Nahkoda Baru Nasdem Matim dan Harapannya

Daerah Opini

Oleh: Alfred Tuname, Penulis Buku “le politique” (2018)

Di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Partai Nasdem melantik Drs. Jaghur Stefanus sebagai Ketua Partai (2020-2024). Dugaan publik, ia dipilih karena ketokohan dan sifatnya yang merakyat.

Dengan posisinya sebagai Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus memiliki pengaruh yang kuat untuk membesarkan partai. Setidaknya itu menjadi “magnet” politik untuk meletakan kutub-kutub kekuatan partai dari desa hingga kota.

Tentu saja, kerja kepartaian bukan pekerjaan eventual, bukan pekerjaan saat Pilkada/Pilpres atau Pileg. Kerja kepartaian adalah kerja persiapan sejak jauh-jauh hari. Diperlukan persiapan sejak dini untuk menyambut event politik. Pepatah Latinnya, victoria amat curam. Menang butuh persiapan!

Karena itu, Partai Nasdem perlu bangga pada ketua baru ini. Jaghur Stefanus bertekad kuat untuk membesarkan partai di Matim. Ia akan berjuang untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas anggota dewan dari partai Nasdem di Matim. “…salah satu target utama tentunya meraih kursi di legislative pada Pemilu nanti”, kata bapak Stef di media Timexkupang.com (03/10/2020).

Tentu itu bukan sekadar proyek politik, tetapi niat mulia dalam berdemokrasi. Peran partai politik adalah intermediary agent: sebagai perantara warga dan negara dalam skema representasi politik. Warga negara diberi kesempatan untuk menempati kursi legislatif atau eksekutif melalui partai politik. Proses rekrutmen politik akan menentukan kualitas warga yang pas untuk duduk di “kursi” itu.

Di tingkat daerah, ketua partai bersama pengurusnya mesti menebar jala, menjaring anggota. Itu kerja yang gampang-gampang susah. Ada figur yang berintegritas, tetapi terlanjur antipati pada partai politik; ada tokoh yang popular, tetapi apatis pada politik; ada sosok yang memiliki kemampuan finansial, tetapi tak percaya diri untuk berpolitik, dll.

Di sinilah tugas berat partai politik. Bukan hanya Partai Nasdem tetapi nyaris dialami semua partai politik. Itu berarti, usaha menjaring anggota partai sama dengan kerja menarik public distrust menuju public trust. Kepercayaan publik pada partai politik dan politisi adalah modal politik partai. Partai politik bisa besar kalau publik percaya pada partai dan politisinya.

Di Manggarai Timur, Partai Nasdem memiliki tampaknya memiliki keunggulan dan kemudahan dalam rektrutmen politik. Dengan posisinya sebagai Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stafanus memiliki ajian coattail effect dalam menjaring kader-kader potensial.

Coattail effect itu pernah terjadi pada Partai PAN yang diketuai oleh Agas Andreas, SH.,M.Hum. Bupati Manggarai Timur. Pada Pileg 2019, Partai PAN Matim mendapatkan 5 (lima) kursi di DPRD, dan salah satu kadernya menjadi Ketua DPRD Matim.

Coattail effect sebenarnya fenomena politik yang umum. Publik cenderung mengikuti insting dan nalar politiknya yang cemerlang. Di sini, publik menilai bahwa kalau Lembaga Eksekutif dan Legislatif “dikuasai” oleh partai dominan, maka kebijakan pembangunan akan berjalan baik. Distribusi kesejahteraan pun tidak lelet oleh seteru kepentingan.

Pilihan politik publik pun selaras dengan logika politik pembangunan itu. Realisasi aspirasi selaras dengan pilihan politik publik. Semacam dekat dengan Aristotelian loggics: “argumentum consensus gentium”. Ada nilai politik bersama untuk tujuan bersama yang lebih baik. Nilai itu muncul dengan sendirinya manakala pesta demokrasi (Pileg) diselenggarakan.

Bagi partai politik, perjuangan tentu saja tidak berhenti pada power struggle-perebutan kekuasaan (:Pileg/Pilkada). Ada urusan ideologis (ideological struggle) yang menjadi “batang tubuh” perjuangan politik. Dalam urusan dengan itu, Partai Nasdem mengumandangkan semangat “Restorasi!”.

Istilah restorasi agak berbeda dengan revolusi. Revolusi biasanya “memakan anaknya sendiri”. Restorasi lebih pada gelora untuk “meluruskan jalan yang bengkok”. Jadi, mental, pikiran dan budaya politik harus “diluruskan” untuk mencapai bangsa yang beradab dan unggul.

Dalam konteks restorasi itulah publik berharap penuh pada Jaghur Stefanus sebagai Ketua Partai Nasdem dan Wakil Bupati Manggarai Timur. Semangat restorasi itu perlu menjadi “oksigen” baru dalam mewujudkan visi “Matim Seber”: Manggarai Timur yang Sejahtera, Berdaya dan Berbudaya.

Semangat restorasi itu tentu dimulai dari birokrasi. Dalilnya, pelayanan publik akan semakin baik apabila kapasitas dan mental birokratnya baik. Bahwa semangat dan pikiran aparatur birokrasi mesti selaras dengan visi Bupati dan Wakil Bupati (:Matim Seber). Aparatur yang masih membawa sisa-sisa sentimen Pilkada harus “di-restore”.

Aparatur seperti itu biasanya menghambat kebijakan, membebani gerak maju aparatur lain dan menyusahkan pelayanan publik. Semacan “duri dalam daging” di pemerintahan. Tampaknya, masih banyak aparatur seperti itu yang justru menempati posisi-posisi startegis dan pengambil keputusan (Camat/Kabid/Sekretaris/Kaban/Kadis). Boleh jadi, mereka sedang ‘menguliti” isi kebijakan biar gagal dalam implementasi. Risikonya, pembangunan tak maksimal dan pemerintah “di-bully” kritikus dan politisi oposisional.

Tentu bukan soal kritik yang ditakutkan, tetapi soal outcome kebijakan yang dirasakan masyarakat tidak maksimal. Semua justru bermula dari aparatur birokrasi yang bermental “politician bureaucrat” dan tidak “the right men on the right place”. Mengatur ulang aparatur birokrasi seperti itu mesti dilakukan segera, hic et nunc, demi “Matim Seber” yang makin mantab.

Selebihnya, nilai-nilai restoratif yang perlu diimplementasikan di Matim adalah, mutatis mutandis Viktor Bungtilu Laiskodat (2017), reparasi sistem birokrasi yang rusak; kurasi perilaku politik yang sakit; rekonstruksi prinsip-prinsip yang budaya yang luntur; modernisasi sosial dalam cara berpikir dan bergaul; dan civilisasi (memberadabkan) perpolitikan dan kebudayaan yang masih terbelakang.

Mungkin itu menjadi tugas berat yang akan ditanggung oleh Ketua Partai Nasdem-Matim, Drs. Jaghur Stefaus. Tetapi, ia tidak sendirian. Bersama Agas Andreas, SH., M.Hum, tanggung jawab itu akan menjadi butir-butir kepemimpinan dalam tugas di pemerintahan. Mereka sudah menjadi nahkoda yang membawa Matim berlabuh pada kesejahteraan, berdaya dan berbudaya.

Di bawah matahari Dai Nippon, restorasi Meiji telah menggiring masyarakat Jepang menuju kemajuan dan keunggulan dalam berbagai bidang. Semoga, di bawah matahari Matim (:Ande-Stef), semangat restorasi menjadi code of conduct atau kompas tindakan yang ikut mewujudakan masyarakat Matim yang maju dan unggul (baca: “Seber”).
Akhirnya, profisiat buat bapak Jaghur Stefanus. Selamat bertugas.