Hams Hama
Mahasiswa STFK Ledalero, Tinggal di Ritapiret

DaerahPuisi

Tuak dan “Ata Lolu”

Entahlah
Saya begitu tergoda olehmu

Bukan karena aromamu berhasil menciptakan tamak pada hidung dan ilurku

Bukan karena begitu rakusnya kering ingin dibasahi pada batang leherku

Bukan karena begitu luar biasanya perut menampungmu tanpa peduli

Sungguh
Saya begitu tergodanya
Sampai-sampai mimpiku melangit

Sampai-sampai saku bajuku sobek

Sampai-sampai doa-doaku kering.

Aku bukan saja menjadi candu pada sujud-sujudku

Kadang ada sesat dibuai ingatan dan sisa-sisa rindu ketika kesempatan “lolu” yang sama perlahan menghantarku dalam sisa sia-sia

Sebab, “lolu” bukan saja pengantar ingatan untuk kembali mencipta secuil “reges agu daler”

Tapi meninggalkan saku celana yang bukan saja kosong. Bolong juga

lni bayang-bayang doa yang gelisah, saat ingatan menghantarku pulang memantulkan jejak “lolu”

Apalagi kau hanya bertahan dalam garangnya “walis tedeng” yang acapkali menjadi madu yang memabukkan

Mungkin itu pula yang membuat tuanmu benci dengan derai hujan

Dan kau selalu saja tak sungkang mogok ketika musim hujan tuanmu alpa

Mempertipis bibir “cokumu” agar tampak seksi meluncurkan putih madu khasmu.

Sungguh
Hujan kemarin memang bukan saja petaka yang menghantar maksiat

Tapi laknat pada orang-orang yang doanya meminta hujan tapi malas-malasan

Ritapiret, 7 Mei 2020

Ata Loga Tuak

“Ini ladang kerja nak. Jadi ada upacaranya juga. Sebab tuak itu adalah ibu yang menyusui para peminum. Maka berilah penghormatan”

Setelah ayah sematkan filosofi dibuatnya syahdat sebelum satu per satu anak tangga melepaskan pelukan ibu jari kaki kasarnya

Saya jadi teringat mitos tentang asal usul tuak yang selalu diceritakan sebelum tidur oleh almaehum kakeku Petrus Narut

Bahwa tuak itu adalah air susu dari seorang gadis yang nyasar di hutan

Mori Jari Dedeklah yang menakdirkan itu

Tak seperti biasanya pagi ini
Ada segumpal gelisah dan bayang-bayang resah memeluk rupa ayahku

Ada yang tidak beres
Setelah berhasil kubujuk, ia akhirnya menumpahkan semuanya

Tuaknya dirampas orang
Doanya gagal total

“Betapa tamak dan rakusnya para peminum itu anak”

“Kusarankan jika kelak kau jadi suami orang, janganlah merampas istri orang. Apalagi untuk memerasnya”

Dengan amarah yang tersisa, ia meletakan jarigen kosong itu di sudut tempat tidur

Tatapannya masih menyimpan rasa tak percaya

Bagaimana mungkin orang dekat yang biasa “lolu” itu bertindak sesukanya?

Maumere, 7 Mei 2020