Marsel Ahang Menduga Kasus Tanah Gereja Di Binongko Labuan Bajo Bagian Dari  Money Loundering

Labuan Bajo,SorotNTT.Com-Pimpinan Lembaga Pengkaji Peneliti Demokrasi Masyarakat (LSM LPPDM) Marsel Nagus Ahang, menduga bahwa kasus aset tanah Gereja di Binongko Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan bagian dari Money Laundering (Pencucian Uang).

Kepada Media ini Jumat 4 Februari 2022, Marsel Nagus Ahang menjelaskan bahwa setelah dirinya membaca semua dokumen tanah aset gereja tersebut, dimana pada tanggal 14 Juni tahun 1990, Uskup Vitalis Jebaru,memberi surat kuasa kepada Hendrik Chandra, guna membayar harga tanah tersebut dari sembilan (9) kepemilikan, dan menandatangani surat-surat yang berhubungan dengan surat jual beli tanah.pada 4 November 2013, Prof. Dr. Peter Alphons Pscheid memberi surat kuasa kepada Hendrik Chandra guna untuk menjaga tanah tersebut.

“Pada tanggal 17 November 2016 Profesor Peter Alphons Pscheid menyuruh Uskup Silvester San menjual 10 Kapling tanah aset Gereja tersebut, dan pada bulan April tahun 2021, Romo Marten Jenarut mengusir penjaga tanah tersebut a/n Hubert asal Wae Kang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan memberi uang sebesar Rp. 600 juta sebagai balas jasa menjaga tanah tersebut sejak dari tahun 1993”, beber Ahang.

BACA JUGA:  Pojok Literasi Milenial Cerdas Labuan Bajo Peduli Sampah

“Lalu kenapa Hendrik Chandra menggugat tanah aset gereja tersebut, ya tentu karena ada dugaan bahwa ada kewajiban yang belum terpenuhi oleh Vitalis Jebaru, hal yang aneh lagi, ketika Uskup Vitalis Jebaru meninggal dunia, semua oknum Romo merebut lahan tersebut untuk berbisnis menjual aset Gereja tersebut ke Investor,”ujarnya.

Ahang berharap, agar Pengadilan Negeri Labuan Bajo bisa mempertimbangkan gugatan dari Keuskupan Denpasar dan kalau bisa ditolak saja gugatan tersebut karena ada dugaan ada kepentingan bisnis dari para oknum Romo, baik di Keuskupan Ruteng, maupun Keuskupan Denpasar.

BACA JUGA:  Khabar Gembira, Hari ini Matim Bebas Covid 19. Zona Hijau?

“Karena bisa saja ini bermodus money laundring atau pencucian uang, karena ada keterlibatan investor Prof. Peter Alphons Pscheid”.harap Abang.

Marsel Ahang juga mengaku geram dengan isi video pernyataan dari Romo Alfons Kolo, dimana dalam video tersebut, Romo Alfons meminta umat untuk berdoa, agar memenangkan perkara tersebut.

“Saya berharap kepada umat Katolik agar jangan terprofokasi dengan video pernyataan dari Romo Alfons Kolo terkait persoalan Tanah Aset Gereja milik Keuskupan Denpasar di Binongko Labuan Bajo” tutur Ahang.

Pimpinan LSM LPPDM sangat menyayangkan Video pernyataan dari Romo Alfons Kolo yang beredar di Chanel Youtube. Romo Alfons Kolo yang merupakan Jubir Keuskupan Denpasar menyuruh Umat Katolik untuk mengviralkan video tersebut karena ada yang mafia tanah aset Gereja milik Keuskupan Denpasar.

BACA JUGA:  Bupati Hery Berharap PK-21 Menghasilkan Data yang Akurat, Valid, dan Relevan

“Sebaiknya Romo Alfons Kolo harus menghapus video tersebut dan jangan mencoba memprofokasi umat Katolik antar wilayah Keuskupan Ruteng”, Tutup Ahang yang juga sehari-harinya bekerja sebagai pengacara.