Cerpen - Nara dan Wela

Nara dan Wela

Cerpen Sastra

Nara dilahirkan dan di besarkan di sana. Tumbuh dan berkembang di pesisir pantai. Kenangan tentang masa kecilnya bersama seorang bocah perempuan bernama Wela tersimpan rapi di sana. Di sebuah rumah papan loteng yang sedikit tua, dengan warna cat yang tampak usang dan kusam. Wela adalah saudari kandungnya sendiri. Bocah perempuan yang riang. Hubungan Nara dan Wela memiliki ikatan yang sangat kuat. Melebihi hubungan persaudaraan yang lainnya.

Ibunda Nara adalah kakak nomor empat dari ibuku. Semenjak menikah beliau diboyong suaminya ke kampung dan menetap di sana. Nara kehilangan ibunya saat SMP; sedangkan Wela masih seorang bocah ingusan saat itu. Ditinggalkan seorang ibu menjadi pukulan terhebat apalagi di usia mereka yang masih sangat dini.

Beberapa tahun setelahnya, bapak Nara menikah lagi. Kembali memiliki seorang ibu merupakan hal terindah buat mereka.

Namun realitas tak pernah semanis ekspektasi.

Bertemu dan memiliki hubungan yang baru sangatlah sulit. Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Nara dan Wela untuk bisa beradaptasi dengan ibu baru mereka.

***

Hari ke-14 bulan Januari

Langit cerah berubah gelap gulita. Mentari menghilang bersembunyi di balik awan kelabu. Derai hujan turun mengguyur kota kecilku dengan hebatnya. Seperti butiran timah panas bulirnya jatuh ke bumi. Sedetik pun tanpa jeda.

Hingga senja berlalu tanpa jingga.

Dengan mengendarai sepeda motor aku coba menerobos hujan. Gemuruh suara guntur tidak menyurutkan niatku untuk pulang ke rumah.

Hujan semakin lebat. Riak suara air di selokan kecil seolah menambah riuh hiruk pikuk di tengah kota. Aku menepi sebentar di KM 3. Kemudian berlari pelan menuju sebuah bangunan mesjid tua dan berteduh di sana.

Sembari menunggu hujan reda. Di sisi lain badan jalan; kumelihat beberapa remaja melakukan hal yang sama. Jeans panjang digulung seperempat bagiannya. Menggunakan payung berwarna hitam mereka berjalan menyusuri lorong pertokoan. Sesekali kaki mereka berjinjit jijik melewati tumpukan sampah. “Haha… aku tertawa kecil dalam hati.”

Hujan tak kunjung reda. Kilauan lampu mulai terlihat di seluruh kota. Gemuruh suara guntur semakin menjadi seperti lagu penghantar tidur meninabobokan seisi semesta.

Sepi sendiri tak berkawan.

Kesekian kalinya kulirik jam di pergelangan tangan kiriku. Pukul 17.56 Wita. “Hampir magrib lebih baik aku pulang saja,” batinku.

***

Seperti sebuah firasat; aku terjaga hampir semalaman tidurku tak begitu pulas. Aku terus saja membolak-balikan badan mencari posisi paling nyaman.

Pagi masih terlalu buta. Gonggongan anjing terdengar dari kejauhan; jangkrik mengkerit di balik plafon kamarku. Sesaat kucoba membenamkan wajahku pada sebuah boneka beruang berwarna coklat tua.

Nalarku menjamah tentang Nara. “Apa kabar dia saat ini? Sudah cukup lama aku tak melihatnya. Gajah…” (aku kerap memanggilnya seperti itu)

Bercerita tentang Nara tentu tak ada habisnya. Ya… itu menurutku. Seperti makan nasi dengan lauk “ikan cara” nasi sebokor tidak akan cukup.

Nara sangat suka bergurau tetapi kadang leluconnya tidak lucu malah bikin kepala jadi pening. Dia bukan “super hero” tapi selalu bisa diandalkan. Dia juga bukan Mario Teguh namun kata-katanya mampu meneguhkan hati. Dan dia bisa bersikap manis dan romantis kaya Reza Rahardian.

Nara, sangatlah humble. Kepada siapa pun bibirnya akan selalu tersenyum dengan sangat manis.

Pria seperti Nara jarang kutemukan… bila dia bukan sepupuku sudah lama aku ingin dia menjadi teman hidupku.

Bayangan wajah Nara melekat erat mengunci otakku dengan hebat seolah tak ingin pergi dan menjauh. Bayangan itu. “Arggghhh…!” batinku.

****

Dan hari ini pun tiba hari ke-15 bulan Januari

Seperti biasa setiap pagi aku selalu duduk di balai bambu di samping rumah menikmati segelas “kopi pa’it” dan sinar mentari pagi. Dengan wajah bingung kakak menghampiri diriku. “Cha…! dia membuka percakapan.. “Hmmmm… kenapa, Kak?” sembari menaikkan alis mata aku menjawabnya. “Cha…!!!” Dia memanggil lagi dengan nada suara yang sedikit mendesah.  “Iyaaa… Kakakku sayang!” jawabku. “Cha… Nara?” Katanya lagi, “Nara…” “Iya, Nara kenapa?” jawabku sedikit gusar. “Nara meninggal!” jawabnya menimpali pertanyaanku.

Mendengar kabar itu tak lantas aku mempercayainya begitu saja. Sembari meletakkan kembali gelas kopi yang hendak kuminum. Aku berbalik dan menatap mata kakak dengan seribu pertanyaan yang menggantung di ujung bibirku. “Kak… Apa aku tidak salah dengar?” tanyaku lagi. “Cha… masa iya aku bergurau untuk hal seserius ini. Tidak mungkin, Cha! Selama ini Nara sakit. Dan dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Menurut hasil pemeriksaan dokter yang merawatnya, Nara mengidap penyakit leukimia. Semenjak Nara sakit dan pada akhirnya Nara meninggal Wela dengan setia selalu di sampingnya.” Kaka bercerita sembari menunjukkan foto terakhir Nara. Kondisinya memprihatinkan. “Gajah…?” desahku lirih.

Aku tak percaya ini terjadi, sama sekali tidak. Berkali-kali kupandangi fotonya mencoba meyakinkan diriku, “Tidak mungkin ini terjadi. Tidak mungkin secepat ini. Tidak mungkin… Tidak mungkin…!” kataku. Sejenak aku hanya mampu terdiam. Aku seperti dalam terowongan yang gelap dan pekat.

Nara telah pergi untuk selamanya. Ya… Selamanya. Tak ada lagi bahu tempat kubersandar. Tak ada lagi yang menjahiliku. Tertawa dan menangis bersamaku. Tak ada lagi yang kupanggil “gajah…”

Seketika tangisku pun pecah. Nara memang telah tiada namun kenangan tentangnya abadi di hati.

Oleh: Fitri
Penulis adalah pegiat literasi digital tinggal di Ruteng. Selain sibuk dengan tugas dan rutinitas harian, perempuan yang akrab disapa Lia atau Fitri ini giat menulis puisi, sajak, elegi, dan cerpen di dinding Facebooknya.