Kasek SMKN I Wae Ri’i Angkat Bicara Terkait Polemik Yang Terus Berkembang

Daerah

Ruteng, SorotNTT.Com-Begitu banyak pernyataan dari berbagai pihak yang berkembang dipublik selama ini, atas polemik yang terjadi di SMKN I Wae Ri,i yang terus bergulir.

Tentu ini menimbulkan tanggapan pro dan kontra ditengah masyarakat, begitupun muncul beragamnya berbagai pendapat dari berbagai pihak atas polemik ini.

Kepada media ini, Kamis 17 september 2020, Kepala Sekolah(Kasek) SMKN I Wae Ri’i Yustin Maria D.Romas  menyampaikan tanggapanya atas polemik yang terjadi tersebut.

Kasek Yustin menyampaikan bahwa guru -guru komite di rekrut oleh kepala sekolah sejak SMKN I Wae Ri’i mengalami perkembangan yang sangat pesat, mulai dari jumlah siswa yang saya terima di tahun 2013 yang cuma 160 orang dengan 19 guru termasuk guru Negeri, sampai kondisi 3 tahun terakhir jumlah murid 1000 lebih, sehingga harus ada penambahan guru komite yang di gaji oleh komite dan terus ditambah tiap tahunnya.

Dalam rangka pemenuhan tenaga guru, kehadiran guru komite ini seharusnya disadari juga, kalau sekolah itu tidak berkembang tidak mungkin para guru komite dapat kerja atau terserap tenaga dan itu semua di setujui oleh komite dan komite sanggup memberi gaji yang layak.

Terkait guru-guru komite di bawah pimpinan saudara Fransiskus Jehoda yg ikut demonstrasi bersama guru-guru negeri itu, sejak tanggal 14 Juli 2020 tidak mau bekerja dalam kordinasi kepala sekolah tapi menuruti semua apa yang di kehendaki oleh Fransiskus Jehoda.

Setiap hari datang berkantor di ruangan lain, terus berupaya mengumpulkan bukti-bukti baru tentang kesalahan kepala sekolah, setelah sebelumnya laporan mereka ke gubernur dalam surat mosi tidak percaya semua penuh kebohongan dan fakta-fakta baru terus di angkat baik di depan Kabid GTK(guru dan tenaga pendidikan), Dinas P dan K Propinsi NTT,DPRD NTT Komisi V, yang semuanya sudah dijawab dan terbantahkan.

Namun guru-guru komite itu selalu menuruti kata-kata dari Fransiskus Jehoda yang mengatakan ini masih masa transisi, sehingga mereka menolak mendampingi siswa, serta menolak bertemu kasek.

Untuk beberapa guru Negeri, menolak tugas jadi ketua program dan jadi wali kelas, tidak mau mendampingi siswa, tidak mau menghadap kepala sekolah untuk mengambil tablet dengan alasan tidak mau ketemu kepala sekolah Karna masa transisi, menunggu kepala sekolah baru, bahkan ketika membutuhkan gaji baru mau ketemu kepala sekolah dan merapat ke kantor.

Ketika saya perlihatkan absensi dan foto -foto rapat yang mereka lakukan di ruangan lain di bawa kepemimpinan saudara Fransiskus Jehoda, mereka justru tetap tidak merasa tidak bersalah.

Bahkan dari ruangan guru Fransiskus Jehoda tetap mengendalikan mereka untuk tidak boleh menerima pembinaan dari saya, juga secara terang-terangan Fransiskus Jehoda minta lewat Wakasek kurikulum untuk saya tidak boleh melakukan pembinaan terhadap guru guru komite yang sudah 20-an hari tidak mengisi daftar hadir.

Selaku Kasek saya mengajak mereka untuk rekonsiliasi dengan menandatangani surat pembinaan terkait indisipliner, tidak mau bekerja dibawah koordinasi Kasek, yang dibuktikan dengan absensi dan foto-foto kegiatan mereka dengan saudara fransisikus jehoda.

Sehingga saya di desak oleh Komite yang menyaksikan ulah para guru komite untuk menolak perpanjangan kontrak dari mereka tersebut dan justru ini yang sangat di soroti oleh berbagai pihak yang tidak merasakan merasaka apa yg terjadi di lapangan.

Kondisi sekarang di SMKN I Wae Ri’i yaitu terjadi dualisme kepemimpinan, yang arahnya memboikot semua kegiatan kepala sekolah, seperti menghentikan rapat  Kepala Sekolah, Korwas, Komite dan orang tua siswa, menciptakan kekisruan pada rapat komite pertanggung jawaban keuangan dan pengajuan anggaran baru serta rapat sistem pembelajaran dimasa covid 19.

Saya selaku Kasek SMKN I Wae Ri,i juga sangat menyayangkan berbagai pihak tersebut, yang  tidak pernah menyoroti sedikitpun tentang ulah Fransiskus Jehoda dan kawan-kawannya yang berusaha memboikot jalannya pendidikan di sekolah.

Terkait kondisi ini, secara rutin saya sudah  laporkan ke pimpinan saya, setiap perkembangan yang terjadi dilapangan, sehingga tidak ada hal yang ditutupi, jelas Kasek Yustin.

Lebih lanjut Kasek Yustin menyampaikan bahwa para guru tersebut juga sudah melaporkan saya ke Polisi dengan dugaan penyelewengan dana Bos dan Komite; saya juga sudah di panggil klarifikasi oleh polisi dan saya siap jalani proses hukum ini, tegasnya.

Dijelaskan pula bahwa dalam kunjungan Pa Kadis P dan K NTT di Manggarai beberapa waktu lalu, mengarahkan untuk minta mereka menarik laporan di polisi, faktanya sampai saat ini mereka tidak lakukan itu, sehingga pernyataan Kadis untuk saya mengaktifkan lagi 15 guru itu, saya belum mengambil sikap karna proses hukum sudah berjalan.

Terkait adanya pernyataan diluar tentang 16 guru komite baru yg di angkat untuk tahun pembelajaran 2019/2020 itu berbeda jumlahnya, faktanya yang diangkat ada 9 guru baru dan 2 orang Satpam; pengangkatan para guru itu bukan di lakukan setelah 15 guru itu di tolak, tapi sejak bulan Juli sesuai analisis kebutuhan tenaga guru yang dilakukan oleh Wakasek kurikulum.

Kehadiran mereka sangat membantu bisa tetap berjalannya proses belajar mengajar di sekolah Karna yang saya rekrut ini guru-guru yg sesuai kompetensi jurusan yg ada demi pelayanan pendidikan yang lebih baik.

SMKN Wae Rii sudah melewati prestasi yang gemilang dalam kepemimpinan saya dari sekolah Modelnya NTT sampai di tetapkannya sebagai Pilot projek-nya Gubernur NTT mewakili SMK sedaratan  Flores.

Masa tidak di lihat sedikitpun sebagai bentuk prestasi kepala sekolah, malah saya terus di pojokan di vonis bahkan dituntut mundur oleh guru guru komite yang saya rekrut.

Lebih fatalnya lagi, guru-guru komite yg saya angkatan menuntut saya mundur padahal SK yang dia peroleh itusaya yang buat dan bahkan lebih naifnya dalam demonstrasinya mengatakan tidak melamar pada saudari Yustin Maria D.Romas tapi pada pemerintah .

Saya berkesimpulan para guru-guru komite tersebut tidak mengakui saya sebagai kepala sekolah, pertanyaanya pantaskah kondisi ini dianggap baik oleh semua pihak, tanya Kasek Yustin.

Saya mengharapkan keberimbangan cara menilai dari semua pihak yang mempunyai kepedulian atas polemik yang kami alami saat ini, bukan malah memperbesar polemik ini dengan memihak pada satu kelompok saja, saya menerima semua masukan yang baik dan saya tidak pernah menutup diri atas polemik ini, karna jiwa raga saya sudah saya pertaruhkan untuk kemajuan SMKN I Wae Ri’i ini, tutup Kasek Yustin.