Menghalangi Kerja Wartawan, Oknum Dokter Puskesmas Labuan Bajo Dipolisikan

Daerah

Labuan Bajo||Sorotntt.com, Semakin maraknya pelarangan, pengusiran dan pelecehan terhadap wartawan yang sedang bertugas selama ini di Indonesia kerap terjadi.

Seperti halnya yang dialami oleh Alfonsius Andi, seorang wartawan media TransTV45.com yang selama ini bertugas di wilayah Kabupaten Manggarai Barat, pada Selasa,(02/11/2021) sekitar pukul 13.15 siang mendapat perlakuan kurang menyenangkan karena merasa tugas jurnalistiknya dilecehkan oleh seorang oknum dokter yang bertugas di Puskesmas Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Peristiwa yang dialami wartawan TransTV45.com ini berujung pada laporan polisi, yang dimana terlapor (Oknum Dokter. red) harus berurusan dengan pihak berwajib.

Atas kejadian tersebut, Alfonsius Andi telah melaporkan kejadian ini ke Polres Manggarai Barat pada, Rabu (3/11/2021) dengan Surat tanda terima laporan Polisi dengan Nomor: STTLP/180/XI/2021/NTT/Res Mabar.

Andi sapaan akrabnya pada Rabu, (3/11/2021) malam kepada media ini menjelaskan kronologis kejadian tersebut dimana Ia dihalang-halangi oleh seorang Oknum Dokter saat hendak meliput peristiwa perkelahian dua orang petugas kesehatan di Puskesmas Labuan Bajo pada, Selasa (2/11/2021) siang.

“Jadi saat itu, saya berada di lokasi sekitaran Puskesmas Labuan Bajo, karena ada peliputan berita peresmian kantor unit donor darah milik PMI. Saat kegiatan selesai, saya mendengar keributan dan saat saya hampiri ternyata ada perkelahian, saya langsung mengambil handphone mau foto, tapi salah satu dokter yang ada disana dengan kata kasar berteriak dari jauh “hei, kamu jangan ambil video tanpa izin, dan kamu tau tidak tentang Undang-Undang ITE, dilarang mengambil gambar dan Video tanpa Izin” itu kata- kata yang dilontarkan”, ungkap Alfonsius Andi.

BACA JUGA:  NasDem Bagi Beras Ke KK Miskin di Sumba Timur

Menurut Alfons, selain mengahalang-halangi kerja Jurnalis, dokter tersebut itu juga tidak mencerminkan etika yang baik dalam bertutur kata sebagai pelayan publik.

“Perlakuan dokter tersebut , telah menghalang- halangi tugas jurnalis, dan dokter tersebut, tidak mencerminkan sikap yang baik dalam bertutur kata yang dirinya merupakan pelayan publik”, tuturnya.

” Saya pada hari ini, telah melakukan laporan Polisi di Polres Manggarai Barat, atas pelanggaran mengahalang-halangi kerja wartawan”, tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Mabar, IPTU Yoga Dharma Susanto membenarkan perihal laporan tersebut. Untuk menindaklanjuti laporan tersebut, Polres Mabar sedang melakukan penyelidikan.

“Laporanya sudah kami terima, selanjutnya kita akan lakukan proses penyelidikan. Sebagai pelapor juga, Alfonsius Andi sudah kami BAP”, jelas Iptu Yoga , Rabu (3/11/21) malam.

Sementara itu Kuasa Hukum Pimpinan Redaksi Alfonsius Andi dan Media TransTV45.com, Plasidus Asis Deornay S.H mengatakan, “Saya berharap kasus seperti ini tidak boleh terulang kembali. Kalau si Dokter ini lebih wais dalam menyampaikan, saya kira kasus ini tidak sampai pada proses hukum. Saya tidak tahu apakah si Dokter ini tahu kerja seorang wartawan? Sikap arogansi dan ketidaktahuan itu justru menjebak dirinya pada sebuah tindak pidana baru.

BACA JUGA:  DPW MOI Provinsi NTT Berikan Selamat Kepada Rihi Heke - Uly Kale

Sikap dia (Oknum Dokter, red) melarang wartawan melakukan peliputan dan mengeluarkan kata-kata kasar terhadap wartawan (klien saya) membuat martabat atau kehormatan wartawan dilecehkan atau direndahkan.

Untuk diketahui, kerja wartawan itu jelas dilindungi oleh UU Pers No. 40 tahun 1999. Pasal 18 Ayat (1) yang menyebutkan, bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah.

Lebih lanjut Asis menuturkan bahwa Laporan pidana sudah di lakukan hari ini di Polres Mabar, dan pihaknya menunggu proses hukum lebih lanjut.

“Dari kronologis yang saya terima, kasus pelarangan liputan terhadap wartawan yang terjadi di halaman Puskesmas Labuan Bajo merupakan kasus perkelahian yang melibatkan oknum internal petugas kesehatan.” Ujar Asis

BACA JUGA:  Mudik Dilarang, KA Penumpang Setop Beroperasi Mulai 24 April Sampai 31 Mei 2020

Dari locus dan peristiwa hukumnya, kata Asis bahwa si dokter sesungguhnya tidak berhak melarang atau meliput kerja wartawan yang kebetulan ada di lokasi tersebut. Sebab perkelahian tersebut terjadi di halaman Puskesmas.

“Saya menyesalkan tindakan arogansi si Dokter terhadap wartawan yang sedang meliput. Dengan wartawan melaporkan ini ke Polres Mabar, selain bertujuan untuk mendapat kepastian hukum, Dilain pihak kasus ini dapat memberikan kemanfaatan hukum yang baik. Sehingga dimanapun seseorang berada, apapun profesinya, sikap saling menghargai dan menghormati penting untuk diperhatikan”, Tutupnya.

Pedi