Manggarai Menuju Kabupaten Ramah Anak

Daerah

RUTENG, SorotNTT.Com-Dinas P2KBP2A Kabupaten Manggarai mendeklarasikan ‘Manggarai Menuju Kabupaten Ramah Anak’, Kamis(28/10/2021).

Kabupaten Manggarai ingin mencatat sejarah menjadi Kabupaten kedua di Provinsi NTT sebagai Kabupaten yang mendapat julukan ‘Ramah Anak’ menyusul Kota Madya Kupang.

Deklarasi ini digagas oleh Dinas P2KBP2A Kabupaten Manggarai ini dilakukan dengan di Aula Manggarai Convention Centre (MCC).

Terpanrau hadir pada kesempatan tersebut Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit, S.E., M.A. Bersama Kepala Dinas P2KBP2A, Drs. Silvanus Hadir, MMA serta beberapa pimpinan OPD se Kabupaten Manggarai.

Bupati Hery dalam sambutannya menyampaikan, momen deklarasi tersebut merupakan tonggak untuk mencapai tujuan Kabupaten Manggarai mendapat status Kabupaten Layak Anak (KLA).

BACA JUGA:  Peningkatan Jalan Kigit-Lewurla-Sangan Kalo Mulai Rampung

“Kabupaten layak anak berarti kita diperintahkan supaya mempertimbangkan kebutuhan dan hak anak-anak kita tidak hanya pada tingkat kabupaten tetapi juga sampai tingkat Desa dan Kelurahan. Karena itu, di bawah koordinasi para camat yang juga hadir pada hari ini, diminta untuk menyesuaikan dan menyatukan konsep berpikir kita akan bersama-sama menyusun dokumen selalu melaksanakan apa yang sudah dikonsepkan itu,” tuturnya.

Bupati Hery menyampaikan, ada lima (5) klaster hak anak yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan tersebut.

Pertama, hak sipil dan kebebasan; anak-anak seharusnya mendapat kemudahan pemenuhan hak-hak sipil dalam hal ini adalah administrasi kependudukan.

BACA JUGA:  PMI Matim Lakukan Pembekalan PMR

Kedua, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Semua individu dalam rumah sudah saatnya hadir untuk kebutuhan anak. Bawa mereka secara bersama keruangan doa, ke tempat rekreasi; jangan biarkan anak dibesarkan oleh teknologi semata-mata, ciptakan ruang yang baik agar mereka tumbuh sebagai pribadi merdeka.

Ketiga, kesehatan dasar dan kesejahteraan; kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak adalah pemenuhan gizi sejak dalam masa dalam kandungan sampai dengan anak memasuki masa remaja. Hindarkan anak dari diskriminasi maupun tekanan psikologis, (orang tua/pengasuh) mulai melatih diri untuk menghargai pendapat anak. Ketika anak tidak dapat mengemukakan pendapatnya dalam keluarga maka kita tidak bisa berharap dia mengemukakan pendapatnya di luar lingkungan keluarga.