aksi solidaritas Front Mata Mera Makassar

Mahasiswa Lembata di Makassar Gelar Pentas Seni Tolak Pembangunan Awololong

Daerah

Makassar, SorotNTT.com – Ratusan Pelajar dan Mahasiswa asal Lembata yang tergabung dalam Front Mahasiswa Lembata Makassar Merakyat (Front Mata Mera) menggelar pentas seni dengan tema “Menolak Pembangunan Awololong di Wakop Ogi’e” di Jl. Abdullah Daeng Sirua Kota Makassar. Seperti rilis yang diterima media ini pada Selasa (26/02/2019).

Kegiatan ini berlangsung Senin (25/02/2019) pukul 20.00 Wita. Pentas seni ini melibatkan banyak organisasi daerah asal Lembata, diantaranya Himpunan Pelajar Mahasiswa Islam Kadang (HIPMIK), Himpunan Mahasiswa Asal Ile Ape (HIPMIA), Himpunan Pelajar Mahasiswa Lembata (HIPMALTA). Sebelum pentas seni dimulai, Koordinator Aliansi Front Mata Mera dan masing-masing lembaga yang tergabung dalam Front Mata Mera menyampaikan sikapnya atas pembangunan Awololong.

Koordinator Front Mata Mera, Manaf Abdul Hakim dalam sambutannya mengungkapkan bahwa dari hasil kajian dan diskusi panjang akhirnya Front Mata Mera mengambil keputusan menolak pembangunan Jembatan Titian, Kolam Renang Apung dan Pusat Kuliner serta fasilitas lainnya di Pulau Siput atau Awololong dan menyarankan kepada Pemda Lembata bersama DPRD Kabupaten Lembata mengalihkan anggaran pembangunan di Awololong untuk membangun infrastruktur dasar.

salah seorang koordinator aksi solidaritas Front Mata Mera Makassar

Menurutnya, pembangunan proyek pariwisata di Pulau Siput atau Awololong dengan menggunakan anggaran 7.6 miliar adalah mubazir di tengah kondisi infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, air dan listrik masih banyak yang belum terjamah oleh pemerintah. 

“Kami menilai Pemerintah Daerah (Pemda) Lembata salah memanfaatkan anggaran negara karena di tengah kebutuhan masyarakat Lembata akan infrastruktur, Pemda melalu Bapak Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur malah membangun proyek pariwisata Awololong yang tidak melalui proses administrasi yang benar dan abai atas kebutuhan infrastruktur rakyat Lembata,” tuturnya kepada SorotNTT.com

Sementara itu pada kesempatan yang lain, Abdul Basit, selaku Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Islam Kedang dalam pesan solidaritasnya sebelum pentas seni berpendapat bahwa pembangunan di Awololong sarat akan dugaan penyalahgunaan anggaran negara karena anggaran telah digunakan hingga 80 persen namun realisasinya belum terlihat.

“Anggaran sudah cair 80 persen sementara fisiknya belum kelihatan, bisa jadi penyalahgunaan anggaran,” katanya. 

Ketua HIPMIA Lembata, Yeremias Payong Rona melalui pesan solidaritasnya atas perjuangan Front Mata Mera dalam menolak pembangunan di Awololong juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pemda Lembata. Sebab melakukan pembangunan tanpa melalui proses AMDAL, tanpa konsultasi publik dan mengesampingkan dimensi kultural masyarakat Lembata.

“Pembangunan di Awololong itu tidak ada AMDAL, tidak ada konsultasi publik serta telah dengan sengaja membunuh sejarah dan budaya masyarakat Lembata yang sukunya berasal dari Awololong,” imbuhnya.

Sementara itu penggagas berdirinya Himpunan Pelajar Mahasiswa Lembata, Helmi Aji Saputra dalam pesan solidaritasnya mengatakan bahwa pembangunan pariwisata di Awololong secara sosial dapat menimbulkan potensi konflik horizontal di antara masyarakat Lembata.

“Pembangunan Awololong dapat berpotensi menciptakan huru-hara di tengah-tengah masyarakat karena adanya pro-kontra,” katanya. 

Setelah pesan solidaritas, pentas seni pun dimulai dengan pembacaan puisi kritik terhadap pembangunan di Awololong dari beberapa perwakilan organisasi daerah asal Lembata secara bergantian.  Pentas seni pun ditutup oleh penampilan live music dari beberapa personel Lembata Hip-Hop Community (HLC) yang bernuansa kritik atas pembangunan di Awololong pada pukul 00.00 Wita.

Penulis: Alvino Latu