Rauf Paokuma - Melawan Demokrasi

Melawan Demokrasi

Opini

Negara merupakan sekumpulan manusia dengan kehidupan terorganisir yang memiliki wilayah dan pemerintahan serta mendapatkan pengakuan internasional. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi. Meskipun sistem ini merupakan sistem yang diimpor dari barat, akan tetapi sistem demokrasi di Indonesia berbeda dengan sistem demokrasi di barat. Demokrasi di Indonesia adalah demokrasi Pancasila. Pancasila dijadikan sebagai dasar bernegara dengan asas gotong royong untuk menciptakan masyarakat adil-makmur dan sejahtera.

Selama 74 tahun lamanya Indonesia menjalankan sistem demokrasi namun gejolak dan polemik terus saja terjadi di bangsa ini. seperti yang dikatakan oleh Samuel Huntington bahwa demokrasi hanya lah memberikan janji tanpa kepastian. Bahkan demokrasi dapat menjadikan pelacur sebagai pemimpin jika ia mempunyai suara terbanyak sebab demokrasi selalu menjadikan mayoritas sebagai pemenang. Aristoteles mengatakan bahwa jika suatu negara yang menganut sistem demokrasi maka negara tersebut akan hancur.

Hal tersebut dikatakan karena demokrasi merupakan sistem liberal sehingga orang bisa melakukan apa saja dengan dalil kebebasan, kemerdekaan, keadilan dan hak asasi manusia. Dari indikator tersebut maka kemungkinan akan muncul banyak ideologi yang bisa merusak kerukunan bernegara. Salah satunya dibuktikan dengan ideologi liberalisme dan kapitalisme yang saat ini mengakar di Indonesia dan merusak nilai – nilai kemanusiaan bangsa Indonesia sendiri. Demokrasi juga dapat mensekulerkan agama karena sistemnya yang liberal. Jadi dengan demokrasi agama dapat dikesampingkan.

Kebenaran versi demokrasi adalah kebenaran mayoritas atau kebenaran kelompok (korespindensi). Bukan lagi kualitas yang menjadi ukuran kebenaran melainkan kuantitas. Oleh karena itu dalam memutuskan kebijakan atau kesepakatan orang tidak lagi mencari kebenaran melainkan kepentingan. Pada akhirnya melahirkan tirani. Ini sama saja ada monarki dalam demokrasi. Maka tidak heran jika muncul begitu banyak penjilat dalam politik.

Oleh sebab itu, maka perlu adanya kesadaran individu sebagai manusia untuk menyadari bahwa ia mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan perdamaian dan memerangi kejahatan agar terciptanya keharmonisan dalam kehidupan. Setiap individu mempunyai peran penting dalam merubah peradaban. Kebudayaan yang kita aktualisasi selama ini tidak terlepas dari kesadaran individu sebagai awal munculnya kebudayaan tersebut. Dari individu mempengaruhi kelompok kemudian melakukan ritus secara terus menerus sehingga membentuk peradaban.

Oleh karena itu, sebagai manusia harus senantiasa mengatasi suatu pergolakan yang terjadi di negara ini. Maka untuk itu dibutuhkan pandangan dunia atau ideologi yang benar. Asal dari pada segala kebenaran adalah sang kreator kosmos yakni Tuhan. Segala urusan tentang dunia bahkan akhirat telah terdapat di dalam kitab suci masing-masing sebagai pedoman dalam kehidupan. Agama tentunya mengajarkan untuk selalu meninggalkan keburukan dan melawan segala bentuk kezaliman atau tirani. Oleh karena itu sebagaimana terdapat dalam sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan yang Maha Esa, adalah suatu pengingkaran terhadap agama jika kita terus membiarkan dan mendiami tirani yang berkembang biak dan mengakar dalam kehidupan kita.

Indonesia merupakan negara demokrasi, oleh karena itu perjuangan yang harus dilakukan dalam merubah tatanan yang berkeadilan maka diperlukan perjuangan politik untuk mendapatkan kekuasaan agar dapat membenahi segala bentuk kesalahan, ketimpangan dan ketidakadilan demi mengupayakan kesejahteraan. Sebab prinsip demokrasi adalah government of the people,by the people and for the people (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).

Perjuangan politik yang dimaksudkan adalah revolusi konstitusi. Melihat realitas yang terjadi saat ini hukum tunduk terhadap kekuasaan politik. Padahal secara idealnya politiklah yang harus tunduk pada hukum agar tidak melahirkan tirani. Kita membutuhkan perjuangan yang substansial bukan perjuangan simbolis. Perlu adanya penerapan etika beragama agar tidak dipenjarakan oleh sekularisasi dan juga dapat menerima modernisasi tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

Demokrasi dengan Pancasila sebagai ruh demi menjunjung tinggi kedaulatan rakyat harus diaktualisasikan dalam konstitusi dengan sebaik baiknya tanpa diuber oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan individu. Demokrasi dipilih oleh para founding fathers karena Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam pulau dengan adat, budaya dan bahasa yang berbeda sehingga perlu adanya sistem untuk menyatukan semuanya tanpa mengenal suku, ras adat maupun agama. Hal itulah yang di cita-cita oleh para pendiri bangsa kita. Oleh karena itu sebagai regenerasi bangsa maka kita harus melanjutkan estafet perjuangan mereka. Salah satunya dengan melakukan perjuangan politik demi revolusi konstitusi sebab negara hanya tunduk dengan konstitusi.

Dengan adanya benturan peradaban saat ini antara barat dan timur, maka kita harus mempunyai keyakinan yang dapat di pegang teguh sebagai sumber kebenaran. Ahmad Wahib menuliskan dalam catatan hariannya bahwa “aku bukan nasionalis, aku bukan Islam, bukan Kristen, bukan Budha, bukan westernis, bukan humanis tapi aku semuanya”. Ini merupakan pemahaman pluralis yang salah sebab kita harus terlebih dahulu mempunyai keyakinan tersendiri sebelum masuk dan mengenal berbagai ideologi lainnya agar tak mudah terhegemoni oleh ideologi lainnya sehingga tidak menjadi suatu dilema dan pada akhirnya menjadi penjara bagi kemerdekaan berpikir kita. Manusia membutuhkan keyakinan untuk mendapatkan kebenaran dengan mencari pengetahuan sebanyak banyaknya yang bersumber dari kebenaran yang kita yakini itu sendiri.

Dalam kehidupan ini, ada dua tipe manusia. Yang pertama manusia yang taat dikandangi. Tipe manusia ini adalah manusia yang menegaskan atau mengingkari nilai kemanusiaan sebab manusia adalah makhluk yang merdeka dan tak ingin di intervensi oleh siapa pun tanpa terlebih dahulu mengetahui kebenarannya. Tipe manusia yang kedua adalah manusia yang tidak taat dikandangi. Tipe manusia yang ini merupakan afirmasi atau penegasan dari nilai kemanusiaan. Sebab ia menegaskan kemerdekaannya sebagai manusia. Seperti yang dikatakan di atas bahwa manusia atau individu mempunyai peran dalam merubah peradaban.

Maka diperlukan konstruksi berpikir yang benar dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Konstruksi berpikir yang harus mendarah daging dan yang harus dijiwai dalam kehidupan adalah beriman, berilmu dan beramal sebagai aktualisasi dari keyakinan dan kemudian menjadi, insan pencipta, pengabdi dan bertanggung jawab untuk menuju manusia paripurna dengan landasan bersyukur dan ikhlas. Dengan konsep atau konstruksi berpikir seperti ini tentunya dapat merubah Indonesia secara evolusi sehingga demokrasi yang dicita-citakan oleh para founding fathers dapat diwujudnyatakan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh: M. A. Azuhry Rauf Paokuma

Catatan redaksi :   Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan redaksi SorotNTT.com