Hak Jawab dan Klarifikasi Petugas Medis yang Dilaporkan Anggota DPRD Matim

Daerah

Borong, SorotNTT.Com–Christina Carvallo, Seorang tenaga medis yang bertugas di Puskesmas Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) telah dilaporkan ke Polres Manggarai Timur,Rabu(11/11/2020), oleh Sales Medi, seorang Anggota DPRD Matim dari Fraksi partai PDIP, Menyampaikan Rilis”Hak Jawab dan Klarifikasi” atas kronologis kejadian yang menimpa dirinya serta menjawab pemberitaan media yang ada, kepada Media SorotNTT.Com, Kamis(4/12/2920).

Kepada pembaca kami persilahkan untuk membaca secara utuh “Hak Jawab dan Klarifikasi” dari Christina Carvallo di bawah ini.

Hak Jawab dan Klarifikasi

Kepada Yth.
Pemimpin Redaksi: Floresmerdeka.com, RadarNTT.com dan Jendelaindo.com
di-Tempat

Dengan Hormat,
Terkait adanya berita di media-media yang saudara pimpin dengan judul:

Kecewa Pelayanan Puskesmas Borong, Keluarga Pindahkan Pasien Tengah Malam (Antara lain kami temukan melalui tautan berikut: https://floresmerdeka.com/kecewa-pelayanan-puskesmas-borong-keluarga-pindahkan-pasien-tengah-malam/)
Pelayanan Medis Buruk, Keluarga Korban Lapor Bupati Agas (antara lain kami temukan melalui tautan berikut: https://floresmerdeka.com/pelayanan-medis-buruk-keluarga-korban-lapor-bupati-agas/)
Pasien Rawat Inap Tinggalkan Puskesmas Borong Lantaran Kecewa (antara lain kami temukan melalui tautan berikut: https://radarntt.co/daerah/2020/pasien-rawat-inap-tinggalkan-puskesmas-borong-lantaran-kecewa/)
Merasa di Hina, “Salesius Medi” Polisikan Tenaga Medis Puskesmas Borong (antara lain kami temukan melalui tautan berikut: https://www.jendelaindo.com/2020/11/merasa-di-hina-medi-polisikan-tenaga.html).
Dengan ini saya mengirimkan Hak Jawab dan Klarifikasi terkait kejadian yang terjadi pada tanggal 06 November 2020 sekitar pukul 23.15 WITA di Unit Rawat Inap UPTD Puskesmas Borong, dimana dalam pemberitaan media saudara sangat merugikan saya karena tidak berimbang serta telah disebarluaskan ke publik melalui internet.

Adapun alasan mengapa saya tidak memberikan klarifikasi kepada wartawan yang berusaha mengkonfirmasi terkait masalah tersebut, karena kejadian ini terjadi saat saya sedang menjalan tugas di instansi tempat saya bekerja; dan saya sudah menceritakan semua hal yang terjadi kepada Kepala Puskesmas Borong dan Kabid SDK Dinkes Manggarai Timur. Dan saya diminta oleh Kabid SDK Dinkes Manggarai Timur untuk tidak mengeluarkan statement apapun kepada awak media, sebab pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur berjanji akan mengeluarkan berita klarifikasi melalui media yang dikelola Humas dan Kominfo Kabupaten Manggarai Timur. Tanggal 8 November 2020 saya sudah dimintai klarifikasi secara resmi oleh Kabid SDK Dinas Kesehatan kepada pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur dan saya bersama Kepala Puskesmas Borong sudah diwawancarai pula oleh pihak Humas dan Kominfo Kabupaten Manggarai Timur dan pihak mereka mengatakan akan segera merilis berita klarifikasi tersebut. Namun pada kenyataannya sampai pada detik ini kami semua menunggu, tetapi tidak ada satupun berita klarifikasi yang dimuat oleh media PEMDA, dan institusi tempat saya bekerja juga tidak mengklarifikasi terkait kasus yang menimpa saya ke media saudara.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya menyampaikan Hak Jawab dan Klarifikasi ini kepada media saudara secara pribadi, demi meluruskan berita yang telah Anda publikasi dan memulihkan nama baik saya. Dan diharapkan klarifikasi ini dimuat secara utuh dalam tempo 1×24 jam.

Kronologi kasus yang terjadi di ruangan rawat inap UPTD Puskesmas Borong pada hari Jumat 06 November 2020
Saya atas nama Christina Natalia Carvallo S.Kep,Ns selaku salah satu perawat yang bertugas di Unit Rawat Inap UPTD Puskesmas Borong pada malam tanggal 06 November 2020 dari pukul 21.00- 08.00 WITA akan menjelaskan kronologis kejadian yang terjadi pada malam itu.

Pasien atas nama Tn. Mateus Mundur, usia 58 tahun, alamat peot, pekerjaan petani, dirawat dengan diagnosis CKR+Multiple vulnus laceratum+ multiple vulnus excoriatum yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas di bawah pengaruh alkohol.
Beliau masuk UGD pukul 16.00 WITA dan dilakukan perawatan selama ± 5 jam sampai pukul 23.00 WITA. Pukul 22.45 petugas UGD menelpon petugas rawat inap untuk menyiapkan ruangan dan tempat tidur di ruangan pria bagi pasien ini. Pada malam hari itu yang bertugas adalah Saya dan teman saya bernama Herlina Roswita, kami segera menyiapkan tempat tidur dengan memasangkan laken pada kasur dan menyiapkan tiang infus disampingnya. Setelah ready, teman saya menelpon kembali ke UGD bahwa ruangan telah disiapkan lalu kami masing-masing memakai handscoon siap menerima pasien yang baru masuk. Kemudian pasien dipindahkan menuju ruangan rawat inap pukul 23.00 WITA oleh salah satu petugas UGD dan satpam menggunakan brankar diikuti oleh rombongan keluarga pasien yang berjumlah ± 10 orang. Setibanya di unit Rawat Inap pasien diantar menuju ke ruangan perawatan pria yang telah disiapkan. Perawat meminta bantuan keluarga pasien untuk membantu memindahkan pasien dari brankar ke bed No.2 yang telah disiapkan untuk pasien tersebut.

Perawat memandu keluarga untuk secara pelan-pelan dan berhati-hati mengangkat tubuh klien dari brankar dipindahkan ke bed. Setelah itu, perawat memastikan tubuh pasien benar- benar terletak dengan aman dan nyaman di tempat tidur. Teman saya herlin kemudian menerima laporan overan pasien dari petugas UGD di ruangan Nurse Station kurang lebih selama 5 menit, sedangkan saya mengambil stetoskop, tensimeter, termometer untuk mulai mengobservasi tanda-tanda vital dan menganamnesa kondisi pasien. Kami berdua sama-sama menuju ke ruangan pasien dan saya mulai menganamnesa pasien tersebut. Ketika ingin memulai anamnesa kami melihat cairan pasien habis dan kemudian teman saya segera bergegas mengambil cairan NaCL dan mengganti cairan pasien tersebut serta mengatur tetesan infus 20 tetes/menit sesuai instruksi dokter. Saat proses anamnesa berjalan, saya merasa suasana dalam ruangan perawatan tersebut sangat sumpek, panas, dan terasa sempit karena begitu banyaknya keluarga korban yang masih berdiri di samping tempat tidur pasien dan berada di dalam ruangan tersebut. Kemudian dengan sangat santun saya menyampaikan permohonan kepada keluarga pasien saat itu memakai bahasa Manggarai “Ende,tanta,om neka rabo toong eme kudut jaga bapa one ruangan hoo cukup sua ko telu ata kaut e, iwon ga gereng bepe’ang e..” yang dipertegas oleh teman saya Herlin “yang lain tunggu di luar e”, saat itu semua keluarga pasien mengangguk. Tetapi tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari arah belakang mengatakan “tunggu sebentar” dengan nada yang sangat ketus dan memerintah. Kemudian saya dan teman saya menoleh kebelakang dan melihat Seorang Pria bertubuh tinggi besar sedang duduk di bed pasien no 4 yang kosong sambil menunduk memegang Hpnya.

Kemudian saya dan teman saya memalingkan kembali wajah ke hadapan keluarga pasien dan saya menjelaskan bahwa “ kami yang bertugas di ruangan rawat inap malam ini yang bertanggung jawab dan memiliki wewenang untuk untuk mengatur segala sesuatu yang menyangkut kenyamanan dan keamanan pasien”.

Tiba-tiba Pria itu langsung berteriak dengan suara yang sangat keras dari arah belakang “Heiiii kau tidak dengar apa yang saya omong kah, saya sudah bilang tunggu sebentar baru mereka keluar karena mereka baru datang melihat pasien ini!!!” saya pun menjawab dengan nada yang datar saja “ om, saya tadi kan menjelaskan to’ong, sebentar, bukan saya menyuruh keluarga harus segera keluar sekarang” pria tersebut langsung menjawab dengan teriakan dan jari telunjuk tangannya menunjuk ke arah saya sambil mengatakan “heeee… jaga kau punya kata-kata!!! Saya pun menjawabnya “ memangnya ada yang salah dengan kata-kata saya om??? Saya kan menjelaskan baik-baik dengan keluarga, apa saya mengusir mereka???.

Lalu dia menjawab “ memang kau tidak usir tapi saya sudah bilang sebentar baru mereka boleh keluar!! Masih dengan suara yang melengking, membentak dan sambil tangan menunjuk-nunjuk ke arah saya. Saya pun menjawab “om, yang berhak mengatur jumlah pengunjung dan penjaga yang berada dalam ruangan pasien selain satpam ya kami perawat yang bertugas saat ini agar pasien bisa istirahat dengan tenang dan nyaman” pria itu langsung mengatakan “heiiiiii anjiiiing,,,,,,kau tidak tahu siapa saya? Sambil menunjuk dadanya dan kemudian tangannya di tunjuk ke arah saya.”

Saya pun menjawab dengan santai “maaf om kami memberikan pelayanan dan menerapkan aturan kepada seluruh pasien dan keluarganya tanpa pandang bulu, semua pasien dan keluarga kami perlakukan sama” saat itu seorang bapak dari keluarga pasien itu mengatakan baik ibu maaf dan menyuruh sebagian besar keluarga yang berada dalam ruangan itu keluar, sebagian besar keluarga pasien itu akhirnya keluar dan tersisa ±4 orang dalam ruangan termasuk Pria Tinggi Besar yang sebelumnya membentak, mengancam dan memaki saya.

Melihat hal itu, pria yang bernama Salesius Medi itu pun semakin emosi dan terus mengata-ngatai saya kemudian berjalan ke luar ruangan rawat inap. Saya dan teman saya tetap berdiri disamping pasien dan kembali fokus ke pasien dan melanjutkan proses anamnesa dan mengukur TTV pasien. Tidak dipungkiri hati saya sangat sakit mendengar kata-kata makian dari saudara Salesius Medi di depan teman saya dan seluruh keluarganya saat itu, rasanya ingin menangis tapi sekuat hati dan pikiran saya berusaha menahan air mata dan emosi. Saya pun mengatakan saat itu “saya tahu anda seorang DPR tapi anda tidak bisa semena mena seperti itu terhadap kami di tempat kami bekerja”

Setelah selesai mengobservasi dan menganamnesa pasien, saya dan teman saya kembali ke nurse station, melepas handscoon, mencuci tangan dan mulai mengisi status pasien. Saya dan teman saya sibuk melaporkan kondisi pasien lain bayi dengan pneumonia respiratory yang harus diobservasi ketat karen mengalami sesak nafas. Ketika saya sedang mengetik laporan kondisi pasien untuk dilaporkan ke dokter melalui Hp, saudara Salesius Medi datang ke depan nurse station dan menanyakan kepada saya “ nama Anda Christina Natalia Carvalo????” dan saya menjawab “iya om, ada apa?” dia langsung mengangguk-angguk sambil melihat ke arah Hp-nya dan berjalan kembali keluar.

Kami tetap melanjutkan pekerjaan kami, kemudian di luar saya mendengar dia menelpon seseorang dan menyebut-nyebut nama saya. Kemudian terdengar dia memaki-maki saya diluar bahkan dia menuju ruang UGD lalu mengatakan “saya perawat Anjing, perawat biadab, perawat pukimai, perawat acu, dan sebagainya” di depan semua petugas yang ada di UGD dan depan pasien serta keluarga pasien yang sedang dirawat di UGD. Dia juga mengatakan kepada teman-teman saya yang bertugas di UGD bahwa saya mengatakan dia baru jadi dewan sudah sombong, padahal saya tidak mengeluarkan kalimat seperti itu. Teman- teman saya yang bertugas di UGD saat itu dan mendengar semua perkataannya antara lain Zr. Syahrini, Zr. Karlin, Br. Ricky, Br. Aphu dan adik kandung saya sendiri Agusto Carvallo yang bekerja sebagai staf di UPTD Puskesmas Borong.

Kemudian dia masuk lagi ke ruangan rawat inap dan memandang saya sambil mengatakan “Christin Carvalo tunggu kau” lalu dia berjalan lagi keluar, saya tidak menghiraukan omongannya, saya tetap pergi ke ruangan pasien mengontrol semua pasien terutama 2 orang pasien anak yang sedang sesak dan terpasang oksigen. Kemudian kami kembali ke ruangan dan saat itu seorang pria bernama Marsi Supardi datang menanyakan siapa perawat yang bernama Christin Carvalo, lalu saya mengatakan saya kakak, ada apa ya? Kemudian dia mengatakan bahwa ibu Ani Agas ingin berbicara dengan saya by phone. Dia pun memberikan Hpnya pada saya yang saat itu sudah tersambung dengan Ibu Ani Agas. Ternyata Sales Medi menelpon Ibu Ani untuk datang ke Puskesmas saat itu, tapi beliau tidak bisa datang dan akhirnya berbicara dengan saya melalui telepon saja. Di telepon ibu Ani menanyakan beberapa hal antara lain dengan siapa saya bertugas saat itu di rawat inap, siapa-siapa yang bertugas di UGD, ada berapa jumlah pasien yang sedang dirawat saat itu, kronologis kejadiannya seperti apa, saya menjelaskan semuanya kepada beliau dan kemudian beliau berpesan tetap fokus melayani pasien seperti biasa , tidak perlu menunjukan muka yang cemberut, tidak usah menanggapi omongan dan sikap Sales Medi dan meminta kakak Marsi untuk menjaga kami di ruangan saat itu lalu telepon saya kembalikan ke kaka Marsi dan kak Marsi melanjutkan pembicaraan dengan ibu Ani. Saat saya sedang berbicara dengan ibu Ani di telepon, Sales Medi menguping pembicaraan kami dari luar ruangan dan berteriak “biar kau lapor semua di dia saya akan tuntut kau” tapi saya tidak menggubrisnya kemudian lanjut ke ruangan Bapak Mateus Mundur untuk melihatnya ternyata beliau sedang duduk di tempat tidur dan istrinya sedang menyiapkan makanan untuk beliau, lalu saya mengatakan “bapa makan yah,,supaya kondisinya bapa cepat membaik, lalu istrinya menjawab iyo ibu tapi bapaknya tidak mau makan. Lalu saya mengatakan lagi“bapa makan biar sedikit e karena bapa harus minum obat nanti ulu hati bapa sakit kalau tidak makan” tapi beliau hanya diam saja tidak mau menjawab. Kami pun pergi memeriksa saturasi O2 pasien bayi.

Kami tetap mendengar omelan-omelan Sales Medi di luar tapi kami tidak menghiraukannya. Kemudian dia kembali berjalan mondar mandir di depan nurse station sambil mengatakan akan memanggil seluruh wartawan untuk meliput kami dan mengatakan akan membawa masalah ini ke sidang paripurna. Kemudian dia keluar ruangan lagi dan dia menanyakan pada Bapak Elias selaku satpam di puskesmas Borong yang bertugas saat itu “ perawat itu statusnya sukarela,THL atau PNS” kemudian satpam kami menjawab “dia sudah PNS pak” Sales Medi pun diam.

Beberapa saat suasana di unit rawat inap begitu hening, dan sekitar pukul 00.45 Wita ibu Ani menelpon kembali dan bertanya apakah pasiennya minta pulang, saya menjawab ibu kami tidak tahu jika pasien minta pulang karena tidak ada keluarga yang datang untuk memberitahukan hal tersebut, lalu Ibu Ani menjelaskan mendapatkan informasi bahwa mereka ingin memindahkan pasiennya ke susteran, saya pun menjawab” ibu saya pergi memastikan dulu apakah benar mereka ingin pulang, jika benar maka wali syah dari pasien harus menandatangani surat pernyataan pulang paksa”dan Ibu Ani pun menyetujui hal tersebut.

Lalu saya meminta ijin pada ibu ani untuk mematikan Hp dan pergi menanyakan hal tersebut pada pasien dan keluarganya. Saat saya ingin keluar dari nurse station, Sales Medi berjalan cepat menuju ruangan pak Mateus dirawat sambil teriak “kami bawa pasien keluar dari sini” sambil menggerutu tapi saya tidak mendengarkan apa yang dia bicarakan kemudian dia berjalan keluar lagi. Saya dan teman saya pergi ke ruangan bapak Mateus dirawat, sesampainya disana ternyata seorang wanita bertubuh pendek,memakai baju merah sedang mengomel sambil menggulung tikar dan mengatakan mereka ingin keluar saja dari puskesmas. Lalu saya menanyakan pada pasiennya “ bapa tuung ngoeng keluar tite ce mai Puskesmas a?” pasien sedang duduk dan menunduk saja tanpa mengeluarkan satu katapun. Wanita berbaju merah itu pun menjawab “ee ite omong langsung saja dengan itu om yang diluar” dengan nada sangat ketus. Om yang dimaksudkannya adalah sales Medi. Lalu saya menjawab” maaf tanta saya hanya ingin berbicara dengan wali syah dari pasien ini istri atau anak kandungnya bahwa jika memang keluarga memaksa untuk segera pulang malam ini juga maka wali syah dari pasien harus menandatangani surat pernyataan pulang paksa artinya apapun yang terjadi pada pasien setelah keluar dari Puskesmas itu sudah bukan menjadi tanggung jawab kami petugas medis”.

Semua keluarga yang ada dalam ruangan itu langsung terdiam dan hening, lalu saya bertanya lagi pada istri pasien,”asa mama ngoeng kin kole a agu kondisi de bapa ne nggoo toe di di’a, ngoeng rawat le susteran Peot a? istri pasien ini menatap saya dengan mata berkaca-kaca dan dengan wajah yang tampak bingung dan murung, lalu dia menjawab “ ibu toe gori hia (bpk. Mateus) rawat le susteran, ngoeng kole mbaru kat”. Saya pun tidak ingin bertanya banyak lagi dan meminta istri pasien mengikuti saya ke ruangan perawat sementara teman saya herlin pergi ke unit UGD untuk mengambil persediaan surat pernyataan surat paksa, saat menuju ke ruang rawat inap teman saya ditegur oleh Sales Medi agar tidak perlu menandatangani surat itu namun teman saya tidak menanggapinya. Kemudian saya, teman saya, dan istri pasien duduk di ruangan perawat, lalu saya menjelaskan kembali cara mengisi surat pulang paksa itu kepada istri pasien, namun karena beliau merasa gugup menulis namanya dan suaminya maka saya membantu beliau untuk mengisi identitasnya dan suaminya kemudian dia menandatangani surat itu. Setelah menandatangani surat itu, beliau meminta maaf pada kami atas kejadian ini kami pun mengatakan tidak apa-apa mama yang penting rawat bapa di rumah dengan baik agar cepat pulih lalu saya memberikan obat-obat yang diresepkan dokter untuk diminum oleh pasien dan memberikan kertas resep untuk obat yang tidak ada di Puskesmas agar bisa dibeli di apotek luar. Seorang pria memakai topi datang ke ruangan perawat, dia merupakan salah satu dari keluarga pasien ini menanyakan separah apa kondisi pasien ini dan apa saja dampak yang bisa terjadi jika pasien tidak mendapatkan perawatan yang baik, saya pun menjelaskan kondisi saat ini pasien dan kemungkinan- kemungkinan yang akan terjadi dari cedera yang dialaminya dan juga luka-luka jahitan yang harus dijaga kebersihannya, pria itupun mengangguk-angguk dan memohon maaf berkali-kali atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh saudara Sales Medi.

Kami pun hanya tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa sudah menjadi resiko pekerjaan kami. Akhirnya teman saya Herlin menyiapkan peralatan untuk melepas infus pasien, namun wanita berbaju merah itu tidak ingin infus pasien dilepas sehingga mereka bisa membawa pasien dengan infusnya ke klinik Susteran. Kemudian teman saya menjelaskan bahwa jika pasien atau keluarganya memaksa untuk keluar dari puskesmas dan tidak ingin dirawat lagi maka apapun peralatan medis yang terpasang pada tubuh pasien harus dilepas, wanita itu pun terdiam. Lalu teman saya pun mulai membuka plester infus pasien dan melepaskan abocathnya, lalu menutup bekas tusukan dengan kapas dan plester.

Saat teman saya sedang melepas infus pasien, sales Medi menyuruh seorang wartawan mengambil foto teman saya tanpa izin terlebih dahulu. Sedangkan si Sales Medi berdiri Di depan Nurse Station dan mengarahkan kameranya ke wajah saya lalu mengambil gambar saya sambil mengatakan Christin Carvalo saya akan muat kau di surat kabar tapi saya tidak menghiraukannya karena sibuk menulis status pasien sebelum pasien pulang.

Tepat pukul 00.45 pasien dan keluarganya meninggalkan ruangan rawat inap namun sebelum sampai di depan Pintu keluar rawat Inap, Sales medi mengeluarkan kalimat ancaman kembali “ Tunggu ni Puskesmas akan saya bahas di Paripurna supaya di tutup saja sekalian kemudian dia kembali masuk lagi ke dalam ruangan menantang wajah saya sambil mengatakan pada saya” Christin carvallo, kau tunggu e!!!” dengan nada penuh ancaman, saya hanya menatap wajahnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia Pun pergi, dan kami melanjutkan pergi memeriksa pasien yang sesak.
Pukul 08.00 pagi saya pergi ke ruangan Kepala Puskesmas menghadap kepala Puskesmas Ibu Yosefina Nirma dan menceritakan semua kejadian yang terjadi. Ibu kepala pun mendengarkan semua kronologis kejadian itu dan meminta saya untuk tetap tenang dan menasehati beberapa hal. Setelah itu saya kembali ke ruangan rawat inap dan melakukan overan pasien dengan petugas jaga pagi lalu pamit pulang sekitar pukul 08.35 wita. Saat masih di tengah perjalanan sekitar pukul 08.45 wita saya di telepon oleh seorang teman di Puskesmas Saudara Aris bahwa ada dua orang wartawan yang datang mencari saya dan meminta nomor telepon saya, karena sebelumnya ibu Ani Agas dan Kepala Puskesmas sudah meminta saya untuk tidak mengeluarkan statement apapun dengan wartawan maka saya menolak memberikan nomor Hp saya. Tapi para wartawan itu terus menanyakan nomor Hp saya pada teman-teman tapi teman-teman saya tidak mau memberikannya. Wartawan itu mendapatkan informasi alamat rumah saya dan mereka berusaha mencari alamat rumah saya dan sekitar pukul 12.00 wita ada tiga orang wartawan ke rumah orang tua saya, satu wartawan yang masuk sampai di teras rumah saya sedangkan dua orangnya menunggu di bawah jalan depan gerbang. Wartawan yang masuk ke teras itu adalah saudara Ondik seorang wartawan yang berdomisili di Jawang juga. Dia memberikan ucapan selamat siang pada ayah saya yang kebetulan saat itu sedang duduk di teras rumah. Bapa membalas salamnya dan menanyakan keperluan wartawan itu datang ke rumah. Dia menjawab ingin mengantar 2 wartawan yang di depan gerbang rumah itu karena mereka meminta bantuannya untuk menunjukkan alamat rumah dan ingin mewawancarai saya, lalu menjawab bahwa sedang tidur karena baru pulang dinas malam. Bapa saya mempersilahkan wartawan itu duduk dan memanggil temannya dua orang lagi itu tapi mereka hanya terus berdiri di depan gerbang. Melihat itu saudara laki-laki saya Yonan Carvallo kemudian pergi ke arah gerbang menemui 2 wartawan itu. Kemudian menanyakan maksud dan tujuan kedatangan mereka, mereka menjawab ingin mewawancarai saya terkait persoalan yang terjadi di ruangan rawat inap jumat malam itu. Kakak saya menjawab adik saya sedang tidur karena baru pulang dinas malam, kemudian kaka saya meminta KTP dan Kartu wartawan aktif dari kedua wartawan tersebut tapi mereka tidak mau memberikannya dan mengambil motor mereka bergegas pulang. Melihat kedua temannya tadi itu sudah pergi, wartawan yang duduk bersama ayah saya tadi itu pun tampak kebingungan dan meminta pamit pada ayah saya dan kemudian pergi.
Pukul 14.35 wita saya bangun tidur dan ayah serta kakak saya menceritakan kejadian itu dan meminta saya untuk tidak cemas dan tetap tenang. Saya pun masuk dinas malam ke 2 seperti biasa pukul 21.00 wita dan melaksanakan tugas saya malam itu seperti biasa dengan teman saya Br. Robert dan sekitar pukul 00.05 kakak perempuan saya menelpon memberitahukan bahwa nama saya sudah dimuat di media Flores Merdeka. Saya Pun meminta kakak saya untuk tetap tenang dan tidak usah menanggapi. Ketika saya membaca berita itu, saya hanya tersenyum karena 98% yang diberitakan itu sangat direkayasa. Tapi saya diam saja tidak berkomentar sedikitpun pada media itu dan tidak mau menanggapi semua tuduhan yang ditujukan pada saya. Mereka salah menyebut nama ayah saya juga di media itu tapi kami tersenyum saja dan tidak berkomentar.
Setelah itu, pada Senin 8 November saya dimintai klarifikasi secara resmi oleh Kabid SDK Dinkes Matim yaitu Ibu Ani Agas terkait kronologis kejadian malam itu. Setelah berita klarifikasi saya selesai direkam dan diketik oleh staf Ibu Ani, saya pun dibawah oleh Ibu Ani untuk bertemu Kadis Humas Kabupaten Manggarai Timur Bapak Bonifasius Sai di kantor beliau. Ibu Ani menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami serta menceritakan secara singkat apa yang terjadi malam itu. Pak Boni menerima baik kedatangan kami dan menyimak semua hal yang Ibu Ani sampaikan dan beliau memberikan kekuatan pada saya agar tak perlu takut dan tetap bekerja seperti biasa dalam melayani pasien. Beliau pun mengatakan akan mengutus beberapa stafnya baik dari Humas maupun Kominfo untuk terjun langsung ke Puskesmas Borong untuk mewawancarai Kepala Puskesmas Borong termasuk saya. Kami pun pamit dari kantor beliau, saya kembali ke Puskesmas dan memberitahukan Kepala Puskesmas proses yang saya lalui hari itu. Tidak lama kemudian Para staf dari seksi Humas dan Kominfo berjumlah tiga orang datang bertemu Kepala Puskesmas Borong, saya pun dipanggil untuk bersama-sama mereka memberikan keterangan. Mereka meminta saya menunjukan SOP Rawat Inap menyangkut pelayanan dari saat pasien masuk ruang rawat inap sampai seluruh aturan jumlah pengunjung serta jam berkunjung. Pihak Humas dan Kominfo meminta saya pula mengantarkan mereka langsung ke Unit Rawat Inap, saya memandu mereka melihat tempat pasien itu dirawat dan mereka meminta izin terlebih dahulu untuk mengambil gambar terkait beberapa aturan yang ditempelkan di ruangan pasien tersebut, juga aturan-aturan yang ditempelkan di luar kamar pasien dan di depan pintu masuk Ruang rawat Inap. Setelah itu kami kembali lagi ke ruangan ibu kepala Puskesmas dan melanjutkan seksi wawancara. Setelah merasa cukup keterangan yang diberikan oleh Ibu kepala Puskesmas dan saya, salah seorang dari mereka mengatakan akan segera menyusun redaksinya dan sesegera mungkin akan diterbitkan berita klarifikasi tersebut lalu mereka pun berpamitan.
Pada tanggal 11 November 2020 sekitar pukul 20.00 wita saya dikirimi screenshoot foto halaman depan dari berita yang dimuat oleh media Jendela Indo bahwa saya telah dilaporkan di kepolisian oleh saudara Salesius Medi pada hari itu. Saya hanya mengatakan pada keluarga saya agar tetap tenang dan jangan terpancing emosi. Saya pun langsung mengirimkan screenshot foto itu ke Ibu Ani Agas dan beliau mengatakan agar saya tidak perlu panik, tetap tenang, beliau langsung menemui Bapak Kapolres Kabupaten manggarai Timur saat itu. Pukul 21.00 Wita bapak Sekretaris Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Manggarai Timur langsung mengirim pesan melalui whatsapp kepada saya bahwa beliau baru membaca berita itu dan meminta saya untuk hadir dalam pertemuan bersama Ketua PPNI kabupaten Manggarai Timur dan jejaringnya bersama Ibu Ani dan stafnya.

Pukul 09.00 wita 12 November 2020, saya bersama Ibu kapus Borong dan juga Ibu Komisaris PPNI Cabang Borong tiba di Dinas Kesehatan Manggarai Timur dan menuju ke ruangan Ibu Ani untuk mengikuti pertemuan tersebut. Ternyata beberapa kepala Puskesmas se-Kabupaten Manggarai Timur pun menyempatkan diri untuk mengikuti pertemuan ini. Pertemuan pun dipandu oleh Sekretaris PPNI dan dibuka oleh Ketua PPNI Kabupaten Manggarai Timur. Pertemuan ini membahas antara lain tentang kasus yang terjadi dan yang sudah dilaporkan ke pihak kepolisian oleh saudara Salesius Medi. Banyak masukan dari kepala-kepala puskesmas, ibu komisaris PPNI Borong, dan dari peserta rapat lainnya. Intinya organisasi PPNI siap mendukung dan mendampingi saya dalam Proses Hukum. Kemudian Ibu Ani mendapat telepon, kami diminta untuk ke kantor DPRD Kabupaten Manggarai Timur dan di sana kami bertemu langsung dengan Bapak Ketua DPRD Manggarai Timur, Wakil Ketua 1 dan Ketua 2 DPRD, Ketua Komisi C DPRD beserta anggota Komisi C. Dalam rapat intern tersebut Ketua DPRD memberikan apresiasi terhadap petugas kesehatan yang sudah melayani dan menyelamatkan camat (calon mati) dan beliau menegaskan bahwa masalah yang sedang terjadi bukanlah masalah lembaga tapi personal. Beliau sangat menyayangkan peristiwa seperti ini harus terjadi dan dimuat di media-media massa. Beliau meminta seluruh petugas kesehatan untuk tetap tenang dan melayani para pasien dengan sepenuh hati, jangan takut dengan masalah yang sedang dihadapi, memang ini butuh proses untuk diselesaikan. Jika ada api hendaklah teman-teman petugas kesehatan menjadi air, jika ada yang tidak sehat hendaklah teman-teman yang menjadi sehat, jika ada yang tidak teratur hendaklah teman-teman menjadi teratur dan meminta maaf atas kejadian ini. Ketua Komisi C pun mengungkapkan rasa terima kasihnya pada seluruh petugas medis dan akan mendiskusikan hal ini dengan para anggota komisi C dan mengatakan agar saya tidak perlu merasa takut karena sudah dilaporkan di kepolisian, tetap bekerja seperti biasa, jangan sampai petugas mogok kerja hanya karena masalah ini, kasihan para pasiennya.

Tanggal 16 November 2020 saya ditelepon oleh Kasat Reskrim Polres Manggarai Timur untuk bertemu beliau hari itu, akan tetapi saat itu saya sedang tidak berada di Borong, saya sedang membawa anak saya yang sedang sakit untuk berobat ke Ruteng. Akhirnya saya dan beliau sepakat untuk bertemu keesokan harinya di Kantor Polres Manggarai Timur.
Tanggal 17 November 2020 sekitar pukul 10.30 Wita saya tiba di Borong dan langsung menuju Kantor Polres Manggarai Timur tanpa didampingi siapapun. Dan kemudian bertemu secara langsung dengan Bapak Iptu Deddy selaku Kasat Reskrim Polres Manggarai Timur. Beliau menerima kedatangan saya dengan sangat ramah dan santun, dan menjelaskan kepada saya maksud beliau memanggil saya yaitu untuk meminta klarifikasi terkait kasus yang dilaporkan saudara Salesius Medi. Saya pun menceritakan kejadian itu secara jujur sesuai dengan fakta yang terjadi saat kejadian, seperti yang saya paparkan di atas.
Keterangan saya itu diketik oleh penyidik sebagai Berita Acara Pemeriksaan terhadap saya sebagai terlapor. Bapak Kasat Reskrim saat itu juga meminta saya agar teman saya Herlin yang bertugas bersama saya malam itu untuk bisa hadir memberikan keterangan. Saya menelpon teman saya dan dia pun siap untuk dimintai keterangan. Teman saya pun tiba di Polres, setelah saya selesai dimintai keterangan oleh penyidik saya pun dimohon menunggu di luar dan meminta teman saya masuk untuk diambil keterangan sebagai saksi. Sekitar pukul 12.30 kami selesai diperiksa, kami pun mohon pamit kepada Pak Kasat dan Penyidik lalu kembali ke Puskesmas untuk melanjutkan Dinas Siang.

Tanggal 19 November 2020, saya kembali ke kantor Polres Matim bersama Bapak Antonius Ador, S.H selaku kuasa hukum saya,Ibu Yuli selaku Komisaris PPNI Cabang Borong, Ibu Yosefina Nirma selaku Kepala Puskesmas Borong, Ibu Yosephina Carvallo selaku kakak tertua saya dan saudara bungsu saya Agusto Carvallo untuk melaporkan balik saudara Salesius Medi ke Polres Manggarai Timur atas kata-katanya yang telah menghina, mengancam dan mencaci-maki saya saat kejadian tanggal 6 November itu. Pihak kepolisian menerima kami dengan baik dan saya bersama kuasa hukum saya langsung dipersilahkan untuk memberikan laporan. Setelah laporan diambil, berkas kami langsung diserahkan ke penyidik dan kemudian diambil Berita Acara pemeriksaan. Setelah itu penyidik menginformasikan untuk mempersiapkan saksi-saksi terkait laporan kami dan menunggu panggilan dari kepolisian untuk memberi keterangan terkait laporan ini.
Dan pada tanggal 26 November 2020 pihak kepolisian memanggil para saksi datang ke Polres untuk memberikan kesaksian.

Pada tanggal 30 November Bapak Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur meminta kakak saya – yang juga salah staf di Dinkes Manggarai Timur – untuk menelpon saya agar segera datang ke Dinkes bersama kedua orang tua kami. Saat itu, meskipun saya sedang menjalankan dinas pagi, saya meninggalkan pekerjaan dan menuju ke kantor Dinkes di Lehong bersama adik saya. Sedangkan orang tua saya yang diwakili ayah saya berbicara melalui telepon kepada Bapak sekretaris Dinkes Manggarai Timur. Orang tua saya tidak mendatangi kantor Dinkes Manggarai Timur karena mereka tidak mau kehadiran mereka terkesan mengintervensi keputusan dinas terhadap kasus yang saya hadapi. Kemudian ayah saya mengutus kakak dan adik saya sebagai perwakilan mereka saat itu.

Tiba di kantor Dinkes Manggarai Timur, saya dipersilahkan masuk ke ruangan Bapak Sekretaris bersama Bapak Ketua dan Sekretaris PPNI Kabupaten Manggarai Timur, Ibu Maria Yosephina Carvallo dan saudara Agusto Carvallo. Dan Pak Sekretaris Dinkes memulai pertemuan kami dan menjelaskan bahwa Ibu Kadis, Sekretaris dan beberapa Kabid sudah melakukan rapat intern dan memutuskan bahwa saya akan dimutasi sementara ke Puskesmas Kisol atau Puskesmas Waelengga dengan pertimbangan mengikuti keinginan saudara Salesius Medi, sebab pada Jumat tanggal 27 November 2020, kata Bapak Sekretaris Dinkes Manggarai Timur, saudara Salesius Medi mengamuk di kantor DPR, membanting semua buku-buku RKA, meja serta kursi di ruangan sidang karena pihak Dinas belum memutuskan untuk memindahkan saya dari Puskesmas Borong.

Menurut Bapak Sekretaris Dinkes Manggarai Timur, aksi saudara Selesius Medi sempat mendapat perlawanan dari beberapa rekan anggota DPR lainnya, namun akhirnya situasi bisa dikendalikan dan dia meminta agar saya segera dipindahkan. Kalau saya pihak Dinkes Matim sudah memindahkan saya, maka dia (Selesius Medi) akan mencabut laporannya di kepolisian.

Pihak DPR pun memanggil kembali Sekretaris Dinkes untuk berdiskusi dan meminta saya untuk mengalah terhadap saudara Salesius Medi. Atas dasar itu, Kepala Dinas dan Sekretaris Dinas Kesehatan Manggarai Timur meminta saya untuk bersedia dipindahkan.

Setelah itu, Bapak Sekretaris Dinkes Manggarai Timur meminta pendapat Ketua PPNI Kabupaten Manggarai Timur. Bapak Ketua PPNI Kabupaten Manggarai Timur mengatakan bahwa beliau menolak keputusan Dinkes yang akan memindahkan saya dari Puskesmas Borong.

Menurut Bapak Ketua PPNI Kabupaten Manggarai Timur, jika pihak Dinkes Manggarai Timur mengikuti kemauan saudara Selesius Medi untuk memindahkan saya ke tempat lain, maka itu sangat tidak adil, karena tidak ada pelanggaran praktik profesi dan kode etik yang saya lakukan. Dan jika saya dipindahkan berarti membenarkan apa yang dikatakan Salesius Medi bahwa saya salah.

Kemudian Pak sekretaris Dinkes Manggarai Timur meminta pendapat saya. Jujur saat itu saya sangat shock mendengar keputusan pihak Dinkes yang seperti itu. Sakit, kecewa, dan saya tidak kuasa menahan air mata. Saya menangis. Saya tidak pernah menyangka bahwa institusi tertinggi tempat saya mengabdi mengambil keputusan yang sangat tidak adil seperti ini terhadap saya dan saya pun menjawab sambil menangis bahwa saya tidak menerima untuk dipindahkan. Saat bermasalah dengan saudara Salesius Medi, saya hanya menjalankan SOP yang sudah ditetapkan, saya tidak melakukan pelanggaran kode etik profesi malam itu.

Kakak dan adik saya yang juga bekerja di bawah naungan Dinkes yang juga ikut hadir menemani saya saat itu bersuara menolak dengan tegas keputusan tersebut.
Bapak Sekretaris Dinkes Manggarai Timur terus meminta saya untuk mempertimbangkan keputusan Dinkes tersebut. Kemudian kakak saya meminta izin terlebih dahulu untuk memberikan kami waktu berdiskusi dan mempertimbangkan hal ini. Kemudian kami pun pulang.

Sesampainya di rumah, sekitar pukul 13.24 Wita saya mendapatkan telepon dari Bapak Bernadus Nuel selaku Wakil Ketua I DPRD Manggarai Timur. Dalam pembicaraan via telepon itu, beliau memohon agar saya menjadi air dan mengalah terhadap saudara Salesius Medi. Saya diminta untuk bersedia dipindahkan sementara -selama tiga bulan – di Puskesmas Kisol atau Puskesmas Waelengga. Saya pun menjawab “Bapak saya bukan barang, kenapa saya yang harus dikorbankan demi kepuasan Medi??? bukan saya yang memuat berita macam-macam di media, bukan saya yang membawa masalah ini ke rana hukum, saya hanya menjalankan SOP kami dan sebagai warga negara yang taat hukum, saya akan mengikuti prosedur hukum, karena kasus ini sudah diproses di kepolisian. Jadi dia harus bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dia perbuat.”.
Demikian klarifikasi saya tentang kronologi kejadian pada jumat malam 06 November 2020 di Unit Rawat Inap UPTD Puskesmas Borong sampai saat saya dimintai untuk bersedia di mutasi sementara. Terima kasih.

Borong, 01 Desember 2020

Christina Natalia Carvallo, S.kep,Ns
NIP. 19881210 201403 2 005