Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al-Thani

Kunjungan Wisata Emir Qatar dan Rombongan di Maumere

Opini

Kunjungan Emir Qatar, Syekh Tamim bin Hamad Al-Thani dan rombongannya, sebagai wisatawan ke Flores, khususnya ke Maumere, akan semakin memperkokoh posisi Pulau Flores sebagai kawasan strategis bahkan super strategis pariwisata, karena memiliki potensi dan pengaruh penting dalam aspek pertumbuhan ekonomi, sosial budaya, sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup dan pertahanan keamanan. Kunjungan ini juga sekaligus memperkuat alasan penolakan masyarakat NTT terhadap program Wisata Halal dari Kementerian Pariwisata yang pada beberapa waktu lalu hendak diterapkan oleh BOP Labuan Bajo Flores namun mendapat resistensi dari masyarakat NTT, karena dinilai bertentangan dengan konstitusi.

Kunjungan Emir Qatar dan rombongannya ke Maumere dan beberapa tempat lain di Flores dan Alor NTT, diharapkan dapat mengakhiri perdebatan panjang soal perlu tidaknya Wisata Halal diterapkan Kementerian Pariwisata di Flores khususnya kawasan wisata di bawah Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo, Flores yang beberapa waktu yang lalu sempat jadi polemik menghebohkan dunia pariwisata NTT. Mengapa, karena ternyata wisatawan sekelas Emir Qatar dan rombongan tidak mempertanyakan apakah di Flores ada program Wisata Halal atau tidak, begitu juga masyarakat lokal, Maumere, Flores pun tidak memberi syarat apa pun termasuk apakah Emir Qatar dan rombongan harus diterima dan diberlakukan Hukum Adat Budaya Maumere atau tidak.

Ini semua karena kedatangan Syekh Tamim bin Hamad Al-Thani dan rombongan betul-betul murni sebagai rekreasi dan sudah paham dengan hukum positif negara Indonesia, sehingga Emir Qatar dan rombongan bisa langsung menuju ke obyek wisata Teluk Maumere untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau untuk mempelajari dan menikmati keunikan daya tarik wisata, yaitu keindahan alam Taman Laut, Teluk Maumere sebagai tempat menyelam terpopuler dan beberapa tempat lain di NTT. Emir Qatar dan rombongannya sudah tahu bahwa sebagai wisatawan, mereka terikat kepada hukum Indonesia yang mewajibkan setiap wisatawan menjaga dan menghormati norma agama, adat istiadat, budaya, dan nilai-nilai yang hidup dalam “masyarakat setempat”. 

Kunjungan wisata Emir Qatar harus menjadi pelajaran bagi semua pihak terutama Kementerian Pariwisata bahwa tidak semua destinasi wisata dengan status super prioritas dapat diterapkan program Wisata Halal. Hukum positif kita, khususnya UU Kepariwisataan dengan tegas menyatakan, “Kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia dan hubungan antara manusia dengan lingkungan, keberagaman budaya dan kearifan lokal.”

Sebagai Kepala Negara, Emir Qatar dan rombongannya sudah pasti memiliki informasi lengkap tentang kondisi geografis, kultur masyarakat dengan toleransi yang tinggi, masyarakat majemuk dengan mayoritas beragama Katolik, dengan adat budaya yang berbeda di setiap kabupaten, sehingga Emir Qatar dan rombongannya dengan kepercayaan penuh datang berkunjung, sekaligus bagi warga Muslim Flores ini merupakan sebuah kunjungan kehormatan, karena bersamaan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri dimana sebagian warga Flores yang Muslim sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri. Ini menjadi bukti bahwa faktor budaya dan keindahan alam Pulau Flores, NTT yang menjadi tujuan utama kunjungan Emir Qatar, bukan persoalan ada atau tidaknya program Wisata Halal di Flores bahkan di Indonesia.

Petrus Selestinus
Pengamat masalah hukum dan sosial budaya di NTT