April Fools' Day

Moni dan Cinta Satu April

Cerpen Sastra

Namaku Moni. Umurku sudah 17 tahun. Aku seorang gadis desa yang mengimpikan hidup bahagia. Mimpiku banyak, tapi aku ingin mengupasnya satu per satu dan mewujudkannya juga satu per satu. Mimpi pertama yang ingin kugapai dan kuwujudkan adalah memerangi kebohongan, seperti yang ramai terjadi di dunia maya. Aku tak mau ditipu dan menipu. Sebagai gadis desa, aku ingin menjadi tuan atas media elektronik dan tak mau menjadi budak dunia maya.

Kali ini desaku masih dilanda hujan. Sudah sekian lama sinar mentari suram. Ia seakan tak lagi menyingsing di antara barisan gunung dan bukit yang dapat kulihat melalui jendela kamar, lantaran kabut tebal enggan berpindah. Inilah keunikan desaku. Akhir bulan Maret dan awal bulan April ditandai dengan warna langit yang suram. Ditambah lagi sejak subuh, listrik padam. Gumpalan awan di langit kian lama kian menghitam dan tak bosan mengirim butiran-butiran bening yang akrab dipanggil gerimis. Tak ada romantisnya. Semua terasa gelap meski masih siang bolong! Beruntung hari ini kami sekolah siang, jadi tak perlu buru-buru cuci muka. Aku tak mau beranjak dari tempat tidur, apa lagi membasuh muka. Meski mamaku selalu mengatakan ‘‘Moni bersahabatlah dengan cuaca ini. Dingin, sejuk dan panas merupakan bagian dari alam kita, termasuk air di kamar mandi itu jangan dibenci nak…’’  

Driing … driiingDriiiing

Ah… rupanya, hanya HP-ku yang tak mengenal rasa sepi. Baik musim hujan maupun musim kering, ia tetap setia berdering. Entah lah itu pesan baik atau malah pesan buruk, atau barangkali membawa kejutan, mungkin seseorang lagi kelimpahan pulsa dan menyumbang secara sukarela ke handphone-ku; Atau? Jangan-jangan itu sekedar iseng-iseng dari Telkomsel yang menjanjikan hal-hal yang muluk-muluk.

“Hi…Mat pagi…! ”

“Wah nomor baru. Moni … berwaspadalah! Dunia sempit ini tidak hanya disediakan untuk orang jujur, tapi juga untuk para penipu. Beraninya menyapa sayang, jangan-jangan sangar hatinya.’’ Gumamku, sembari membalas santai,

“Pg jg. Ada yg bisa dibantu?” balasku singkat.

“Btl ini Moni?”

Loh, dia tahu namaku?

“Ia… emangx napa sih?”

“Aq Randy. K’k klsmu. 2 mggu lalu, aq melihtmu di perpus. trs, aq dpt nmr-mu dr Cella, tmn klsmu. Sbrx, aq ingin mengatakan sstu, tp… ” 

“Oh ya santai aja Ran.…”

Aku bilang santai. Tapi, sebetulnya sih, aku sedang menyangkal diri, sebab denyut nadiku lebih cepat dari biasanya setelah membaca pesan itu. Aku kenal orangnya. Sebetulnya Randy tak seganteng artis-artis papan atas sih tapi, tiap kali kami berpapasan sepertinya ada sesuatu. Aku sendiri tak bisa melukiskan bagaimana rasanya, hanya hati yang tahu. Mungkin hal seperti ini yang membuat mamaku sering bilang kalau masa putih abu-abu itu masa yang sangat mengesankan.

“Moni, bisa ketemuan, nti sore di kntin sklah?”  lanjutnya.

Aku jadinya kalang kabut deh. Hari ini adalah hari ulang tahun pamanku. Kemarin, mamaku bilang, hari ini kami makan bersama di rumah paman. Bagaimana ya? Oh my God, please deh bantuin Moni.

Sebelum aku membalas pesan Randy, aku segera ke ruangan belajar. Maksudku, mungkin ada jadwal yang sedikitnya masuk akal untuk bisa meyakinkan mama. Ya demi kaka Randy. Oh, betapa aku terkejut saat melihat agenda harian. Aku membaca sebuah tulisan dengan tinta merah “Moni… hati-hati jangan sampai terjebak! Hari ini, 1 April,  adalah Hari Tipu.”

Astaga…! Aku tak lagi percaya dengan cintaku yang tadinya mulai bersemi, menggebu-gebu ingin bertemu Randy.

“Randy… kau mengejutkanku, tapi sayang engkau datang di Hari Tipu!” Lagi-lagi aku bergumam sendiri. Perlahan aku merasa tenang, tanpa membutuhkan saran orang lain.

Selebihnya, secara tahu dan mau aku balas menipunya.

“Oh ia, say! Sebnrx, aq pingin ngajak qmu ke rmh pmnku. Tpi, qmu pngn ktmuan di kantin. Baiklah, dtunggu ya…!”   

“ YES…” balasnya tegas. Dengan tiga huruf besar.

Dalam hati aku membalasnya “Yes! satu sama! Supaya kau tau ya, perempuan juga manusia: bisa berpikir dan merasa, tak mau tertipu dan pandai membaca peluang. Huh, gila, aku tak akan pergi ke kantin itu.” gumamku untuk sekian kalinya. 

***

Malam pun tiba, sementara khusyuk berdoa sebelum makan malam bersama keluarga, tiba-tiba HP-ku bergetar. Beruntung nadanya telah disenyapkan, sehingga tidak mengganggu orang lain. Kali ini, aku merasa bersalah pada Tuhan karena cintaku terbagi antara hal duniawi dan hal surgawi. Namun, demi menjaga ketenangan, aku menyingkir sebentar melalui pintu dapur. Aku tak peduli lagi dengan lumpur, tak takut gelap dan kisah-kisah suanggi malam yang sering menjadi topik pembicaraan kami pada waktu senggang bahkan aroma tahi babi dekat aku berdiri tak kugubris sedikit pun.  

Eh ternyata ini pesan singkat dari Randy lagi. Aku tak peduli lagi dengan doa itu.

“Moni…”

Demikian isi pesan singkat itu hanya satu kata. Ia menyebut namaku, tapi mungkin maknanya besar, jauh lebih besar dari yang kupaham selama ini. Segera, aku mengirim pesan suara,  

“Eh, Randy. Cukup bercanda, ya! Kamu kira aku enggak punya kalender di rumah? Aku jg tahu loh, hari ini Hari Tipu, hihihihi ”

Namun, ternyata Randy tak selugu yang kupaham.

Wah, SMS-nya makin lama makin panjang mengisi layar ponselku, bagaikan laporan hasil kerja tugas jurnalistik. Dan akhirnya ia tak segan-segan menelfon dan menghujaniku dengan kata-kata,

“Baiklah ade Moniku sayang, hari ini memang Hari Tipu, tapi cinta sepertinya tak pernah mengenal hari tipu. Ia hadir kapan saja. Demikian pun cintaku, dunia menyepakati hari ini untuk menipu, tapi demi kamu aku mau membuktikan bahwa cintaku mampu menghancurkan berbagai bentuk penipuan termasuk hari tipu. Aku ingin terjun ke dalam hatimu. Bila kau mau, besok aku akan menunggumu di gerbang sekolah. Aku menanti dengan senang hati.”

“Tapi Ran, Hari Tipu kan berdurasi 24 jam. Aku anggap ini semua tipuan belaka, sebelum mlewati tanggal 1 April ini. ”

“Moni…!Satu April belum berlalu, aku ingin meringkas maksud hati ini dengan satu kalimat: I Love You.” Tit… tit… tit..

Tiba-tiba percakapan itu terputus. Ya begitulah resikonya telefon musim hujan. Jaringan susah, tower mungkin patah gara-gara angin kencang, pulsa habis; bersatu padu melengkapi penderitaan ini.

Meskipun demikian, bagaikan gerak tangan penabuh genderang dalam tari caci, nadiku kembali berdenyut kencang. Mendung dan malam pun tak lagi gelap bagiku. Sekarang aku membayangkan, di balik awan hitam dan gelap malam, matahari selalu bersinar terang. Cinta 1 April tak selamanya salah. Tapi, berwaspada itu juga tak ada salahnya. Pokoknya pikiranku jadi kacau balau.  

Meski dalam hati aku bisa membalas pesan itu, tapi HP-ku mengingatkan: “Sisa pulsa dalam kartu prabayar Anda tidak mencukupi untuk melakukan pengiriman pesan ini, dst.” Tapi aku percaya, hari esok pasti akan tiba. Kali ini, aku kembali merayakan pesta ulang tahun pamanku.

Aku ingin tetap konsisten dengan angan-anganku, yaitu tetap menjadi tuan atas media elektronik. Dan, Randy, sebelum aku melihatmu secara kasat mata, aku tetap menganggapmu tiada. Sebab, jika ini sebuah tipuan, maka mimpiku pun tak akan pernah terwujud. 

Afri Deo

Penggemar kisah inspiratif asal Cimpar, Carep, Ruteng