Cerpen Im Kartini - Lonia

LONIA

Cerpen Sastra

Terkadang aku suka bertanya-tanya. Apakah cuma aku yang memiliki kebiasaan aneh ini. Aku sendiri yang menyebutnya aneh, karena belum pernah aku bertanya kepada orang lain. Hatiku sendiri yang berkata “aneh lo Riel.” Sejauh ini, aku menikmati kebiasaanku ini. Entah sejak kapan? Mungkin sejak seseorang menanamkan semacam chip kebiasaan ini pada otakku. Seseorang itu adalah “Alexandro Griel Causi”, diriku sendiri.

Ah sudahlah, seharusnya aku masih bersyukur ini bukan kebiasaan buruk. Ini juga bukan kebiasaan yang melanggar hukum. Buktinya, belum ada tu yang protes atau merasa di rugikan. Aku juga belum pernah berurusan dengan pihak berwajib. Bahkan “tuan putri” yang serumah denganku tidak pernah tahu. Aku memang cuma tinggalkan berdua dengan mama di rumah. Papa sudah lama meninggal dunia. Sejak aku masih SD. Jadi, apa sih yang mama tidak tahu tentang aku? Tetapi, untuk kebiasaanku yang satu ini, beliau kalah selangkah.

Untuk kebiasaanku yang satu ini, cuma kamarku dan segala isinya yang tahu. Itu pun kalau benda-benda itu paham. “Mereka” kan cuma benda mati. Oh ya, aku sangat tidak setuju dengan sebagian orang yang sering menjudge benda mati sebagai “saksi bisu”. Ah, bagaimana mungkin? Benda tak bernyawa menjadi saksi? Bisu? Bisu kan sebutan untuk manusia yang tidak mampu berbicara. So “saksi bisu” untuk menilai benda-benda mati? Tidak cocok, hehe.

Aku mulai memejamkan mataku. Bukan hendak terlelap. Aku memulai kebiasaanku. Kebiasaan membayangkan kembali semua kejadian seharian penuh yang telah kulalui. Sebelum aku membayangkan semuanya, jangann harap aku bisa terlelap. Tidak peduli, bagaimana capeknya diriku. Seperti telah di setel otomotis, aku melakukan ini tanpa di komando. Berbaring di kasur, berarti petualangan kenangan segera dimulai. Bak sebuah monitor, kenangan itu mulai ditayangkan satu per satu tanpa melewatkan satu kejadian. Sesepele apapun kejadiannya, masih terekam jelas. Semuanya, sejak aku membuka mata tadi pagi, hingga kejadian beberapa detik yang lalu. Shampoku yang tumpah, Odolku yang jatuh ke westafel, nasi goreng buatan mama, senyum tukang koran cilik, tiupan peluit Pak Polisi di persimpangan jalan, guraun teman di kampus, tubuh sexy Bu Dewi dosen favorite kaum adam, warna kutek si cewek centil ‘Amanda” yang suka merayuku, wajah “antagonis” menyeramkan Pak Rudi dosen pembimbingku, hujan, jalanan licin, kecepatan sepeda motornya, lampu merah, lampu merah, gerombolan orang menyeberang, senyum mama saat menyambutku pulang, makan malam, musik yang kudengar, yang masih mengalun lembut…… Kemudian… Ah sial!!!.. seharusnya aku sudah masuk ke Alam mimpi. Ini tidak seperti biasanya. Seperti ada orang yang memencet tombol mundur pada remote control. Mundur, mundur, mundur, dan berhenti pada kejadian di lampu merah. Gadis bergaun biru langit . Berdiri kebingungan. Sepertinya hendak menyeberang. Namun, dia tidak kunjung melangkah mengikuti gerombolan orang yang telah menyeberang. Berpayungkan langit abu-abu, berdiri di atas karpet basah, diterpa angin sore beraroma hujan, berlatarkan deretan bunga-bunga manis milik toko bunga di belakangnya,  ada dia sebagai pelengkap sendunya sore yang baru ditinggal hujan.  Di antara hiruk pikuk kesibukan Kota, di antara banyak manusia, di antara ketidaksabaran hati menunggu lampu hijau, ada dia yang berbeda di sana. Di persimpangan jalan. Siapakah dia? Untuk pertama kalinya aku mengkhianati tuan putriku.

BACA JUGA:  Teman Jadi Cinta

* *

Pukul 16.15 WIB. Aku mengendarai sepeda motorku. Membelah jalanan yang cukup ramai. Masih dengan rute yang sama. Pulang ke rumah. Aku baru pulang dari kampus. Kali ini aku memacu kuda besiku ini dengan kecepatan tinggi. Aku tidak sabar ingin segera beristirahat. Hari yang  melelahkan dan hari yang tidak cukup bersahabat. Bukan karena hujan seperti kemarin. Namun, ini aku gagal membujuk Pak Rudi. Sia-sia aku memasang wajah memelas di depan beliau. Aku memohon agar beliau segera menanda tangani surat rekomendasi ujian skripsi untukku. Ah, dosen yang satu itu telah membentengi dirinya dengan ketegasan dan konsistensi yang luar biasa. Padahal aku ingin cepat-cepat lulus. Aku tidak ingin terus membebani tuan putriku. Walaupun mama terlihat santai, namun aku tahu mama juga ingin aku cepat lulus. Aku juga ingin melihat mama berhenti bekerja, biar aku saja yang bekerja menggantikan mama sebagai tulang punggung. “Ma…, Maafkan aku….” .

Setelah beberapa menit aku menyusuri jalan sembari berkutat dengan pikiran tentang skripsiku, tibalah aku di persimpangan. Lampu merah kemarin. Oh Tuhan, seperti sebuah film yang diputar ulang, gadis bergaun biru langit…lagi-lagi gadis itu. Rambutnya, wajahnya, masih sama persis. saat sore ini langit tidak -lagi abu-abu dan jalan tidak lagi basah , namun ada dia yang tidak berubah. Masih dengan gaun biru langitnya …

* *

Keesokan harinya.  Aku terlanjur berjanji kepada diriku sendiri. Janji jika aku melihatnya lagi, maka aku harus mengajaknya berkenalan. Singkat cerita, perkenalan kami sesuai harapanku. Awalnya dia malu-malu. Namun, lama-kelamaan dia  menyambut niat baikku dengan ramah. Langit biru yang nampaknya sedang menyaingi biru gaunnya berpihak kepadaku. Sejak perkenalan itu, birunya rindu selalu menemani malamku. Namanya Lonia. Aku belum menanyakan nama lengkapnya. Dia tidak banyak berbicara. Sepertinya dia tipe orang yang tidak mudah percaya dengan orang baru. Apalagi dengan lelaki tampan seperti aku, hehe… Banyak pertanyaanku tidak dijawabnya, salah satunya alasannya selalu berdiri di persimpangan itu. Aku tidak terlalu memikirkan sikap tertutupnya, yang penting dia mau berkenalan denganku. Dilihat dengan jarak dekat, wajahnya sungguh menawan. Dipolesi make up tipis dengan kesan natural. Ah… Dia sama cantiknya dengan tuan putriku.

BACA JUGA:  Surat Untuk Lia

* *

Seminggu sudah kami berkenalan. Kami selalu janjian bertemu di persimpangan aku. Selalu ada dia yang setia menungguku. Tiada satu hari pun yang kulewatkan untuk datang menemui Loniaku. Walau sekadar berdiri di sana. Di persimpangan itu kami bagaikan sepasang kekasih yang tidak kebagian tempat ngedate. Kekasih? Aku hanya merasa demikian. Entah berapa kali lampu lalu lintas berubah merah, kami tetap setia berdiri di sana. Bercengkerama dan tertawa bersama. Dia masih pendiam. Lebih banyak menjadi pendengar setia ceritaku. Pernah sekali, entah karena godaan setan atau merupakan peristiwa alamiah, aku berniat mengecup pipinya. Siapa yang tidak tergoda, wajah menawan itu… Ah.. Namun niatku harus kutarik kembali, saat bibirku hampir menyentuh pipinya, dia berpaling sambil pipinya bersemu merah. Aku pun tidak kalah gugupnya. Mengalihkan pembicaraan. Lupakan pikiran nakalku. Namun, otak nakalku berbisik “mungkin lain Kali…”. Hingga aku pamit pulang, dia masih di sana. Dia melambaikan tangannya. Dia akan tetap menatapku hingga aku semakin jauh dan dia menghilang dari tatapanku. Ya.. aku juga selalu menatapnya melalui kaca spion motorku.

* *

Sabtu sore, aku datang menemuinya lagi. Aku menyerahkan sekuntum mawar putih. Setelah diterimanya mawar itu, dia mengajakku pergi. Akhirnya… Aku membuka segel sikap tertutupnya.

“Lon.. kita mau ke mana?”

“Tugasmu mengendarai sepeda motormu. Hati-hati jangan sampai kita celaka.”

“Kamu mau menculik aku ya?”

“Hahhahahahaha… Kamu bawel Riel. Udah jalan aja.”

“Siap Lonia cantik…!”

Aku mengendarai sepeda motorku mengikuti petunjuk jalan termanisku. Lonia duduk dengan tenang di belakangku, sambil terus menjadi guide spesialku. Ah, ingin rasanya kuraih tanganya agar dia memelukku. Dia benar-benar gadis berbeda. Aku tersenyum malu-malu, sambil menepis pikiran kotorku. Akhirnya dia mengisayaratkanku berhenti. Tepat di depan sebuah gerbang. Entah gerbang apa, karena mataku tidak bisa melihat apa-apa. Sepertinya kami telah tiba di tujuan kami. Sebenaraya tujuan Lonia, aku cuma mengikuti. Dia turun dari sepeda motorku. Aku memarkir sepeda motorku. Lonia segera membuka pintu gerbang itu dan masuk. Aku mengikutinya tanpa bertanya. “Wow….” aku mengekspresikan rasa kagumku. Di hadapan kami, lautan bunga mawar putih. Ternyata kami datang ke sebuah kebun bunga. Kebun mawar putih. Aroma mawar-mawar itu seperti menyatu dengan aroma tubuh Lonia. Mawar-mawar yang merekah itu, indah… Senada dengan senyumana Lonia. Dia terus berjalan tanpa kata. Aku hanya terus mengikutinya. Ketika kami telah sampai di tengah kebun, kami duduk di sebuah bangku berwarna biru langit. Tiba-tiba dia berkata “Riel, kamu tahu mengapa aku suka biru dan mawar putih? “. Aku cuma menatapnya tanpa suara. Dia melanjutkan “karena biru itu langit, dan putih itu awan. Saat aku menatap langit, awan putih itu berubah menjadi mawar indah merekah.” Aku menggeser posisi dudukku, mendekatinya. “Pulanglah Riel, terima kasih telah mengantarku…” . Dia bangit lalu mulai berjalan meninggalkanku. “Lonia….! Ada apa?.. kamu mengusirku?”

BACA JUGA:  Pengkhianatan

“Pulanglah, tuan putri menunggumu!”

Dia terus berjalan menjauh, di antara bunga-bunga itu, gaun birunya masih jelas terlihat. Aku hendak  mengejarnya. Badanku terasa berat. Aku mencoba bangkit, namun tidak bisa. “Lonia….! Lonia…!”. Tiba-tiba badai datang. Hujan dan kilat menggelegar. Kebun itu lenyap.

* *

Aku membuka mataku. Pertama aku melihat ruangan serba putih. Mama duduk di sampingku, menggenggam tanganku dengan erat.

“Ma…”

“Riel… Terima kasih Tuhan kamu sudah sadar…”

“Ma…”

“Sudahlah sayang.. jangan banyak bicara, mama panggilkan dokter dulu.”

Mama segera berlari keluar. Aku masih kebingungan. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Belum sempat aku memulihkan ingatanku, mama kembali dengan seorang dokter. Dokter itu segera memeriksaku, kemudian membicarakan sesuatu dengan mama.

“Ma.. Ada apa ma? Aku di Mana?”

“Sayang… Kamu seminggu koma. Mama kawatir sama kamu. ” Kata mama sambil berlinang air mata. “Riel, kamu yang kuat ya nak.. janji ya.. kamu harus kuat..”

“Ada apa ma..”

“Lonia Riel..” mama terisak .

Oh Tuhan, Loniaku. Lonia kekasihku. Gadis pemilik toko bunga di persimpangan jalan. Gadis yang sudah tiga tahun menjadi kekasihku. Tiba-tiba aku mengingatnya, hanya dengan sekali sebutan namanya.

Mama mulai bercerita, tentang kecelakaan yang kualami seminggu yang lalu. Saat itu aku baru pulang dari kebun bunga di pinggir Kota. Kebun bunga milik Lonia. Aku memboncenginya, saat kejadian naas itu menimpa kami. Nyawanya tidak tertolong. Aku menangis mengenangnya. Jadi seminggu ini, cuma kejadian di bawah Alam sadarku? Ah, mengapa aku tidak mengenalnya? Seharusnya aku langsung mengenalnya. Bagaimana mungkin aku bisa lupa, kisah perkenalan pertama kita dulu?

Bagaimana aku akan melewati malamku, jika tak Ada lagi kamu dalam “film kenangan” sebelum tidurku? Mulai sekarang, aku benci kebiasaan anehku.

Lonia…., Tetaplah menjadi mawar putih dan langit biruku.

* *.

Oleh: Im Kartini