Gereja Terus Hadir Memberi Arah dan Pencerahan Dalam Dunia Pariwisata Yang Hingar Bingar

Ruteng, SorotNTT.Com-Keberadaan gereja dalam dunia pariwisata yang hingar bingar itu terus hadir memberikan arah dan pencerahan terhadap pengembangan pariwisata sebagai satu produk pembangunan peradaban kemanusiaan hari-hari ini.

Hal itu dikatakan Prof. Alex Jemadu, PhD., saat membawakan materi pada sidang Pastoral Post Natal Keuskupan Ruteng, dirumah retret  Maria Bunda Karmel Wae Lengkas, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT, Kamis (6/12).

Prof Alex Jemadu Ph.D juga mengingatkan Gereja untuk tidak terbius oleh hingar bingar wisata yang sedang digalakkan di Labuan Bajo dan Flores.

“Gereja mendukung pariwisata dengan terms of reference-nya sendiri dan menolak tunduk atau berkompromi dengan terms of reference masyarakat komersial apalagi yang bertentangan dengan doktrin gereja,” kata Prof Alex.

Prof Alex juga memperkenalkan pemikiran seorang pemikir dan jurnalis Inggris Gilbert Keit Chesterton (1878-1936) terait peran Gereja dalam pengembangan pariwisata. Kehadiran Gereja dalam pengembangan pariwisata berada di antara dua elemen lain yang bermain kuat, yaitu pemerintah dan pelaku usaha. Ketiga elemen ini bergerak dengan cara berpikir dan kepentigan yang berbeda-beda. Namun, baik pemerintah maupun pelaku usaha memiliki cara pandang sekular.

BACA JUGA:  Arogansi Marthen Konay Dengan Mengancam Kuasa Hukum Ahli Waris Konay Lainya

“Dalam pandangan sekuler, pariwisata adalah salah satu pilar utama masyarakat komersial, ‘profit-making enterprise’ yang bermuara pada konsentrasi pemilikan,” kata Dosen Universitas Pelita itu.

Lebih lanjut, pemerhati hukum internasional itu menjelaskan empat prinsip pengembangan pariwisata dalam sudut pandang negara, yaitu berorientasi pertumbuhan ekonomi (growth oriented), berharap ada tetesan/luberan ke bawah (trickle-down effect), dan skala ekonomi besar (pelaku ekonomi nasional dan multi-nasional).

Pada sisi yang lain, lanjut dia, Gereja memandang alam (nature) sebagai obyek wisata mestinya membangkitkan “sense of wonder”, the praise of creation”, “the praise of life” and “the praise of Being” (tiga inti pemikiran Thomistic philosophy).

BACA JUGA:  Dalam Rangka HUT TNI Ke 75, Kodim 1612 Manggarai Lakukan Donor Darah

Gereja berurusan dengan “the well-being of human souls” lebih dari sekadar “human pleasure” dan “material wellbeing”. Ada potensi benturan nilai antara tiga entitas: negara, pasar dan gereja. Apa wujud pertentangannya dan bagaimana gereja menyikapinya?

Gereja memerlukan partisipasi awam, berbagai elemen civil society lainnya sebagai pemangku kepentingan dalam semangat dialogis tanpa mengkompromikan nilai-nilai dasar yang diturunkan dari doktrin gereja yang utama.

Sementara Gereja, kata dia, Gereja menghendaki semakin banyak orang memiliki hak milik karena “property” berkorelasi dengan “human dignity“.

Sidang Pastoral post Natal Keuskupan Ruteng berlangsung sejak tanggal 4-7 Januari 2022, melibatkan seluruh imam dan stakeholder lainnya di bidang pariwisata, termasuk Pemkab Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur serta pihak BPOLBF.

BACA JUGA:  Tentara Pejuang dan Berjiwa Sapta Marga Dan Sumpah Prajurit

SUMBER: REALITANTT.COM