Fakta Dibalik Upaya Dugaan Pemalsuan Dokumen Kadis PUPR Matim 

Daerah

Borong, SorotNTT.Com-Upaya dugaan pemalsuan tanda tangan Kadis PUPR Kabupaten Manggarai Timur yang dilakukan oleh pengurus Penyedia Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat(PAMSIMAS) hari sabtu tanggal 12 september tahun 2020 menyimpan cerita yang layak untuk disimak.

Seorang wanita muda berinisial ML menyampaikan kronologis kejadian upaya pemalsuan tanda tangan Kepala Dinas PUPR tersebut dan yang bersangkutan mengaku sebagai saksi mata kejadian ini.

Dikisahkan Pada jam 12.00 wita saya di telpon untuk menghadap ke kentor PAMSIMAS oleh Senior fasilitator atas nama Ibu LL, untuk menanda tangan dokumen berita acara pekerjaan fisik.

Ketika saya sampai di kantor saya langsung tanda tangan berita acara pekerjaan fisik untuk 2 Desa saya, yaitu Desa Golo Lalong dan Desa Teno Mese.

Setelah semua dokumen itu kami tanda tangani, selanjutnya semua dokumen tersebut harusnya di tanda tangani pak kadis PUPR Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 12 Desa.

Faktanya berbeda yang saya saksikan dokumen tersebut bukannya di tanda tangan oleh pa Kadis PUPR Kabupaten Manggarai Timur, tapi di tanda tangani oleh DH sebagai DEO PAMSIMAS Manggarai Timur.

Diketahui DH disuruh oleh Koordinator PAMSIMAS atas nama FA dan Wakil Kordinator PAMSIMAS RS.

Setelah dokumen tersebut di tanda tangani oleh oknum DH, selanjutnya FA dan RS langsung berangkat menuju ke Ruteng untuk mengirim dokumen tersebut ke Propinsi.

“Saya waktu itu merasa takut dan kuatir akan dampak yang terjadi terhadap PAMSIMAS Manggarai Timur serta Menyeret Kadis PUPR dan Kabidnya, maka saya melaporkan kejadian ini ke FH sebagai Kordinator PAMSIMAS.

Selanjutnya FH mengambil langkah cepat, dan langsung memberitahu kejadian ini ke Kadis PUPR Matim.

Setelah Kadis PUPR mengetahui hal ini, maka kedua oknum FA dan RS langsung di hubungi untuk diminta menghadap.

Diketahui kedua oknum ini sudah berada di Ruteng; Dan setelah mendapat panggilan dari Kadis PUPR Matim, mereka langsung balik keborong; dan langsung menuju kantor PAMSIMAS Matim.

Selanjutnya mereka langsung membakar semua dokumen yang mereka palsukan tanda tangan pak Kadis PUPR Matim, untuk menghilangkan jejak, jelas ML.

Untungnya saya sudah mengambil foto, ketika mereka sedang melakukan upaya pemalsuan itu, sehingga kami punya bukti, jelas ML pula.

Ketika Media ini melakukan konfirmasi ke FA, yang bersangkutan menyampaikan “Terkait dengan persoalan pemalsuan itu tidak benar. Semua dokumen yang kirim ke Propinsi itu asli ditanda tangan oleh Kepala Dinas PUPR selaku Ketua DPMU. Dan dokumen yang kirim ke Propinsi itu setelah tanda Tangan PPK kebetulan PPK Pamsimas di Propinsi, nanti dikirim balik ke Kabupaten dan menjadi Arsip di PAMSIMAS maupun PUPR.

Selanjutnya RA menyampaikan”Saya tidak tau soal proses tanda tangan tersebut intinya dokumen yang ada di saya itu dan kirim ke Propinsi itu asli”

Media ini juga berhasil mengkonfirmasi RS, dan beliau menyampaikan “tapi pada intinya yang dia sampaikan tidak benar, dokumen asli semua ada di propinsi, setelah tandatangan dari PPK propinsi baru berkasnya dikembalikan lagi ke kabupaten”.

Selanjutnya RS menyampaikan” Dokumen asli cuma 1 tetapi rangkap 2 dan masih di propinsi.nanti 1 Dokumen dikembalikan setelah ditandatangan oleh PPK.

Kalau pernyataan yg dibuat itu benar, terkait kebenaran dokumen yang dibuat  makanya bisa diproses pengajuannya waktu itu. Pada intinya semua klarifikasi sudah pa kadis sampaikan dan dokumen asli saat ini  masih ada di Kupang, tutup RA.

Fakta lain

Dari data yang dihimpun media ini didapati fakta yang berbeda dengan pengakuan dari oknum RA dan RS, tentang ketidak benaran upaya dugaan pemalsuan tanda tangan ini.

Ada dokumen berupa surat pernyataan dari RA, RS, RM dengan isi berbeda, yang intinya menyatakan bahwa telah terjadi perbuatan upaya dugaan pemalsuan tanda tangan dari Kadis PUPR ini dan mengakui bersalah atas perbuatanya tersebut.

Ketika Media ini mencoba mengkonfirmasi tentang dokumen surat pernyataan yang dimaksud kepada RA dan RS ,keduanya tidak memberikan jawab yang pasti.