Langit-Langit Cekung Kapel Sanpio

Sastra


Oleh: Gerard N. Bibang

I.

Pada langit-langit cekung kapel sanpio
ke mana membuang langkah terukir dalam motto:
opus justitiae pax – bahwa damai adalah kerja keadilan
adalah nafas bagi lelaki wela runus manggarai dan nusa bunga
yang memulai pengembaraan di jagat raya

Di bawah naungan langit-langit cekung kapel ini
tertancap sebuah titik mulai
sebuah petualangan kemerdekaan menyusuri seluruh wilayah, bidang, garis, titik-titik, ketinggian, kedalaman dan cakrawala
yang menantang jiwa rebah di bumi, kemudian terbang kembali ke segala penjuru langit tujuh
sejauh-jauh kaki merengkuh

Bergema di lembah ini sebuah tembang kenangan
tentang taman sari medan bhakti
mengalun sunyi pada setiap sanubari
mengorkestra, mengalir, berlompatan, berhembus, terbang melayang, menelusup dan menyelam
menyapa setiap kemungkinan, menyentuh segala probabilitas
memandang horizon nun jauh di sana
mendekap cakrawala di rahim rahasia dirinya

Mimpi pada motto di langit-langit cekung itu
bukan halusinasi lelaki yang hobi tidur
ia adalah spirit menyentuh langit dan menyapa rembulan
dengan lempo haeng leso, langkas haeng ntala, uwa haeng wulang
melompat menggaet mentari, mengais keadilan
membumikan Kerajaan Allah yang diajarkan Sang Guru berabad-abad silam

Jalan kerja adalah jalan keadilan
untuk menjadi lebih baik dengan bantuan Roh Ilahi
bukan untuk memiliki lebih menurut kehendak raga dan dunia
jalan keadilan adalah jalan menjadi lebih manusiawi
menuju jagat diri nan abadi
pergi pagi pulang sore
seperti sabda para leluhur: dempul wuku, tela toni , duat gula we’e mane
tumpullah kukumu sejak pagi menguras punggung
melibas kemalasan sebagai hal tabu
karena manusia malas adalah raga tanpa jiwa
yang layak diberi hujatan:: la’it merkani , hang perkakas
makanlah duburmu hingga tubuhmu dibenam ke dalam liang batu

Dari langit-langit cekung itu
menetes cahaya Sang Tritunggal
yang memecah diri-NYA dalam ekaristi kudus
yang menyebar, menabur, menjagat mensemesta, meruang tanpa sisa, mewaktu, bertualang menembus jagat
menjadi bunyi dan warna, kata dan makna

Dalam diri lelaki bocah itu
cinta-NYA menjadi daging dan tinggal di antara kita
mendendang nyanyian pada gitar, pada terompet dan saksopon
melampiaskan rindu pada tabuhan drum
menyatakan cinta dari belakang punggung para pemain drama
bermanja dan pura-pura mengeluh di sinar biola
meneriakkan janji kasih sayang
memekikkan rasa menyatu, sambil bermain sembunyi-sembunyi
dan kejar-kejaran di gang-gang dan di taman pada waktu senggang


Catatan:
• Opus justitiae pax (Latin) = Damai adalah hasil kerja keadilan, motto Sri Paus Pius XII, pelindung Seminari Kisol, Manggarai, Flores, NTT.
• Wela Runus = Bunga perdu warna kuning keemas2an yang mekar di tanah lembab, terutama pada musim hujan dan musim tanam. Dalam cerita rakyat Manggarai, Wéla runus adalah seorang gadis cilik yang cantik. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya disebuah kampung. Kampung mereka kira-kira 5 km jaraknya dari hutan lebat. Pada suatu musim tanam, penduduk kampung itu membuka lahan ditepi hutan lebat. Kedua orang tua Wéla Runu juga mengerjakan kebun di lahan itu. Sekitar enam bulan padi dan jagung berbuah. Burung gagak, pipit, kakak tua serta burung-burung yang lain setiap hari memakan padi dan jagung para pemilik ladang itu. Ibu Wéla Runu setiap hari pergi ke kebun menghantarkan makanan untuk anaknya.
• Dempul wuku, tela toni , duat gula we’ mane= ungkakan bahasa Manggarai yang berarti: tumpul kuku, rekah punggung, kerja sejak pagi, pulang petang hari, pergi (kerja) pagi, pulang petang), sebuah spirit kerja keras yang menjadi daya juang.
• La’it merkani , hang perkakas = ungkapan bahasa Manggarai: jilat kontol, makan anus / dubur/pantat/ anu. Sebuah olok-olokan dan sinisme tajam untuk kemalasan sebagai watak yang tidak terpuji. Kemalasan meruapakan hal yang tabu karena kemalasan mendatangkan kemiskinan, tak ada apa-apa yang bisa dimakan. Orang yang miskin karena malas selalu diperolokan dengan ungkapan di atas.
• Lempo haeng leso, langkas haeng ntala, uwa haeng wulang = Melompatlah /berjuanglah hingga mencapai matahari, berkembanglah tinggi mencapai bintang dan bertumbulah hingga mencapai bulan. Ungkapan ini menyiratkan orang Manggarai yang memiliki tujuan hidup yang terungkap dalam idealism dan mimpi. Mimpi ini melambangkan harapan orang Manggarai akan hidup yang lebih baik, apapun dan siapa pun dan di mana pun berada.

(tmn aries, jkt:sabtu:14.10.2017, cuplikan bagian pertama (I) dari Puisi LANGIT2 CEKUNG KAPEL SANPIO)