Jurus Jitu Kepala SMAN 2 Rahong Utara Beokina Menghadapi Pemeriksaan Inspektorat Propinsi

Daerah

Oleh: Tetus Mbeluk. A.Md (Kordinator Guru Komite SMAN 2 Rahong Utara)

Minggu sore 5 February 2021 ketika 9 Guru Honorer SMAN 2 Rahong Utara Beokina sedang asik menatap indahnya hari tanpa angin kencang dan hujan lebat, “maklum hari itu hujan badai tidak ada”; Namun sore itu juga kami kedatangan tamu di rumah yang tidak asing yaitu tata usaha Sekolah SMAN 2 Rahong Utara Beokina mengantar tiga surat yang isinya adalah surat panggilan dari Kepala Sekolah untuk hadir di sekolah SMAN 2 Rahong Utara Beokina bila cuaca baik, jika cuacanya buruk pemeriksaannya dilakukan di Hotel Sinda Ruteng, di dalam hal membuktikan Laporan dari 9 orang Guru Honorer ke Inspektorat Provinsi terkait dugaan Penyalahgunaan Dana BOS dan Dana Komite serta kantin sekolah oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Rahong Utara Beokina.

Ketiga surat tersebut adalah: Surat Keputusan(SK) Pengangkatan Guru Honorer SMAN 2 Rahong Utara Beokina sekaligus SK pemberhentian serta Pemberhentian 9 Guru Honorer SMAN 2 Rahong Utara Beokina. “ini aneh sekali dan janggal karena pada jam yang sama, tanggal yang sama saya mendapatkan 3 surat sekaligus dari Kepala Sekolah yang diantarkan oleh Tata usaha di rumah saya”. Anehnya lagi waktu teman-teman saya delapan orang meminta pertanggung jawaban kepala sekolah karena tidak diberikan tugas Mengajar tahun pelajaran 2021 semester genap, justru dia menyuruh teman-teman guru pergi ketemu ketua komite.

Lalu tanggal 5 Februari 2021 kepala sekolah memberikan surat pengangkatan sekaligus surat pemecatan oleh kepala sekolah. Sementara jelas dalam rekaman kami bahwa kepala sekolah Tidak menginginkan ada guru dan pegawai yang dinonaktifkan. Tetapi pada saat rapat pembagian tugas, kepala sekolah tidak mau memberikan tugas kepada delapan orang Guru dan 1 orang pegawai perpustakaan.

Hari ini aneh sekali “kami diundang untuk membuktikan Laporan kami di hadapan inspektorat di sekolah kalau cuaca baik dan kalau cuaca tidak baik, pemeriksaan akan dilakukan di hotel Sinda Ruteng yakni tanggal 9 Februari dalam undangannya namun kami juga diberikan surat pemecatan” berarti menurut pemahaman saya, kami dilarang untuk membuktikan laporan kami, Kata Titus.

Beberapa kebohongan yang dilakukan oleh kepala sekolah kepada publik;

Waktu pemecatan saya(Tetus Mbeluk) pada tanggal 29 Agustus 2020 lewat media online, dia mengatakan bahwa pemecatan tersebut dilakukan oleh ketua komite bukan saya. Anehnya, pada tanggal 5 Pebruari 2021, baru saya diberhentikan oleh kepala sekolah.

Kepala Sekolah menyampaikan kepada kami 8 orang guru dan pegawai tanggal 4 Januari 2021, bahwa saya tidak punya keinginan, tidak punya maksud untuk memberhentikan kamu semua. Kamu semua diberhentikan oleh ketua komite. Apa alasannya, kami pergi tanya di ketua komite, sementara kami di- SK kan oleh kepala sekolah?. Lalu pada tanggal 5 Februari 2021, kami 8 orang mendapat surat pemberhentian dari kepala sekolah. Lagi-lagi kepala sekolah melakukan kebohongan publik. Harkat dan martabat kami sebagai pribadi, sebagai guru dilecehkan, dinodai, direndahkan, dipermainkan oleh kepala sekolah.

Kami diberhentikan oleh kepala sekolah 5 Februari 2021, dengan SK, sementara kami punya honor komite belum juga tuntas pembayarannya. Kami minta di Bendahara, bendahara katakan harus omong dulu kepada kepala sekolah. Ketemu kepala sekolah, kepala sekolah menyuruh kami ke ketua komite. Kami ke ketua komite, ketua komite menyuruh kami ke Bendahara. Kami ke Bendahara lagi, bendahara katakan pergi ketemu kepala sekolah, kami meminta Hak kami, karena kami sudah bekerja di sekolah ini tidak dihargai oleh kepala sekolah. Kami punya keluarga dengan anak-anak kami.Kami seperti bola pingpong dipermainkan oleh kepala sekolah, sementara keringat darah kami tak dihargai oleh saudara Aloysius Tion sebagai kepala sekolah.

Sungguh aneh dia sudah berhentikan kami pada tanggal 5 Februari 2021 dengan surat keputusan. Tanggal 6 Februari 2021, dia buat surat panggil menghadap untuk pertanggung jawaban atas laporan kami tentang dia. Menurut kami, maaf kalau kami salah, kalau kepala sekolah saat ini dipanggil untuk diperiksa oleh Inspektorat provinsi NTT, dalam kewenangan sebagai apa Saudara Tion Aloysius, memanggil kami yang sudah dia berhentikan.

Begitulah model kepemimpinan yang ditampilkan oleh bapak Tion Aloysius selama ini. Terlalu banyak anehnya, kalau tidak mau dikatakan sangat ngawur dan merusakkan citra lembaga pendidikan di NTT, khususnya di Manggarai. Kami Minta cek semua lampiran dana BOS dan cek uji petik barang bukti perbelanjaan dan bukti fisik barangnya berada di sekolah.