Dokter di Puskesmas Labuan Bajo Halangi Tugas Jurnalis, Kapus:”Kami Minta Maaf”.

Daerah

Labuan Bajo, Sorotntt.com-
Vincensius Paul, S.Kep selaku kepala UPTD Puskesmas Labuan Bajo menyampaikan bahwa secara pribadi, kapasitas sebagai pimpinan, dan mewakili seluruh staf Ia menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu.

Hal tersebut disampaikannya saat ditemui pada Kamis (4/11/2021) sekitar pukul 10.18 di ruang kerjanya.

“saya harus menyampaikan apresiasi dan selanjutnya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan media, tentu tugas kita tujuannya sama yaitu untuk membuka cakrawala kepada masyarakat, di satu sisi tugas atau profesi kita berbeda-beda, tetapi dari hati yang paling dalam saya selaku pimpinan menyampaikan permohonan maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan” , Ungkap Vincent

Lebih lanjut Vincent menuturkan bahwa secara pribadi juga saya sudah menyampaikan permohonan maaf kepada adik saya Andi dalam hal ini wartawan atau Pimred dari Media TransTV45.com, dan tentu Pa Andi tidak sendirian begitu juga dengan saya tentu tidak sendiri, yang dimana pekerjaan kita ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tutur vincent

“Teman media jelas membutuhkan informasi dari kami dan sebaliknya kami juga membutuhkan teman media untuk mempublikasikan semua informasi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan ataupun pelayanan di luar itu”, Tandasnya

Sementara itu terkait dengan kejadian kemarin itu kata Vincent bahwa saat kejadian hari selasa itu Ia tidak ada di tempat karena saat itu dirinya sedang berada di kantor Dinas kesehatan.

“Saya tidak ada di lokasi saat itu Pak karena ada rapat dengan Kepala Dinas Kesehatan terkait dengan strategi penanganan DBD. Terus terang fokus saya saat ini sedang berperang melawan DBD dan sebagai pimpinan tentu saya harus mengayomi semua staf. Dan kondisi kemarin itu ya sebenarnya kalau bisa disimpulkan itu hanya mispersepsi”, Ungkap Vincent

BACA JUGA:  PJCI Mendukung Provinsi Nusa Tenggara Timur Untuk Mewujudkan Koridor Listrik NTT-Jawa 

Pada prinsipnya lanjut Vincent bahwa rekan-rekan media itu sering datang ke puskesmas dan kita tidak pernah melarang, hanya mungkin staf saya tidak mengenal rekan media, atau mungkin karena kerjanya teman-teman di puskesmas ini fokus di penanganan covid, penanganan DBD, terus fokus vaksinasi lagi, lalu mana lagi kegiatan ivent terbesar ini yang melibatkan pihak Puskesmas saya tentu tentu tensinya dari aspek beban tugasnya sebagai manusia tentu punya kelelahan. Lalu menimbulkan kepanikan atau segala macamnya dan pada prinsipnya bagi teman-teman media saya selaku kepala Puskesmas sangat membuka ruang untuk datang meliput atau apapun pekerjaan sebagai jurnalis dan tentu kita semua di atur oleh ruang gerak kita masing-masing, secara media ada aturanya, begitu juga kami sebagai tenaga kesehatan dalam memberi pelayanan tentu ada aturan lalu masing-masing kita punya kode etik. Kita semua sama-sama perlu menjaga itu kode etik. Tuturnya

“Jadi kesimpulan saya dengan kondisi yang terjadi kemarin itu, kita memang ada kesalahan sedikit, ada kesalahan komunikasi dan sebenarnya tidak ada niat dari rekan-rekan atau staf saya untuk tidak meliput atau apapun berkaitan dengan kegiatan jurnalis”, Ungkpanya

Ditanya terkait adanya peristiwa perkelahian antara petugas Puskesmas saat itu, Ia menjelaskan bahwa peristiwa yang terjadi saat itu sebenarnya bukan perkelahian dimana saat itu staf Puskesmas ini adu argumentasi yang berkaitan dengan tugas dan tanggun jawab mereka masing-masing, jadi hanya untuk meluruskan dan tentu tujuan dari tugas mereka ini untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat selama 24 jam.

Teman-teman kita ini kan berharap agar semua kendaraan kita itu harus bekerja setiap malam, jadi diskusinya itu disana (Halaman Puskesmas,red) dan terjadilah adu argumentasi dan tidak ada itu peristiwa sampai adu fisik.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi: “Manajemen dan Distribusi Bahan Pokok Tidak Boleh Terganggu”

Sedangkan terkait langkah yang diambil oleh Pa Andi itu merupakan kewenangannya dan tentu kita ikuti saja. Tetapi secara pribadi dan kapasitas saya sebagai kepala Puskesmas saya harus menyampaikan permohonan maaf kepada media jika ada hanya mis komunikasi atau mis persepsi, dan sebenarnya tujuan kita itu sama lalu hal itu tidak mungkin akan terjadi kalau kita saling mengenal. Itu saja sebenarnya. Tandas Vincent

Langkah hukum yang di ambil oleh Andi untuk proseskan persoalan ini ke pihak berwajib, Vincent menanggapinya bahwa sebelumnya Ia sudah panggil semua teman-teman saya lalu secara internal kita sudah melakukanya. Kita panggil semuanya baik pak dokter, teman-teman yang adu argument itu kita panggil dan sebenarnya menurut mereka kejadian ini hanya karena ada kesalahpahaman atau miskomunikasi saja atau mungkin karena mereka tidak mengenal pak Andi, jadi kira ini mereka jadi marah. Jelas Kapus Vincent

Tetapi itu mungkin saja kata Vincent bahwa bisa saja karena tensi pekerjaan teman-teman termasuk dokter saya apalagi brliau (Dokter,red) ini kurang tidur, jadi mereka pulang lalu siangnya kembali lagi untuk melanjutkan dinas pagi, siang atau malam, belum lagi kegiatan vaksinasi keliling. Jadi mungkin secara manusiawi tentu mereka punya rasa keletihan. Kita baru saja bertarung dengan covid-19 lalu sekarang berhadapan dengan penanganan DBD. Ujarnya

Lebih lanjut Kapus Vincent menuturkan bahwa sebelumnya saya pernah komunikasi dan menyampaikan permohonan maaf kepada Pak Andi terkait adanya komunikasi staf saya yang sudah melakukan hal yang keliru. Lalu terkait langkah-langkah selanjutnya yang Pa Andi buat itu saya selaku kepala Puskesmas tentu tidak bisa membendungnya karena itu kewenangan beliau tetapi saya secara pribadi mewakili Pak Dokter dan teman-teman staf lainya dari awal saya sampaikan tentu sebagai manusia dalam menjalankan tugas, beban pekerjaan itu ya pasti ada kepanikan. Mungkin ditengah kepanikan itu muncul hal yang tidak kita inginkan, saya hanya berharap Pa Andi maupun kami di puskesmas kita perlu jalin silaturahmi termasuk teman-teman media lainya. Tutupnya

BACA JUGA:  NasDem Bagi Beras Ke KK Miskin di Sumba Timur

Diberitakan media Sorotntt.com sebelumnya bahwa Peristiwa yang dialami wartawan TransTV45.com ini berujung pada laporan polisi, yang dimana terlapor (Oknum Dokter. red) harus berurusan dengan pihak berwajib.

Atas kejadian tersebut, Alfonsius Andi telah melaporkan kejadian ini ke Polres Manggarai Barat pada, Rabu (3/11/2021) dengan Surat tanda terima laporan Polisi dengan Nomor: STTLP/180/XI/2021/NTT/Res Mabar.

Untuk diketahui, kerja wartawan itu jelas dilindungi oleh UU Pers No. 40 tahun 1999. Pasal 18 Ayat (1) yang menyebutkan, bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah.

Pedi