Ilustrasi Generasi Milenial - image by ScooterGenius.com

Gaya Hidup di Zaman Milenial

Opini

Budaya orang suatu cara hidup yang berkembang dan di miliki bersama oleh sekelompok orang serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa pakaian dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menanggapinya di wariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu di pelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.

 Banyak pemuda pemudi sekarang ini, yang tidak suka dengan kebudayaan daerah sendiri. Karena mereka cenderung lebih senang meniru gaya orang barat, yang sangat bertentangan dengan budaya kita sendiri.

Contohnya dalam hal berpakaian yang marak disebut kaum remaja Manggarai Raya, yaitu “Celana Umpan (CU)”. Katanya bisa mendobrak popularitas seorang perempuan agar dapat terlihat cantik. Daripada memakai barang yang menutup anggota tubuh yang seharusnya di tutup dan itu merupakan salah satu ciri khas kita sebagai orang Manggarai. Sudah puluhan tahun lamanya sudah di terapkan dalam norma masyarakat kita. 

Remaja zaman dulu dan remaja zaman sekarang pola pemikirannya sangat berbeda jauh. Pada remaja zaman dulu cenderung aktif, terampil dan ulet dalam berkarya dan selalu menjadi panutan dalam norma kehidupan masyarakat.  Sedangkan remaja zaman sekarang (zaman now) sudah menyimpang dari kebudayaan tersebut. Karena banyaknya kebudayaan asing yang tersebar luas di berbagai daerah. Mereka terlalu manja dengan kehidupan sekarang yang semua serba instan tanpa berusaha.

Bicara soal budaya, pasti kebanyakan orang setuju dengan pendapat bahwa “perkembangan zaman perlahan tapi pasti mulai mengancam kelestarian budaya bangsa”. Segala bentuk kemajuan zaman telah sedikit banyak mempengaruhi karakter anak dan pemuda bangsa. Teknologi yang berkembang sangat cepat, kurang dapat disaring dengan baik oleh bangsa Indonesia (apalagi para kaum muda). Kemudahan dan kepraktisan yang diberikan oleh teknologi membuat bangsa ini menjadi “kurang” kreatif dalam mengembangkan pikirannya serta terkikisnya cinta terhadap budaya sendiri.

Budaya Indonesia yang dianggap tidak dapat mengikuti perkembangan teknologi sudah mulai ditinggalkan. Padahal kita pun tahu betul bahwa bangsa kita dianugerahi oleh –tidak hanya- kekayaan sumber daya alam melimpah, tapi juga keragaman suku bangsa, keragaman adat istiadat dan kearifan lokal. Tidak cukup sampai di situ, Indonesia juga diwarnai dengan  agama-agama besar yang turut mendukung perkembangan kebudayaan bangsa, sehingga tidak heran, di setiap wilayah di Indonesia mencerminkan ciri kebudayaan agama tertentu. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Bukan hanya ragam budaya kelompok suku bangsa namun juga ragam budaya dalam konteks peradaban, tradisional hingga ke modern, dan kewilayahan. Banggalah kita sebagai anak Indonesia karena negara kita mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh negara lain.

Tetapi sekarang kita harus puas dengan kenyataan bahwa eksistensi kebudayaan bangsa semakin terancam. Derasnya arus globalisasi menyebabkan terkikisnya nilai-nilai kebangsaan. Generasi muda lebih bangga dengan budaya asing daripada budaya bangsanya sendiri. Contoh-contoh sederhananya seperti: film-film box office Hollywood yang lebih dibanjiri penonton bioskop dibanding pagelaran seni budaya, teater, dan operet yang mengangkat kisah-kisah sejarah bangsa, juga toko-toko yang menjual produk bermerk asal Eropa justru lebih ramai pengunjung dibanding brand lokal hasil karya anak bangsa. See? Jangan-jangan slogan “aku cinta bangsa Indonesia” itu hanya menjadi ucapan belaka tanpa disertai dengan aksi nyata.

Padahal kita pun setuju bahwa anak dan pemuda bangsa adalah bagian terpenting terwujudnya suatu negara yang lebih baik dan berkarakter baik. Anak dan pemuda menjadi bagian yang sangat mudah untuk menurunkan karakter bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa, anak dan pemuda diharapkan sumbangsihnya terhadap kemajuan negara. Dari segi apa pun, generasi penerus bangsa akan menentukan bagaimana bangsa ini di masa depan. Kebaikan dan keburukan yang dilakukan akan mempengaruhi keadaan bangsa ini. Seperti quote Bung Karno yang begitu terkenal di seantero negeri.

“Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air, dan aku akan mengguncang dunia”

Pengikisan budaya dan krisis nasionalisme nampaknya bukan masalah yang sepele. Hal semacam ini perlu ditindak lanjuti karena pada dasarnya, segala bentuk teknologi yang ada harusnya dapat berkesinambungan dengan budaya Indonesia. Pelestarian budaya Indonesia harus selalu ditekankan dalam segala situasi dan kondisi.

Jangan sampai “salah kaprah” akan perkembangan teknologi semakin mengakar di jiwa-jiwa pemuda bangsa. Maksud saya adalah kebanyakan pemuda Indonesia telah menyalah gunakan teknologi yang ada, terhanyut dalam arus globalisasi, dan pada akhirnya menjadi dikenal dengan sebutan generasi gadget.

Tidak dapat dipungkiri, kemudahan dan kesenangan yang ditawarkan oleh gadget sampai bisa membuat seseorang ketergantungan. Hal ini tentu mempengaruhi pola bersosialisasi anak muda zaman sekarang. Padahal kalau kita menengok ke belakang, zaman bapak ibu kita, atau bahkan zaman nenek-kakek kita, pola sosialisasi mereka benar-benar pure tanpa gadget, membicarakan hal apa saja, tanpa ada salah satu yang sibuk dengan handphone di tangannya. Alhasil silaturahim atau ikatan kekeluargaan yang dibangun semakin erat dan menghindarkan mereka dari sikap apatis yang kenyataannya kini menjadi penyakit paling akut di kalangan generasi muda. Mungkin kita harus belajar banyak dari social attitude orang-orang terdahulu, sambil mengajarkan penggunaan social media pada ibu bapak kita. Eh*

Saya teringat pada sebuah artikel yang saya baca beberapa waktu lalu. Artikelnya membahas tentang “Generasi Milenial”. Pernah dengar sebelumnya? Jujur saya baru mengetahuinya kemarin. Entah karena saya yang jarang membaca, atau memang istilah ini “baru saja” menjadi viral di media sosial.

Jadi disebutkan bahwa “Generasi Milenial” adalah mereka yang kelahirannya antara tahun 1981-1994 (beberapa yang lain menyebut hingga sebelum tahun 2000). Itu artinya saya dan siapa pun kalian yang lahir di range tahun tersebut dikategorikan sebagai generasi milenial. Ada juga yang menyebutnya dengan generasi Y (saya pun bingung, asal mulanya dari mana? ). Whatever lah, yang ingin saya bahas bukan asal namanya. Tapi pola kecenderungan sosial dari generasi milenial ini. (Suryadi, 2015).

Kurang lebih seperti ini penjelasannya menurut pemahaman saya. Bahwasanya perkembangan teknologi dan komputer yang semakin maju, menyebabkan generasi milenial tumbuh dalam iklim yang sangat “kental” dengan serbuan informasi dan teknologi yang cepat dan canggih. Daya adopsi informasinya lebih cepat, kepekaan terhadap perkembangan wawasan dunia juga lebih tinggi, pemikiran dan respons terhadap isu-isu global lebih kritis. Selain itu gaya belajar generasi milenial adalah berbasis indra (misalnya visual, audio dan lainnya) yang menekankan pada kepribadian dan bakat mereka. Hal ini tidak lepas dari efek ketergantungan teknologi yang bahkan telah menjadi bagian sehari-hari dalam kehidupan mereka. Contoh sederhananya bagi kaum milenial, handphone diletakkan berdekatan dengan tempat tidur. Generasi milenial lebih suka mendapat informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google, media sosial, atau perbincangan pada forum-forum, yang diikuti generasi ini untuk selalu up to date dengan keadaan sekitar.

Jika dihadapkan pada sebuah pilihan, mayoritas kaum muda milenial akan lebih memilih ponsel dibandingkan TV. Mereka akan lebih memilih tidak memiliki akses ke TV, dibandingkan akses ke ponsel.

Di era milenial ini, peran internet menjadi sangat masif di kalangan masyarakat. Berdasarkan data dari www.cnnindonesia.com saat ini pengguna internet di Indonesia telah mencapai 65 persen dari total populasi dengan rata-rata durasi penggunaan mencapai 8 jam 44 menit sehari.

Selain memudahkan dalam mengakses informasi tertentu, tidak dapat dielakkan bahwa internet juga memang merupakan keran masuknya budaya asing. Durasi 8 jam 44 menit sehari dengan pengguna internet sebesar 65 persen dari total populasi merupakan angka yang terbilang fantastis. Sehingga wajar saja jika budaya global semakin mewabah di Indonesia.

Komunikasi yang berjalan pada orang-orang generasi milenial sangatlah lancar. Namun, bukan berarti komunikasi itu selalu terjadi dengan tatap muka, tapi justru sebaliknya. Banyak dari kalangan milenial melakukan semua komunikasinya melalui text messaging atau juga chatting di dunia maya, dengan membuat akun yang berisikan profil dirinya, seperti Twitter, Facebook, Instagram, Line, dan masih banyak lainnya.

Nah, tidak dapat dipungkiri bahwa akun media sosial juga dapat dijadikan tempat untuk aktualisasi diri dan ekspresi, karena apa yang ditulis tentang dirinya di situ adalah apa yang akan semua orang baca. Jadi, hampir semua generasi milenial dipastikan memiliki akun media sosial sebagai tempat berkomunikasi dan berekspresi. Meskipun justru dengan semakin maraknya penggunaan media sosial, semakin beragam pula kejahatan media yang bermunculan, dari kasus penculikan yang berawal dari hubungan pertemanan di facebook, kasus jual beli bayi melalui instagram, sampai yang paling menjadi tren di kalangan pengguna sosmed saat ini adalah bullying. Sikap intimidasi dan intervensi sosial menjadi hal yang lumrah, bukan Cuma di kalangan artis yang santer dengan aksi bully oleh para haters, tapi juga para politikus, pejabat sampai masyarakat biasa yang punya sedikit kelebihan atau keanehan, bisa dijadikan bahan bully-an dan pembicaraan di kalangan sosmed.

Kehadiran teknologi generasi milenial cenderung meninggalkan nilai-nilai budaya dan agama, mengejar nilai-nilai kebebasan, hedonisme, party, dan pergaulan bebas. Ternyata apabila ditelusuri, bahwa generasi milenial tersebut banyak yang berdampak negatif pada dirinya sendiri juga. Dengan gaya hidup teknologi, nilai-nilai yang ditanamkan pada diri seorang anak akan hilang mengikuti arus generasi milenial.

Generasi milenial cenderung bersikap individualis yang mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. generasi milenial berpengaruh terhadap kehidupan sosial, yang lebih mementingkan ego masing-masing sehingga sikap dan perilaku yang terjadi adalah menyimpang melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan sendiri tanpa memikirkan sekitar.

Realitas yang ada saat ini adalah kecenderungan menjadikan teknologi sebagai gaya hidup. Wah ini bisa dipandang dari dua sisi. Di satu sisi tentunya hal ini bisa membawa dampak sikap “apatis”, anti sosial, susah bergaul di kalangan generasi milenial. Karena hidupnya sudah sangat bergantung pada teknologi. Padahal kenyataannya adalah generasi milenialah yang memegang sebagian besar kendali di era sekarang ini . Jelas saja, Mereka adalah orang-orang dengan usia produktif sekaligus konsumen yang mendominasi pasar saat ini.

Bayangkan jika generasi milenial menyamakan misi untuk melestarikan budaya bangsa dengan berbagai ide-ide kreatifnya, didukung dengan kemampuan akan teknologi dan memanfaatkan peran sosial media yang dimiliki. Hal-hal sederhana saja seperti membentuk komunitas-komunitas peduli budaya lokal, mengadakan event-event kebudayaan yang dikemas dengan konsep yang lebih modern tanpa meninggalkan kesan originalitasnya.

Salah satu contoh baik yang mungkin kalian akan berpendapat sama dengan penulis, perkembangan media sosial salah satunya instagram telah cukup banyak mengenalkan keindahan alam Indonesia ke dunia. Banyak sekali dapat kita jumpai akun instagram yang menyediakan suguhan pemandangan alam Indonesia dari sabang sampai Merauke melalui foto, bahkan video. Bahkan daerah-daerah yang belum terjamah dan tidak banyak diketahui sebelumnya, bisa menjadi terkenal dengan mudahnya melalui media sosial yang satu ini. At least, tidak semua yang kelihatan negatif itu memiliki esensi yang negatif juga. Tergantung bagaimana kita memandang dan menyikapinya.

Kesimpulannya, generasi milenial sesungguhnya berpotensi besar menjadi pemeran utama dalam hal pelestarian budaya bangsa.

Selamat, dan semoga bermanfaat.
Terima kasih

Rifand Apur
Penulis asal Manggarai Timur yang sangat mencintai budaya Manggarai dan pencinta kopi pa’it Manggarai Timur, saat ini tinggal di kota Malang