Memperingati HUT 74 RI, Change’O dan LP2MR Gelar Workshop Ekonomi Desa

Daerah Flores

Ruteng, SorotNTT.com – Lembaga Policy Research Organization Change Operator (Change’O) bekerjasama dengan Lembaga Pemberdayaan Pengusaha Muda Manggarai Raya (LP2MR) menggelar workshop sehari bertajuk “Meneropong Geliat Perkembangan Perekonomian Kawasan Manggarai Raya Melalui Ekonomi Desa” sekretariat LP2MR (Bandung Utama Group Karot) pada, Selasa (20/8/2019).

Dalam sambutannya, sekretaris Change’O, Rikardus Y. Goa, menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar sebagai peringatan akan hari ulang tahun Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia, pada 17 Agustus kemarin.

Kegiatan ini dibuat sebagai upaya untuk memerdekakan Indonesia dari semua aspek, terutama Manggarai raya dari sektor ekonominya. Tugas forum ini adalah menghubungkan yang belum terhubung. Disini sudah hadir perwakilan dari berbagai kalangan profesi ekonomi. Harapannya semua masalah dan kendala kita dalam aktivitas ekonomi bisa terjawab pada forum ini.

Dalam materinya, Arief Laga, staf pengajar pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Karya Ruteng berpendapat, bahwa perguruan tinggi selalu berpegang teguh pada Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Namun sejauh ini, bagian pengabdian masih belum terlalu dimunculkan.

“Kami kedepannya ingin memperbanyak kehadiran pada forum-forum seperti ini. Disini kami secara langsung dapat bertemu dengan masyarakat, para pelaku ekonomi, dan semua elemen yang bergerak pada pembangunan ekonomi. Harapannya, forum ini dapat mengintegrasikan seluruh elemen ekonomi Manggarai,” kata Laga.

Lebih lanjut, Laga mengatakan bahwa lembaganya tengah berupaya untuk menciptakan kader yang memiliki karakter wirausaha, “Kami tengah menyiapkan para lulusan yang mau menjadi wira swasta, tidak hanya ingin menjadi PNS, konsep- konsep yang kami dapatkan hari ini minimal bisa menjadi input bagi kami untuk menyiapkan lulusan yang memiliki mental wira swasta,” ujar Laga.

Kepala Desa Galang, Marianus Samsung, yang juga meraih predikat penghargaan desa dengan pengelolaan keuangan desa terbaik di Manggarai Barat, mengemukakan beberapa terobosannya dalam pembangunan ekonomi. Hanya saja, baginya, mereka masih terkendala dalam aspek pemasaran.

“Desa saya 90 persen masyarakatnya berprofesi petani. Per 2017, sawah kami penghasilannya 70 ton per tahun. Kemiri 18 ton, dan ternak 300 ekor. Dulu kami pernah menggerakan sebuah kelompok pertanian untuk menanam cabe. Waktu itu hasilnya sampai 80kg. Akan tetapi, tidak bisa dijual semua karena ternyata kebutuhan pasarnya tidak sebesar itu. Saya berharap nanti petani saya yang jadi produsen, dan LP2MR yang akan memfasilitasi pemasarannya,” Kata Marianus.

Sementara itu, manager Bandung Utama Group, Diana Malau, menyatakan bahwa pihaknya siap bekerjasama untuk membangun perekonomian Manggarai Raya, terutama untuk kalangan muda dan desa.

“Kita dari manajemen Bandung Utama Group sudah siap untuk merangkul dan memberikan wadah, terutama dari kalangan muda, karena tujuan utama kita bukan hanya mempekerjakan, tetapi juga memberdayakan. Hal ini sesuai dengan visi misi Bandung Utama Group yakni revolusi mental. Melalui workshop ini tentunya apa yang menjadi kendala yang kita temukan dalam dunia usaha, dapat kita pecahkan disini,” kata Diana.

Kepala Desa Watu Lanur, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur yang juga sempat hadir dalam kegiatan workshop ini mengharapkan Forum Ekonomi Manggarai Raya ini nantinya dapat saling bekerjasama dan mengisi untuk membantu perkembangan ekonomi di desanya.

“Tentunya kita hadir disini dengan permasalahan yang berbeda, dari wilayah kerja masing-masing. Pengalaman yang disampaikan oleh teman-teman dalam forum ini bisa diadopsi untuk kemudian diramu kembali dalam bentuk program, sehingga BUMDes kedepannya bisa berjalan secara optimal. Selama ini BUMDes kebanyakan belum berjalan optimal. Sehingga harapan saya dengan dibantu oleh rekan- rekan yang tergabung dalam forum ini, diharapkan supaya kita bisa saling mengisi. Kami sangat harapkan kerjasama antara pihak kami dengan STIE Karya, Bandung Utama, dan Change Operator,” ujar Kepala Desa Watu Lanur.

Hadir juga Kepala Desa Golo Bore Stefanus Genggang,kecamatan Ndoso Manggarai Barat, harapan dengan adanya workshop ini, dapat memperbaiki masalah di desa, terutama masalah ekonomi masyarakat dalam hal ini BUMDes dan diharapkan dengan kehadiran BUMDes ini dapat mendongkrak ekonomi PADes. Dengan adanya forum ini LP2MR, Bandung Utama, Change’O, KESA dapat membantu meningkatkan perekonomian di desa Golo Bore.

“Penduduk desa Golo Bore 90% petani dengan komoditas unggulan cengkeh, kopi dan jambu mente. 2017 sudah membentuk BUMDes dan 2018 penyertaan modal 100 juta. Sejak awal 2018 hingga pertengahan 2019 pengurus BUMDes belum bisa manajemen pengelolaan ekonomi di desa. hal ini dapat dilihat bahwa selama setengah tahun yang sudah berjalan, pengurus BUMDes hanya menjalankan unit usaha jual beli beras saja sedangkan dengan melihat potensi yang ada di desa, banyak hasil pertanian yang dapat di kelola. Dengan kehadiran Change Operator diharapkan dapat membantu perekonomian desa Golo Bore melalui peningkatan kapasitas BUMDes dan dari LP2MR melalui Bandung Utama Group mungkin bisa bantu di bagian pemasarannya,” kata Stefanus.

Workshop ini menghadirkan sejumlah elemen yang mewakili kalangan akademisi, perpajakan, Civil Society Organization (CSO), pengusaha, mahasiswa, dan media.

Perwakilan Pajak Pratama Ruteng Ferdinandus Siahahan menegaskan bahwa kepada kepala desa untuk selalu mengingat pajak dana desa. setiap pembelanjaan barang dan jasa harus selalu ingat bahwa pajak terkandung dalamnya

“Forum workshop ini bagus sebab pelaku ekonomi desa hadir melalui bapak-bapak kades ini. Namun disini mewakili institusi kami mengingatkan bahwa bapak-bapak desa harus selalu mengingat bahwa pajak terkandung dalam dana desa. pajak dana desa tidak akan kemana-kemana, sebab akan kembali kepada desa sendiri melalui dana desa di tahun berikutnya. Jika dilihat trend dana desa setiap tahun mengalami kenaikan. Harapannya juga, bapak-bapak desa mengalami trend serupa dengan rajin dan rajin membayar pajak,” ujar Ferdinandus.

Kelompok Studi Tentang Desa (KESA) juga hadir dalam forum workshop ini. Melalui Heri Kabut, selaku ketua Tim KESA mengatakan bahwa bagi kami kalangan mahasiswa ini adalah forum istimewa bagaimana membicarakan gagasan ekonomi desa.

“Forum workshop ini adalah cikal bakal hendak dibawa kemana arah ekonomi Manggarai Raya kedepannya. Sangat sepakat jika kita menjadikan desa sebagai pilar utama menggerakkan ekonomi Manggarai Raya. Harapannya ketika kami lulus forum ini sudah menyiapkan tempat kami berlabuh setelah lulus nantinya. Kami juga akan mendorong KESA sebagai kelompok studi mendorong ini sebagai peluang kajian akademis kedepannya dengan Meneropong ekonomi kawasan Manggarai Raya melalui ekonomi desa,” kata Heri.

Selaku penyelenggara Workshop yang juga anggota LP2MR, Bonifasius, menekankan bahwa ekonomi di Manggarai harus dimulai dengan gagasan dan dituangkan dalam praktek nyata.

“Kita orang Manggarai, memberangkatkan sesuatu atau pekerjaan pasti dengan kata “masalah”. Hal ini yang membuat kita sulit untuk berkembang. LP2MR mencoba dan sudah menjalankan hal tersebut. LP2MR lebih banyak bekerja ketimbang banyak berbicara. Terbukti bahwa Bandung Utama Group yang berada di bawah naungan kami sudah berhasil. Harapannya LP2MR terus ada dalam rupa bentuk. Sehingga forum ini cukup baik bagi seluruh teman-teman yang hadir dan sudah memikirkan bagaimana perekonomian Manggarai Raya Kedepannya. Desa sebagai ladang kita menggerakan Ekonomi Manggarai, ayo kita bareng dan memindahkan perekonomian kota ke desa,” tutup Bonifasius.

Kegiatan ini ditutup pada pukul 15.30 WITA dengan diakhiri Press Conference dan pemberian Piagam penghargaan kepada seluruh peserta workshop serta mendeklarasikan pembentukan Forum Ekonomi Manggarai Raya (FEMR).

Laporan : Tim