Dukung atau Tolak Tambang Bukan Ukuran Integritas

Nasional Opini

Oleh: Primus Dorimulu

(1) Ukuran Integritas

Mendukung atau menolak tambang bukan ukuran integritas.

Mendukung dan menolak tambang adalah ekspresi pengetahuan dan pengalaman.

Dosa terjadi jika ada penipuan, ketidakadilan, pemerasan, dan sebagainya.

Orang dinilai tak punya integritas jika dia menipu, mencuri atau mengambil hak orang lain, tidak bertanggung jawab, tidak tulus, ada niat untuk mencelakakan orang lain, tidak punya respek kepada sesama, tak punya solidaritas, tak tahu sopan-santun, dan tidak tahu membalas jasa.

Seseorang dinilai tak punya integritas jika dia bekerja dan berbicara karena dibayar oleh perusahaan tercela dengan tujuan menyebarkan hoax demi kepentingan perusahaan. Misalnya perusahaan ingin merampas tanah rakyat dengan menyuap pejabat dan seseorang diminta untuk melakukan propaganda.

Tapi, kalau dulu tolak tambang kini dukung tambang, apanya yang salah?

Apa bedanya dengan dulu menolak pariwisata kini dukung pariwisata, dulu tolak pertanian kini dukung pertanian.

Apakah pertambangan adalah kegiatan tercela?
Bahwa penambangan merusak lingkungan, ya. Karena menambang adalah merobek perubahan tanah hingga kedalam tertentu.

Tapi, dengan regulasi yang ketat, kerusakan alam bisa diminimalkan. Wilayah pasca tambang bisa diolah untuk waduk sebagai penyedia air baku, properti, dan objek wisata. Ini yang terjadi di Sangatta, Kaltim, Bangka-Belitung, dan di berbagai belahan bumi.

(2) Menanggung Konsekuensi Pilihan Adalah Sikap yang Berintegritas

Setiap pilihan selalu ada konsekuensi yang harus ditanggung dan sikap menanggung konsekuensi dari sebuah pilihan adalah sikap terpuji dan berintegritas.

Semua media di bawah Beritasatu Media Holdings (Beritasatu TV, Beritasatu.com, Investor.id, Investor Daily, Suara Pembaruan, dan Majalah Investor) selalu membuat berita dan opini menolak rokok.

Sikap ini merupakan ungkapan dari sebuah keyakinan bahwa “Tobacco is one step to drug”. Karena kami menolak narkotika, kami menolak rokok. Karena rokok mempunyai sifat adiktif. Umumnya pemakai narkoba adalah perokok.

Media kami serius ikut mempersiapkan generasi emas, generasi unggul pada masa akan datang. Generasi emas ini hanya bisa terwujud jika tidak mengonsumsi narkoba.

Sebagai konsekuensi dari pilihan menolak rokok, kami pun menolak semua iklan rokok dan sponsor dari perusahaan rokok.

Salah satu pengiklan terbesar di media massa adalah perusahaan rokok. Perusahaan rokok juga menjadi sponsor utama berbagai kegiatan olahraga.

Ini adalah konsekuensi moral dari sebuah pilihan yang sulit.

Rokok adalah masalah dilematis. Di satu pihak, rokok –dari kebun tembakau, pabrik, hingga kios– membuka lapangan pekerjaan. Cukai rokok sudah di atas Rp 200 triliun. Perusahaan rokok membawa atlet olahraga bulutangkis Indonesia ke level dunia, acap menjadi juara. Dan banyak lagi.

Di lain pihak, rokok merusak kesehatan dan sifat adiktifnya membawa orang ke produk adiktif lainnya, yakni narkotika.

Tapi, hidup harus memilih. Kami memilih menolak rokok. Selain alasan yang sudah dikemukakan, peran rokok bisa digantikan.

Manusia bisa hidup tanpa rokok. Orang tidak mati jika tidak merokok. Kebun tembakau bisa digantikan dengan tanaman lain. Pabrik rokok bisa diubah menjadi pabrik lain.

Tambang adalah sesuatu yang beda. Manusia modern tak bisa hidup tanpa tambang. Apalagi dunia sudah memasuki industry 4.0 yang ditandai oleh IOTs, “internet of things”, segala aktivitas serba internet.

Dari pagi hingga pagi lagi, produk tambang kita butuhkan. Listrik yang tetap menyala, kulkas yang tetap menyala, dsb, semuanya produk tambang.

HP yang sedang kita gunakan untuk mengetik adalah produk tambang. Rumah yang kita tinggal, mulai dari fondasi hingga atap ada produk tambang.

Galian C ada di setiap kabupaten di Flores. Ada sebagian bukit kecil yang hilang. Ini adalah sebuah keniscayaan. Tanpa itu, tidak akan ada pembangunan rumah dan infrastruktur.

Tinggal tugas pemerintah untuk meminimalkan kerusakan galian C. Tapi, yang pasti, galian pasir itu tak bisa dihentikan.

Menolak tambang harus juga menolak mengonsumsi produknya sebagai pilihan moral. Tidak etis kita mengonsumsi barangnya secara rutin dan di saat yang sama kita menolak produksinya.

Dengan dasar pemikiran ini, kami tidak bisa menolak tambang karena sehari-hari kami mengonsumsi barang tambang. Ini adalah sebuah pilihan etis. Ini adalah sikap yang berintegritas.

(3) Berubah Bukan Dosa

Saya pernah berbicara di sebuah seminar tahun 2013 tentang leading sector di NTT. Lihat link berita berjudul “NTT Lebih Cocok Untuk Pertanian Ketimbang Pertambangan” – https://www.beritasatu.com/nasional/92620-ntt-lebih-cocok-untuk-pertanian-ketimbang-pertambangan

Kemudian, dalam perjalanan hidup, sesuai pengalaman dan pengetahuan, saya tak lagi pasang harga mati menolak tambang. Apakah salah perubahan ini?

Saya bersalah, kalau dulu saya tidak menipu, sekarang saya menipu.

Saya tak berintegritas jika dulu saya tak pernah merampas hak orang, kini saya melakukannya. Dan seterusnya.

Saya bersalah jika saya bekerja untuk perusahaan tambang tercela yang menipu rakyat dan merampas has rakyat.

(3) Pariwisata Tetap Leading Sector

Untuk NTT, pariwisata tetap leading sector. Pariwisata perlu dibangun untuk menarik dan mendongkrak berbagai sektor usaha lain.
Demikian juga untuk Flores.

(4) Kenapa Boleh Tambang?

Penambang, boleh saja dilakukan di Flores sejauh itu dilakukan terbatas dan memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan pemerintah. UU dan peraturan di bidang lingkungan, pertambangan dan migas, dan sebagainya wajib diindahkan.

Setiap tahapan wajib diikuti oleh perusahaan. Pemerintah sebagai regulator dan pengawas wajib menegakkan UU dan peraturan yang ada.

Pertambangan bukan leading sector. Karena itu, penambangan tidak boleh masif, melainkan dilakukan sangat terbatas dan terukur. Jika memang ada barang tambang serta migas dalam jumlah signifikan dan kerusakan lingkungan bisa dikendalikan, penambangan boleh dilakukan.

Tidak boleh ada penambangan ugal-ugalan. Regulasi dan penegakan hukum harus ketat.

Jika ada sumber migas di Flores, penambangan tidak masalah. Karena sumur migas tidak membutuhkan lahan yang luas.

Penambangan migas adalah penambangan bawah tanah dengan luas permukaan terbatas. Paling-paling lahan yang dibutuhkan kurang dari 5 ha.

Saya pernah ke Mios, Bordeaux, Perancis, Desember 2019, melihat langsung ladang minyak Maret& Prom, yang mayoritas sahamnya memiliki Pertamina. Lapangan pengeboran minyak ini ada di tengah-tengah perkebunan eucalyptus. Luas lahan ladang minyak ini kurang dari 4 ha. Dampak lingkungan bisa dijaga dengan baik.

Tentang ladang minyak Pertamina di Perancis, silakan baca link ini.
“Maurel & Prom Permudah Ekspansi Pertamina di LN”- https://www.beritasatu.com/ekonomi/591961-maurel-prom-permudah-ekspansi-pertamina-di-ln

Semen juga bukanlah penambangan yang membutuhkan lahan luas seperti batubara yang mencapai puluhan ribu hektare. Penambangan semen umumnya hanya di permukaan, 20-30 meter dan luas lahan yang dibutuhkan kurang dari 1.000 ha.

Di Bogor ada dua pabrik semen. Tapi, isu kerusakan lingkungan di kawasan ini bukan tentang semen, melainkan tentang hotel dan vila yang terlalu banyak di Puncak dan umumnya tidak dibangun dengan AMDAL yang benar.

Pernah masyarakat Cibinong tahun 1980-an terganggu dengan debu pabrik semen. Tapi, dengan kemajuan teknologi, debu semen bisa diatasi.

(5) Apakah Penambangan Bertentangan dengan Pariwisata Sebagai Leading Sector?

Bertentangan dengan pariwisata jika separuh Flores ada kegiatan penambangan.

Bertentangan enambangan menimbulkan kerusakan ekologis serius, sehingga menghilangkan panorama yang indah untuk pariwisata.

Bertentangan dengan pariwisata jika penambangan dilakukan:
a. Di sepanjang jalan Trans-Flores.
b. Di lokasi pariwisata seperti di sekitar Waerobo, Bena, Airpanas Soa, Moni-Kelimutu, Teluk Maumere, dsb.
c. Wilayah subur untuk pertanian.
d. Bukit dan gunung dengan hutan tropis lebat dan ada perkebunan rakyat yang memberikan nilai tambah tinggi pada rakyat setempat dan berpotensi menjadi daerah wisata.

Catatan redaksi :   Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan redaksi SorotNTT.com