Gereja Devosional Lengor Mangkrak Dua Tahun, DPRD Matim Minta Keseriusan Semua Pihak

Daerah Flores

Borong, SorotNTT.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Timur, akhirnya angkat bicara terkait nasib pembangunan Gereja Devosional Lengor, yang berada di Kecamatan Elar Selatan yang mangkrak selama dua tahun.

Anggota DPRD Matim, Herman Y.W.D Tojong, saat dimintai komentar terkait pembangunan Gereja Devosional Lengor, yang mangkrak selama dua tahun menjelaskan, Lengor itu tempat bersejarah bagi perjalanan iman Umat Katolik di sebagian besar Masyarakat Elar Selatan.

“Paroki Wukir merupakan perkembangan dari Lengor, dan kemudian dimekarkan lagi menjadi paroki Mamba. Maka upaya membangun Gereja di Lengor itu menghidupkan lagi historisitas perjalanan perkembangan paroki bagi umat Katolik,” kata Anggota DPRD Matim dari Dapil IV itu pada, Minggu (18/8/2019) malam.

Menurutnya, terkait usaha membangun Gereja tersebut patut diberi apresiasi, “Sampai mangkrak selama dua tahun proses pembangunannya, mesti dicermati oleh berbagai pihak, termasuk sumber-sumber dari mana uang berasal,” pinta Herman.

Dia menambahkan, Panitia Pelaksana Pembangunan Gereja tersebut harus mampu menjelaskan mengapa harus mandek selama dua tahun.”Panitia harus mampu menjelaskan mengapa pembangunannya mandek,” tegasnya. Dia berharap, semoga hal ini  dicermati baik dan serius oleh berbagai pihak.

Sebelumnya media ini memberitakan “Pembangunan Gereja Devosional Lengor,Kecamatan Elar Selatan, Mangkrak Selama Dua Tahun”

Data yang berhasil dihimpun SorotNTT.com, Jumat (2/8/2019). dari umat Stasi Lengor yang berinisial FT mengatakan, bahwa awalnya di Stasi Lengor membuka ruang yang dihadiri oleh Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Muda dan perempuan untuk duduk bersama guna mewujudkan mimpi besar ini.

“Dalam perjalanannya, melalui intervensi APBD lewat perjuangan DPRD tahun 2017,  maka Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur mengalokasikan dana yang diperkirakan senilai Rp.50.000.000,  untuk membangun Gereja tersebut,” ujar FT.

Diakui FT, awalnya Panitia Pembangunan Gereja dibentuk  tidak melibatkan banyak orang.  Setelah mentok, agenda siaga pra perencanaan pembangunan tersebut tidak dijalankan sebagai mestinya, maka ada upaya panitia untuk merangkul banyak orang untuk mengadakan pertemuan.

“Saat itu, kabarnya ada sumbangan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur, maka panitia pembangunan Gereja pun bekerja untuk mendapatkan dana yang diperoleh melalui swadaya dari umat d Lengor masing-masing RP. 150.000 per kepala keluarga,” ujarnya.

“Acara peletakan batu pertama yang diselenggarakan pada tanggal 04 Juni 2017 sangat heboh, apalagi dalam acara tersebut  dihadiri oleh Wakil Bupati Manggarai Timur, Bapak Andreas Agas, Romo Vikep Borong, Pastor Paroki, Camat Elar Selatan, Kapospol Elar Selatan, serta umat dari tiga Stasi di Lengor,” tambahnya.

Dia berharap, tentu segala sesuatu itu harus berjalan sebagai mana mestinya. Dikatakan FT, hal ini sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat Teno Mese umumnya sudah tahu ada dana sekian juta sudah dicairkan untuk pembangunan Gereja ini.”Seperti apa pemanfaatannya dari dana tersebut, sebagai umat kami belum tau,” tutupnya.

Sementara itu, Bendahara Panitia Pembangunan Gereja Devosional Lengor, Heribertus Soterleli saat diwawancarai SorotNTT.com pada, Sabtu (3/8/2019) membenarkan terkait alokasi dana yang bersumber dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

Menurutnya, besarnya dana yang dialokasikan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur saat itu senilai Rp. 50.000.000.

“Dana sebesar Rp. 50.000.000 tersebut sudah cair dan sudah kami terima pada tahun 2017,” ujar Heribertus.

Saat ditanya pemanfaatan dari dana sebesar Rp.50.000.000 tersebut, Heribertus mengatakan sudah kami gunakan untuk membeli material pembangunan Gereja tersebut.

“Untuk barang  seperti Semen, Pasir, Batu, Besi Beton sudah kami belanja semua. Sekarang  kami hanya menunggu kapan ada rapat tindak lanjut dari ketua Panitia, terkait panitia yang sudah dibentuk,” ujar Heribertus.

Menurutnya, selain mendapat sumbangan dari pemerintah Daerah Manggarai Timur, ada juga dana hasil dari swadaya umat dari tiga Stasi sebesar Rp. 18.590.000, Tiga Stasi Gereja Devosional Lengor, yaitu Stasi Lengor, Stasi Sopang Nancur, Stasi Leko Neko.

“Dana swadaya umat  ini, ada  yang sudah berhasil  dikumpulkan dan ada yang belum lunas dari tiga stasi Gereja Devosional Lengor,” ungkapnya.

Hal serupa disampaikan oleh ketua Panitia Pembangunan Gereja Devosional Lengor, Rofinus Ratu. Ia membenarkan bahwa, benar ada sumbangan dana untuk pembangunan Gereja Devosional Lengor dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur pada tahun 2017.

“Untuk material pembangunan tersebut sudah kami belanja. Sekarang barang-barangnya masih ada di toko, di kota Borong. Sementara barang material yang lainnya sudah ada disini,” kata Rofinus saat ditemui sorotNTT.com pada, Minggu (4/8/2019).

Dia menambahkan, saya punya niat diakhir tahun ini harus sudah bangun fondasi Pembangunan Gereja  dari bahan yang sudah ada.

“Awal tahun 2019 ini, saya didesak oleh Kepala Dinas untuk membuat laporan pertanggungjawaban terkait dana senilai RP. 50.000.000 itu,” terangnya.

Diakui Rofinus, Dana beserta pembelian material pembangunan Gereja tersebut sudah di pertanggungjawabkan. Namun, hingga saat ini fakta pembangunan fisik di lapangan yang belum terealisasi.

Laporan : Ferdinandus Lalong