Kasus Tenggelamnya Kapal KM Tiana Kini Memasuki Babak Baru

Labuan Bajo||Sorotntt.com,- Musibah tenggelamnya kapal wisata KM TIANA di perairan pulau Kambing Labuan Bajo pada 26 Juni 2022 yang lalu, sampai hari ini mengisahkan sebuah tanda tanya besar. Apa benar kapal wisata tersebut tenggelam karena faktor alam (force majeure) atau karena kesalahan manusia (human eror)?

Beberapa indikator ditemukan dalam proses hukum yang sedang berjalan di Polres Manggarai Barat. Sebagai penasehat hukum’ dari Kapten dan ABK KM Tiana, tentu saya menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Bagi saya, agar tidak menimbulkan sebuah polemik/kecurigan, kasus ini mesti mendapatkan kepastian hukumnya.  Hanya ada dua langkah yang paling efektif dalam penyelesaian kasus ini. Pertama, hentikan kasusnya SP3) atau Kedua, dilanjutkan ke pengadilan.

Faktor Penyebab Lain Dalam Kasus Ini

Ada banyak unsur yang saya temukan pada kasus ini. Baik sebelum peristiwa maupun setelah peristiwa tenggelamnya kapal wisata KM Tiana tersebut.

Complicated bahkan carut marut. Fakta ini semakin terang bahwa tuduhan kalalaian dan/atau kealpaan yang ditujukan kepada klien saya (Kapten dan para ABK) tidak bisa diterima sebagai sebuah kebenaran. Sebab untuk mengujinya tidak sebatas hanya satu indikator atau satu subyek hukum saja. Dan itu justru tidak adil secara hukum. Sebab jika tentang kelalaian/kealpaan, yang ikut serta melakukan kelalaian/kealpaan pada kasus ini justru dilakukan juga oleh pihak syahbandar dan juga pemilik kapal. Merekalah yang juga ikut bertanggung jawab pada musibah ini. “IKUT SERTA” Pasal 55 KUHP.  Hal ini justru menimbulkan pertanyaan mendasar saya. Mengapa hanya kilen saya yang menjadi tersangka dalam kasus ini? Apakah pihak yang saya sebutkan itu tidak ikut menjadi tersangka? Adilkah? Saya kira, masukan saya ini minimal menjadi attensi rekan -rekan penyidik di Polres Manggarai Barat.

BACA JUGA:  Insan Bumi Mandiri dan PT SMI Launching Program Pemberdayaan Tenun di Sumba

Dibawah ini saya beberkan kelalaian/kealpaan para pihak :

Pertama, Syabandar: ditemukan ada daftar penumpang saat “clearance” tidak sesuai dengan jumlah penumpang yang ada di dalam kapal. Yang dilaporkan jumlahnya 20 penumpang, Faktanya yang ada didalam kapal tersebut justru berjumlah 24 penumpang. Tampak jelas, bahwa syabandar lalai pada prosedur ini. Mestinya pihak syabandar wajib melakukan double cek atas semua hal, baik menyangkut izinnya maupun SOPnya. Rutenyapun demikian.  Kapal KM Tiana sesungguhnya harus ke  Pulau Komodo, namun faktanya KM Tiana justru melewati rute yang bukan jalurnya. Tampak jelas dugaan permainan rute pada kasus ini. Ada semacam pembiaran dalam kasus ini. Ternyata dalam praktek, hal ini sering terjadi. Faktor x lain, berdasarkan berbagai sumber dan keterangan, tampaknya kapal KM Tiana ini tidak memenuhi kualifikasi pelayaran. Fisiknya sangat kurus dan tinggi sehingga memudahkan kapal ini bisa tenggelam sewaktu-waktu. Faktor inipun menurut saya, syabandar ikut bertanggung jawab pada kasus ini.

Kedua, Pemilik Kapal : Saya mencatat unsur kesengajaan justru dimulai dari kelalaian pemilik Kapal. Ditemukan bahwa pemilik kapal ikut merekayasa jumlah penumpang dan rute perjalanan. Terbukti yang melakukan clearance justru pemilik kapal itu sendiri yang semestinya adalah tugas Kapten. Dia bersama keluarga yang lainpun ikut dalam pelayanan tersebut yang justru juga tidak masuk dalam daftar penumpang. Dari keterangan yang saya peroleh, situasi saat itu Kapten dan ABK dipaksa mengikuti perintahnya. Dalam perjalanan pemilik kapalpun membagikan minum beralkohol jenis bir kepada Kapten dan ABK yang mestinya tidak boleh dia lakukan. Dia menabrak semua SOP yang ditentukan dalam aturan pelayaran. Miris.

BACA JUGA:  Tuan Rumah Tersingkir, Laskar Pacar Angkat Trofi Turnamen Paroki Compang Final Volly Ball

Ketiga, Kapten: pada aturan pelayaran Kapten-lah yang paling bertanggung jawab atas nyawa penumpang (manusia). Pada sisi ini, dia lemah dalam menegakkan aturan dan standar operasional prosedur (SOP). Namun demikian, saya menduga kuat, yang membuat seorang Kapten dan ABK tak berdaya adalah campur tangan dan tekanan pemilik kapal yang over confidence melampaui kepatutan hukum.

Faktor Utama

Sampai pada tahap penyidikan ini, sebagai PH saya tentu memiliki kesimpulan yang berbeda dengan penyidik. Menurut saya, faktor penyebab lain tersebut diatas bukanlah penyebab utama tenggelamnya kapal KM TIANA. Namun yang terjadi adalah murni karena faktor alam. “Force Majeure”;  peristiwa diluar akal atau prediksi manusia.

Apa Indikatornya?

Lucus delicty atau tempat tenggelamnya Kapal Wisata KM TIANA terjadi di pulau kambing. Tempat ini dikenal sebagai tempat berlabuh (pemberhentian) kapal wisata yang ingin melanjutkan trip-tripnya.

Tempat ini dikenal sebagai tempat yang nyaman. Terbukti ada “MORING” yang sudah tersedia ditempat itu. Yang berlabuh disana saat itu, tidak hanya kapal wisata KM Tiana tetapi ada juga kapal KM Andar Lusia. Pada peristiwa ini KM Tiana tidak sedang melakukan pelayaran atau perjalanan. Dia berhenti atau berlabuh untuk menghindari cuaca buruk. Namun naas, sekitar pukul 05.00 pagi (dini hari 26 Juni 2022), badai angin menghantam tempat tersebut, sehingga menyebabkan KM Tiana tenggelam seketika.

Nyawa dua manusiapun meninggal pada peristiwa itu. Sebelum kejadian badai angin tersebut, sekitar pukul 02.00 dini hari signal  itu tampak mereka temukan dalam pelayaran sehingga memutuskan untuk berlabuh dan berhenti di pulau kambing. Kapten kapal saat itu tetap bersiaga untuk memastikan agar semuanya baik-baik saja. Terbukti  badai baru datang pada sekitar pukul 05.00 dini hari. Dan ketika itu kapten berteriak agar semua penumpang siap-siap menyelamatkan diri.

BACA JUGA:  Pimpin Acara Doa dari Rumah, Presiden: Usaha Lahiriah Harus Dibarengi Usaha Batiniah

Dari sinilah saya tidak menemukan bahwa kapten lalai dalam tugasnya. Memilih untuk berhenti dipulau kambing adalah sebuah pilihan yang tepat. Coba bayangkan kalau kapal tersebut dipaksakan terus berlayar. Bukankah justru menambah daftar manusia yang meninggal?.

Pada kasus ini, jujurnya kita tidak boleh menilai sepihak bahwa yang membuat nyawa manusia itu meninggal adalah karena kelalaian kapten semata. Menurut saya, unsur kelalaian sangatlah kecil untuk menemukan penyebab utamanya. Faktanya ada badai sebelum dan saat peristiwa terjadi. Ada durasi sekitar dua jam lebih mereka berhenti atau berlabuh dipulau kambing. Dua jam tersebut tempatnya dinyatakan nyaman. Tidak ada badai. Waktu terjadinya (tempus delicty-nya) baru sekitar pukul 05.00 dini hari.

Lantas Hukum Menghukum Siapa?

Demi Kepastian dan Keadilan hukum, sebaiknya kasus ini dihentikan saja (SP3). Kita tidak boleh memaksakan kasus ini dilimpahkan ke pengadilan. Ini justru menambah suram praktek penegakan hukum kita. Ditambah lagi si pemilik kapal justru telah merubah fisik kapal tersebut dimana itu menjadi barang bukti saat di persidangan nanti. Semakin suram sebab salah bukti materialnya justru tidak sempurna lagi. Inikah yang kita bawa ke pengadilan? mari kita periksa kembali kasus ini secara cermat. yang tidak boleh di dalam hukum adalah MENGHUKUM ORANG YANG TIDAK BERSALAH.

Oleh :
Plasidus Asis Deornay,
S.H, Penasehat Hukum Kapten & ABK KM TIANA.