GMPS Ruteng edukasi masyarakat lewat talk show radio

GMPS Ruteng Edukasi Masyarakat Lewat Talk Show Radio

Daerah Flores

Ruteng, SorotNTT.com – Bagi GMPS, gerakan pembersihan tak cukup kuat menjadikan Ruteng kota molas (cantik), tanpa diikuti dengan gerakan edukasi kepada masyarakat sebagai produsen sampah. Karena itu, GMPS Ruteng menggelar talk show (gelar bicara) radio. Kegiatan ini langsung dari Pasar Inpres Ruteng dan disiarkan oleh Radio Manggarai 88,0 FM. Talk show yang dipandu langsung oleh Paul Kurniawan dari Studio II Pasar Ruteng dan Ino Jemadu dari Studio I itu menghadirkan Bupati Manggarai Deno Kamelus dan Wakil Bupati Manggarai Victor Madur.

Dalam gerakan edukasi berupa talk show radio tersebut, GMPS juga bekerja sama dengan dealer Sinar Motor Ruteng dan Bank NTT.

GMPS Ruteng edukasi masyarakat melalui talk show radio
GMPS Ruteng edukasi masyarakat melalui talk show radio di Pasar Inpres Ruteng, Jumat (08/03/2019)

Ketua panitia pelaksana kegiatan dari GMPS Ruteng, Laurens Guntur menjelaskan, talk show radio langsung dari Pasar Inpres Ruteng merupakan bagian dari pola edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan. Menurut Laurens, gerakan pembersihan massal tak cukup kuat untuk menjadi Ruteng sebagai kota bersih, tanpa diikuti dengan pola edukasi kepada masyarakat sebagai produsen sampah.

“Kita bergantian sudah, setelah beberapa kali sebelumnya kita bersih-bersih pasar, saat ini kita coba gelar talk show radio langsung dari Pasar Ruteng untuk menyadarkan pengguna pasar dan masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan mengelola sampah. Artinya ada nilai edukasi yang kita mau berikan kepada masyarakat,” jelasnya saat ditemui di sela-sela kegiatan talk show di Pasar Ruteng, Jumat pagi.

Laurens juga menegaskan, GMPS menghadirkan bupati dan wakil bupati di tengah Pasar Ruteng hanya untuk mendengar langsung keluhan masyarakat pengguna pasar yang terletak di pusat Kota Ruteng itu. Bupati dan wakil bupati, kata Laurens, juga mengajak secara langsung masyarakat di Pasar Ruteng agar setiap hari menjaga kebersihan di masing-masing lapak dagang.

Koordinator Pedagang Hortikultura, Nikolaus Jebaru mengaku, di Pasar Inpres Ruteng sudah ada perubahan setelah beberapa kali GMPS melakukan gerakan pembersihan massal.

“Sejak kita ada kegiatan (pembersihan massal) itu ada peningkatan kebersihan. Mungkin 70-80 persen, kebersihan terlihat secara nyata di Pasar Inpres Ruteng,” ujar Nikolaus dalam kesempatan dialog.

Namun demikian, ia tetap meminta Pemkab Manggarai agar menyiapkan tempat di setiap stan pedagang. Tempat sampah tersebut, kata Nikolaus, harus berlabelkan pemerintah. Ini juga sekaligus untuk mengingatkan pengguna pasar agar selalu membuang sampah pada tempatnya.

Bupati Manggarai, Deno Kamelus dalam kesempatan tersebut menjelaskan, selama ini pihaknya turun langsung memungut sampah di Pasar Ruteng dan beberapa tempat lainnya di kota itu hanya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Begitu juga kegiatan talk show radio yang digelar GMPS Ruteng tersebut. Menurut Bupati Deno, talk show radio merupakan bagian dari edukasi kepada masyarakat untuk bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan masing-masing.

Ruteng Kota Kotor, Pemicu dan Pemacu

Untuk diketahui, KLHK RI sudah menobatkan Ruteng sebagai salah satu kota kecil terkotor di Indonesia periode 2017/2018.

Menurut Bupati Deno, penilaian program Adipura itu sebagai pemicu dan pemacu untuk menumbuhkan kesadaran bersama.

“Kesadaran pertama yang dibangun bahwa kalau Kota Ruteng kotor, itu berarti bahwa semua orang di Kota Ruteng ini, itu kemudian punya kontribusi membuat Kota Ruteng kotor,” katanya.

Dia menambahkan, ada beberapa indikator di balik penilaian Adipura KLHK RI ini, antara lain tempat pembuangan sampah. Tempat pembuangan sampah di Ruteng masih terbuka (open dumping). Demikian pula di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berada di KM 11 Poco, masih dalam keadaan terbuka.

“Nah, kota yang buang sampah dengan cara-cara begitu (open dumping) pasti kotor, menurut penilaian Kementerian Lingkungan Hidup,” jelas Bupati Deno.

Rencana Pemkab Manggarai ke depan adalah mengelola TPA sampah dengan metode sanitary landfill. Sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi lapisan lempung dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah ke tanah.

Kata Deno, indikator lain penilaian KLHK adalah partisipasi masyarakat. Ruteng dinobatkan sebagai kota kotor salah satunya karena kurangnya partisipasi masyarakat.

Bupati Manggarai, Deno Kamelus dalam talk show radio GMPS Ruteng di Pasar Inpres Ruteng
Bupati Manggarai, Deno Kamelus turut hadir dalam talk show radio yang digelar GMPS Ruteng di Pasar Inpres Ruteng, Jumat (08/03/2019)

“Apa bentuk partisipasi masyarakat? Yang konkretnya setiap tempat usaha, setiap tempat kerja, itu masing-masing harus punya tempat sampah. Buktinya apa di Kota Ruteng, tidak ada. Tempat sampah itu tidak harus dalam bentuk baku, misalnya dalam bentuk tabung plastik,” ujar Bupati Deno.

Indikator lain yakni terkait dengan fasilitas pengelolaan sampah. Itu antara lain, truk pengangkut sampah, tempat pembuangan sampah (TPS), dan lain-lain.

Ia menegaskan, ke depan Pemkab Manggarai akan menata dan membenah semua kendala-kendala tersebut.