuan Bajo mulai melakukan inisiatif kecil dengan menghimpun beberapa anak muda yang telah lulus S1 dan ingin melanjutkan beasiswa S2 melalui beasiswa terutama beasiswa LPDP.Sebagaimana dideskripsikan sebelumnya bahwa salah satu persyaratan untuk mendapatkan beasiswa LPDP adalah sertifikat Toefl/ILETS.Sebagian besar anak—anak muda tersebut belum memiliki sertifikat TOEFL dan sebagian besar dari mereka belum pernah mengikuti tes toefl. Karena itu, tidak ada pilihan lain selain memenuhi berbagai persyaratan tersebut termasuk sertifikat Toefl.

Berbekal semangat yang tinggi, anak-anak muda tersebut mengikuti kursus persiapan toefl baik dengan tatap muka maupun belajar secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber berbasis internet.Setelah melalui perjuangan yang cukup meelahkan, sebagian besar anak-anak muda ini dapat mengikuti tes TOEFL online dan berhasil mendapatkan skore TOEFL di atas 400 dan sudah cukup untuk mendaftar beasiswa S2 LPDP dalam negeri. Dari beberapa anak muda yang mengikuiti seleksi LPDP ini,ada yang lolos dan sebagian belum lolos seleksi dan masih memiliki kesempatan untuk kembali melamar beasiswa LPDP tahun 2022 ini.

Inisiatif kecil seperti ini kiranya perlu diperluas di berbagai komunitas di berbagai daerah kabupaten di NTT sehingga semakin banyak generasi muda kita yang dapat melamar dan mendapatkan berbagai peluang beasiswa untuk kita ke depan.Inisiatif seperti ini tentu dapat dilakukan oleh berbagai pihak seperti pemerintah daerah, lembaga keagamaan, LSM, perguruan tinggi dan komunitas lainnya.

Akhirnya, kiranya perlu ditegaskan bahwa sumber daya manusia yang bermutu tidak pernah lahir dari ruang kosong tetapi harus diperjuangkan secara terencana baik oleh pemerintah maupun masyarakat itu sendiri.Kerja sama yang sinergis dari berbagai pihak ini memungkinkan lahirnya generasi muda NTT yang semakin bermutu ke depan untuk mengembangkan dan mengelola berbagai potensi sumber daya alam yang kita miliki. Sumber daya alam yang melimpah jika dikelola oleh warga local yang bermutu pasti akan mendapatkan hasil yang maksimal untuk kesejahteraan seluruh warga NTT kelak. Jika hal itu terjadi, maka status social kultural yang sudah melakat pada kita sebagai daerah tertinggal akan segera hilang dan diganti sebagai daerah yang maju, kreatif, produktif dan unggul sebagaimana daerah lain di Indonesia bahkan lebih dari daerah-daerah tersebut***.