Ini 7 Kawasan Berpotensi Rawan Narkoba di NTT

bnn-prov-ntt-press-release

Kupang, SorotNTT.com – Berdasarkan hasil pemetaan kawasan rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba 2019, BNN menyatakan sebanyak tujuh kawasan rawan narkoba di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan tingkat kerawanan waspada. 

Wilayah tersebut terdiri dari dua kabupaten di Pulau Flores, dua kabupaten di Pulau Sumba,Tiga kabupaten/kota di Pulau Timor.

Tujuh kawasan tersebut terdiri dari :

Kelurahan Labuan Bajo (Kecamatan komodo, Kabupaten Manggarai Barat). Desa Wailiti (Kecamatan Alok Barat Maumere, Kabupaten Sikka), Kelurahan Kamalaputi (Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur), Kelurahan Kp.Baru (Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat), Kelurahan Oesapa (Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang), Desa Silawan (Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu), dan Kelurahan Alak (Kecamatan Alak, Kota Kupang).

Hal ini disampaikan Kasie Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional Provinsi NTT, Lia Novika Ulya, S.Km, di lantai dua aula BNN provinsi NTT pada, Jumat (04/10/2019). 

Berdasarkan hasil pemetaan kawasan rawan penyalahgunaan dan peredaran narkoba gelap tahun 2019, menggunakan 8 indikator pokok khusus kejahatan narkoba, angka kriminalitas/aksi kekerasan, barang bukti narkoba, entry point narkoba, kurir narkoba dan juga  5 indikator pendukung banyak lokasi hiburan, tempat kost, dan hunian dengan privasi tinggi, tingginya angka kemiskinan, ketiadaan sarana publik dan rendahnya interaksi sosial masyarakat.

BACA JUGA:  Dwi Andika dan Model Catherine Wilson Akan Berkunjung Ke labuan Bajo

“Oleh karena itu, intervensi program pemberdayaan masyarakat anti narkoba pada tahun 2019, diprioritaskan pada 7 kawasan rawan tersebut, melalui pemberdayaan penggiat anti narkoba dan pemberdayaan alternatif, guna menekan angka penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkoba, agar status kewarganegaraan tidak semakin meningkat dan dapat diturunkan, hingga kategori aman atau kawasan tersebut menjadi kawasan bersih dari narkoba,” jelas Lia.

Sementara, jumlah penggiat anti narkoba yang sudah terbentuk di provinsi NTT sebanyak  418, itu terdiri dari lingkungan pemerintah sebanyak 135 orang, swasta sebanyak 128, masyarakat sebanyak 70 dan pendidikan sebanyak 85,” ungkap Lia.

BACA JUGA:  Diduga Selewengkan Dana Desa, Inspektorat Nagekeo Audit Desa Tengatiba

“Namun, dalam pelaksanaan tugasnya, masih ada hambatan dan kendala dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika (P4GN),  masalah geografis dan ini membutuhkan anggaran yang sangat besar dan BNN masih kendala dengan terbatasnya anggaran yang dapat digunakan dalam mendukung upaya P4GN,” tambah Lia.

Ia berharap para pegiat dan fasilitator anti narkoba dapat mensosialisasikan dan mengimplementasikan rencana aksi P4GN di lingkungan masing-masing yang berdasarkan kemandirian dan partisipasi.

Sementara, Kepala seksi Pencegahan, Markus Raga Djara, S.H., M.Hum., menyampaikan, sebagai upaya untuk melindungi masyarakat NTT dari kejahatan narkotika, pada tahun ini BNN provinsi NTT semakin aktif melakukan langkah-langkah preventif, ini bertujuan memberikan kekebalan sehingga meningkatnya imunitas masyarakat dari penyalahgunaan narkotika.

“Langkah ini diambil sebagai solusi yang paling tepat untuk mematikan pangsa pasar narkotika di Indonesia, sehingga pada tahun 2019 Indonesia tidak lagi menjadi lahan subur bagi sindikat narkotika. BNNP NTT telah melakukan kegiatan pencegahan berupa advokasi dan diseminasi informasi,” ungkap Lia.

BACA JUGA:  Audiens bersama Ikatan Keluarga Amfoang, Gubernur VBL Ajak Kolaborasi Bangun Potensi Daerah

Walaupun dengan segala keterbatasan yang ada, namun seksi pencegahan BNN Provinsi NTT tetap berkomitmen menyebarkan informasi bahaya narkoba secara rutin demi melindungi generasi bangsa di masa yang akan datang. Kedepan BNNP NTT akan tetap fokus pada strategi penanganan permasalahan narkotika yaitu supply reduction dan demand reduction, dengan melakukan pencegahan penyalahgunaan narkotika dan meningkatkan kerjasama semua stakeholder dalam penyebaran informasi P4GN.

Reporter : Hendrikus Aditono