Cerpen LDR oleh Fenan Jabur

L.D.R

Cerpen Sastra

Pagi ini seperti pagi biasanya, Gal pergi ke kampus setelah menghabiskan secangkir kopi pahit dan sebatang rokok L.A Bold kesukaannya. Ada yang lain hari ini, langit memang cerah tetapi tidak dengan hatinya. Yang ia bawa ke kampus hanya lah fisiknya saja, sementara pikiran dan selebihnya masih ada pada sosok gadis bernama Gina.

Pergi ke kampus hanya untuk melengkapi kolom tanda tangan di absen memang suatu hal yang sia-sia. Namun itulah yang ia lakukan di awal pekan ini. Riuhnya kelas tidak sedikit pun membuatnya tertarik, apalagi untuk mendengar dosen yang berbicara panjang lebar dari mimbar. Sungguh, awal pekan kali ini adalah awal pekan paling sial semasa ia mengenyam pendidikan di kampus itu.

Beberapa bulan lalu, tepatnya bulan Desember pada tanggal yang tak lagi diingatnya, ia mengambil suatu keputusan berani. Keputusan atas rasa yang selama ini dipendamnya dalam dada dan dibiarkannya tubuh dalam diam. Bagi orang lain, mungkin terlalu berlebihan jika itu dikategorikan sebagai keputusan berani, tetapi tidak baginya. Keputusan itu bermula dari story WhatsApp (WA) seorang gadis yang memang sejak lama ia naksir. Hanya saja ia selalu dilanda rasa cemas dan selalu malu-malu untuk menyatakannya.

Story WA berupa foto dan tulisan yang sangat menarik itu membuatnya tergila-gila. Ia merasa ditantang untuk segera mengungkapkan isi hatinya, saat itu juga. Story itu kurang lebih berbunyi begini;

“Saat aku tidak lagi mencari seseorang untuk membuatku bahagia, aku justru lebih nyaman dengan kesendirianku sembari menunggu seseorang yang betul-betul dikirim Tuhan untuk menjadi sandaran kepalaku saat kelelahan, menjadi pelawak saat aku penat dan menjadi teman saat untung dan malangku”

Bagi Gal, story berisi tulisan yang berlatar foto gadis, cinta terpendamnya itu adalah peluang emas untuk menyatakan isi hatinya. “Kapan lagi kalau bukan sekarang,” katanya dalam hati. Sesekali ia memeremkan mata dan menghela napas panjang. Kali ini, puisi-puisi yang pernah digoresnya bermunculan di kepalanya. Namun dari semuanya, tak satu pun yang bisa mewakili isi hatinya kali ini. Kemudian ia menengadah ke langit-langit kamar, lalu menengok ke dalam dirinya, mengukur kuatnya getaran pada jantungnya, dan dengan hati-hati sekali ia memutuskan untuk segera mengetik kalimat pendek di keyboard handphonenya.

“Saya tunggu di ujung masa mudamu, Gin.”

Pesan itu diketiknya dengan jari yang gemetar dan perasaan cemas tingkat dewa. Ia cemas kalau-kalau pesan itu tidak dibaca atau dianggap hanya permainan kata-kata semata.

Satu setengah gelas air putih dihabiskannya dalam waktu yang sangat singkat. Namun pesan itu belum juga dibaca. Pengandaian-pengandaian bermunculan di kepalanya. Rasa resah dan gelisah mulai mengusai isi kepalanya. Berkali-kali ia membaca pesan itu, berkali-kali juga ia ingin menghapusnya lagi.

Kurang lebih sepuluh menit setelah pesan itu dicentang biru, handphonenya berdering.

“Hehhe. Gal… saat masa muda itu akan berakhir, aku akan memilihmu dan belajar untuk mencintaimu sampai tua menjemput. Mulai sekarang kamu adalah rumah, tempat aku berpulang dengan ridu yang menggunung”.

Ah, seketika rasa bahagia memenuhinya. Bagaikan anak kecil yang baru mendapat mainan baru kesukaannya. Dadanya dielus-elus seakan mau menjinakkan jantung hatinya yang tengah berusaha melompat dari tempat kediamannya. Seluruh isi kamar terasa riuh. Angin di luar rumah turut gembira. Bintang-bintang di langit malam itu tertawa riang setelah mengintipnya kegirangan. 

Malam itu adalah malam bersejarah, malam pertama kisah ini dimulai.

************

Hari-hari dilaluinya dengan bahagia. Ucapan selamat pagi, siang sore dan malam hampir menjadi rutinitas yang tak pernah terlewatkan. Senyum sudah lebih lebar dari biasanya. Tertawa juga sudah semakin lepas dari biasanya. Mereka mengisi hari-hari dengan penuh gairah. Beratus-ratus puisi tercipta. Dari puisi rindu, gembira, sampai pada puisi galau.

Pernah ia menulis begini;

Gina
Aku ingin kita berlari menemukan perjumpaan
Sebelum rasa rindu kita jadi hambar
Dan cinta yang menetas di hati kita jadi mati
Aku ingin kita kembali ke kampung halaman kita
Menemui senyum yang pernah terpancar
Memungut cinta yang pernah terjatuh
Aku ingin mengakhiri masa muda kita bersama-sama
Mengikrarkan janji suci di altar Tuhan
Dan menjalin cinta sehidup sampai mati
Aku ingin tertawa riang bersamamu
Menyaksikan anak-anak bermain di halaman rumah
Atau menyaksikan rambutmu yang berantakan saat bangun tidur
Aku ingin kita berkecup mesra di hadapan cucu-cucu kita
Meski bibir kita sudah agak mengering
Dan tangan kita sudah lemah untuk memeluk lebih kencang lagi
Setelah segalanya terkabul
Entah aku, entah engkau
Kita sama-sama menanti kehendak Tuhan yang paling terakhir
Semoga.

Memang bukan baru kali ini Gal menyatakan perasaannya kepada perempuan. Itu sudah hampir lebih dari lima kali. Bahkan sama seperti ini juga, maksudnya, ia tak pernah ditolak alias selalu disambut baik oleh perempuan yang ia tembak. Tapi dengan perempuan berambut puisi bernama Gina ini, sungguh lain dari yang lain. Mungkin karena Gina adalah cinta pertama yang tumbuh diam-diam sejak ia masih di Sekolah  Dasar. Dan memang jika ditanya, siapa yang paling memikat hati Gal dari kesepuluh perempuan sekalipun termasuk Nikita Willy? Ia pasti menjawab, Gina. Gina adalah pujaan hati yang tak tergantikan.

Waktu berjalan begitu pelan. Hari-hari diganti minggu dan bulan. Semuanya mengalir bagai air. Terkadang mengalir lurus saja, terkadang juga harus terbentur dengan batu dan terkadang juga harus terjun dari ketinggian.

Dalam perubahan waktu tersebut, berbagai macam tantangan menimpanya. Ia hampir tak pernah berpikir bahwa ternyata LDR itu terkadang membawa malapetaka. Mulai dari tersiksa karena rindu, cemas, curiga, cemburu sampai pada timbulnya rasa saling tak percaya. Belum lagi muncul semacam prasangka-prasangka buruk yang tak berdasar, pokoknya ada-ada saja yang membuat mereka merasa asing satu sama lain.

Prasangka buruk muncul di suatu malam bersama datangnya hujan yang mengguyuri kotanya:

“Selamat malam Gal, jangan anggap aku baik-baik saja, di sini. Hatiku sedang sakit. Kepalaku hampir pecah. Teganya kamu, Gal”.

Sebelum Gal membalas pesan itu, pesan yang satu muncul lagi;

“Gal, tolong jujur. Gadis itu, siapa? Yang itu? Dan yang itu lagi siapa?”

Sebetulnya kali ini Gal dilanda kebingungan. Apa sebabnya Gina bertanya begitu. Tapi sudahlah, ia akan membalasnya satu per satu. Biar Gina puas dan masalahnya segera kelar.

“Selamat malam Gin. Baiklah aku langsung menjawab pertanyaanmu. Gadis yang itu adalah adikku. Maksudnya, aku sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri. Entah lah, kedekatan itu muncul begitu saja setelah perkenalan dua tahun lalu. Kami pernah tiga kali bertemu dan… ya begitulah. Rupanya kami cocok jadi sahabat. Soal rasa yang lebih dari sahabat, sejauh ini aku sendiri belum menemukannya. Kami sering kasi kabar. Sering sekali, bahkan hampir setiap pagi, siang dan malam. Hanya begitu. Selebihnya tidak ada. Begitu, Gin.

Soal yang itu dan yang itu tuh adalah teman goresku. Maksudnya kami menjadi dekat karena memiliki bakat yang sama, yaitu menyukai puisi. Kami sering tukar kirim puisi. Mereka itu baik. Sangat baik.”

Itu saja, Gin. Ada pertanyaan lagi?”

Pesan itu dikirimnya dengan harapan bisa menjelaskan segalanya pada Gina. Belum hitungan menit, pesan itu dicentang biru, pertanda Gina talah membuka dan akan membacanya.

“Sudahlah, Gal. Saya tidak tahu harus bagaimana. Harus berkata apa. Besok baru kita lanjut. Saya mau tidur. Daaa…”

Seketika semuanya terasa gelap. Pikirannya gelap, malam berubah menjadi lebih pekat dari biasanya. Ditambah lagi hujan yang dengan sangat derasnya menghajar atap rumah. Pada malam itu, basahnya tanah tak sebasah hatinya. Banjirnya air di kali tak sebanjir rasa sakit di hatinya. Bunyi rintik hujan di atap rumah seakan-akan sedang membuatnya emosi. Ia benci semuanya. Benci dengan hujan. Benci dengan gelap. Benci dengan bintang. Benci dengan semuanya.

Hari-hari tragis dalam hubungan mereka dimulai pada malam itu.

***************

Kopi pagi, kopi siang, kopi sore, tidak lagi senikmat biasanya. Langit cerah, sejuk dan panasnya hawa terasa sama saja. Begadang sampai larut malam tanpa melahirkan satu buah pun puisi menjadi kebiasaan baru. Berbagai upaya dilakukannya untuk sedikit lebih tenang. Jalan-jalan keliling kota, pergi mencari keheningan di tempat doa atau bergabung dengan teman-teman untuk tertawa bersama. Semuanya. Semuanya belum mempan secara maksimal untuk membuatnya sedikit normal. Buku-buku dibacanya sampai sepuluh bahkan puluhan halaman, namun tak satu kalimat pun masuk di kepalanya. Mengalir begitu saja, baca begitu saja.

Sudah empat hari mereka tak saling kabar. Story-story yang sempat dipostnya tak satu pun dilihat oleh Gina. Padahal isinya hampir semuanya tentang Gina. Kalaupun dilihat, mungkin diabaikan begitu saja tanpa membaca isinya. Semuanya terasa asing. Mereka seperti orang asing yang belum pernah saling kenal.

Sempat putus asa dan berupaya untuk bersikap bodoh amat. Namun rasa-rasanya tidak bisa. Setiap kali membuka WA, ia selalu mendapati Gina sedang online. Betapa tidak sakit hati? Melihat Gina online tanpa mengirim sepotong kalimat pun hanya membuat hatinya tambah buyar dan berantakan. Sementara setiap kali Gina memosting story di WA, ia pasti selalu melihatnya. Ia tahu kalau itu sangat tidak adil. Ia juga sadar kalau cintanya bertepuk sebalah tangan. Tetapi memastikan Gina selalu baik adalah suatu hal yang menurutnya wajib dilakukan.

Tibalah pada suatu sore, di mana Gal merasa perlu untuk bertanya dan memastikan apakah Gina masih menyimpan tanya dan segala macamnya, sehingga hubungan mereka renggang begitu.

“Sore ini sangat asing, Gin.
Segala macam pertanyaan tentangmu memenuhi kepalaku
Kemudian muncul semacam rindu
Lalu jalan merangkak menujumu
Dengan malu yang penuh
Dan Tanya yang banyak
Ia tahu kalau kedatangannya tak diharapkan lagi
Namun ia tetap merangkak
Ia hanya mau memastikanmu
Masih mengenal dia atau benar-benar sudah lupa
Selebihnya biar ia tanggung sendiri.”

Sajak sederhana yang melukiskan isi hatinya ini dikirimnya sore itu juga. Masih dengan harapan yang sama; Gina akan membaca dan membalasnya dengan polos. Namun sudah satu jam lebih pesan itu belum juga dibalas meski sudah dicentang biru. Ia merasa perasaannya semakin digantung. Ia semakin geram. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengetik pesan lagi, lagi, dan lagi.

 “Selamat malam, Gin. Maaf mengganggumu untuk ke sekian kalinya. Kali ini saya datang hanya untuk menanyakan satu hal; Kita tetap lanjut atau cukup? Jawablah dengan jujur, Gin. Sudah terlalu lama kau gantung perasaan ini. aku sendiri sudah merasa seperti orang paling bodoh yang tidak bisa meyakinkanmu.  Supaya jelas dan pusingnya juga tidak terlalu lama ,,, ayolah.. Jawab sekang, Gin”.

*************

Sehari berlalu begitu saja tanpa ada jawaban dari Gina. Ia pun menulis lagi;

“Kalau memang kau ingin mengakhiri kisah ini, akhiri saja dengan indah, Gin. Cukup sepuluh tahun lalu kita bertingkah seperti kanak-kanak. Sekarang usia kita sudah cukup dewasa, kan? Soal kamu tidak suka denganku, itu hakmu yang tidak bisa aku paksakan. Aku pasti hargai itu. Intinya kamu omong, Gin. Omong apa-adanya. Supaya aku juga cepat move on dari keterpurukan ini. Dari kegilaan ini. Ayolah… Aku mau dengar kau bilang, kita lanjut atau kita berhenti. Itu saja. Selebihnya biar kita omong baik-baik.

 (NB: kalu kamu tidak menjawab,  ini adalah pesan terakhirku. Selebihnya, entahlah.)”

Pesan itu dicentang biru begitu cepat. Lalu beberapa menit kemudian ia melihat Gina sedang mengetik. Cukup lama. Mungkin ia sedang menyusun kata yang bisa menerangkan perasaannya.

“Selamat malam, Gal. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tidak tahu harus omong apa. Benci padamu, tidak sama sekali. Pokoknya saya benci dengan ketidaktahuanku ini. Mohon berikan aku waktu untuk bisa menjawab ini. Untuk diketahui, aku tidak sedang menggantung perasaanmu, Gal. Aku juga tidak sedang baik-baik saja. Aku juga sangat pusing dengan diriku sendiri yang tidak bisa bertanggung jawab akan hal ini. Ahhh.. Tuhannn…”

Setelah membaca pesan ini, ia kembali memeremkan matanya sambil sekali-kali menghela napas panjang. Kali ini ia benar-benar pusing bukan kepalang. Ia sungguh tidak paham dengan Gina yang tiba-tiba seperti itu. Padahal ia telah menjelaskan semuanya tanpa sedikit pun yang tersembunyi. Satu jam lebih pesan ini dibiarkannya begitu saja tanpa membalas sekata pun.

Baiklah, Gin. Keputusanmu adalah hakmu. Aku tidak bisa memaksamu untuk menjelaskannya sekarang. Mungkin ada baiknya kita beri waktu untuk mendengar suara hati kita masing-masing sambil menakar berapa besar rasa cinta yang ada di antara kita. Gunakan waktumu sebaik mungkin. Kita ketemu di hari Sabtu. Aku sendiri akan memutuskan untuk offline beberapa hari ke depan. Mungkin begitu lebih baik. Semoga saja.

Kamu harus selalu baik di sana, Gin. Semoga berkat Tuhan mengindahkan hari-harimu. Tabe”

Lalu beberapa menit kemudian Gina menjawab;

Ok, Gal. kamu juga baik-baik di sana. Usahakan makan tepat waktu. Tidur juga tepat waktu. Terima kasih karena kamu selalu baik denganku, Gal. Selamat malam.

Kali ini, hati Gal agak membaik meski tanda tanya menggenang di kepalanya. Dari awal ia memang selalu meyakini bahwa komunikasi itu penting sekali dalam sebuah hubungan. Apalagi LDR, yang terpisah jarak dan waktu.

Dari pengalaman ini, ia mulai mengerti tentang sifat dari makhluk yang bernama perempuan itu. Lalu pada suatu senja yang lain, ia pernah menulis begini;

Perempuan itu seumpama cangkir. Sekali kau membenturnya pada batu, maka ia akan pecah dan kau hanya dapat menambalnya tanpa bisa membuatnya kembali seperti cangkir yang asli.

Dan pada kertas yang lain lagi ia menulis begini;

Setidaknya aku sudah berusaha, Gin. Soal engkau bersedia atau tidak, itu adalah pilihanmu. Aku akan selalu siap menerima keputusanmu .

END

Fenan Jabur
Penyuka puisi dan cerpen. Tinggal di Maumere