Natal Bagi Orang Lewoleba Yang Mengungsi Akibat Letusan Gunung

Opini Rohani

Oleh: Baunsele Albertgak

IMG-20210816-WA0106

Kisah natal di Lewoleba  amat menyentuh nurani. Pengalaman merayakan natal di tengah puing-puing akibat letusan gunung merupakan kontradiksi melawan arti natal itu sendiri.

hut17_matim.jpeg

Perayaan natal merupakan ungkapan kegembiraan karena” Allah sumber pengharapan dunia” (Yeremia 14:22) menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus, juru Selamat. Christus natus est nobis, Kristus lahir untuk kita.

Warta gembira, pesan damai, dan hukum cinta yang dibawa-Nya untuk dua millennia yang lalu belum juga berbuah melimpah seperti diharapkan.

Betapa masih banyak “kisah natal” di sekitar Lewoleba yang ada di tempat lain. Sulawesi selatan (Poso) paling mirip karena situasi dan alasannya.

Satu keluarga tewas dibunuh oleh kelompok teroris.  Orang tua beserta anak-anaknya  dihajar secara membabi buta oleh orang yang buta nuraninya.

Sekian berat dan banyak derita yang harus ditanggung akibat bencana alam dan bencana kemanusiaan yang tak bisa dimengerti akal budi dan belum bisa diatasi kecanggihan tekhnologi.

Masih banyak kisah sedih lain yang justru murni disebabkan oleh ulah manusia.

Peristiwa adanya pengkaderan teroris secara terstruktur  di Indonesia yang sudah tercium aromanya oleh pihak kepolisian   adalah contohnya.

Bukan sekadar teror lagi, tetapi pengalaman paling pahit yang bisa dialami dalam hidup beragama di Negara pancasila.

Bom dan tembakan bisa membunuh orang yang sedang beribadat. Gereja dan tempat-tempat ibadat lain dijadikan ajang pembantaian sesama.

Warta damai natal langsung diperkosa ulah manusia yang dikuasai nafsu biadabnya.

Penderitaan dan kemalangan yang diakibatkan bencana alam maupun ulah bengis sesama berakibat amat luas.

Munculnya pengungsian yang menimbulkan pelbagai masalah: rutinitas kerja terganggu, penyakit merajalela, pendidikan terhenti, dan lain-lain.

BACA JUGA:  Misa Tahbisan Uskup Ruteng Tak Bisa Ditunda,Ini Alasanya. 

Rusaknya pelbgai fasilitas juga menghambat perkembangan yang selama ini telah tercapai.

Itulah berita duka yang menyertai perayaan natal 2020, yang ada di sekitar kita.

Namun masih ada banyak kisah sedih lain yang jarang terjamah media. Bisa karena lokasinya sulit terjangkau, bisa karena bobot beritanya tidak terlalu istimewa.

Peristiwa sehari-hari yang dialami pelbagai kelompok orang di pedalaman merupakan contoh penderitaan yang perlu direnungkan sehubungan dengan peristiwa natal.

Daerah pedalaman identik dengan situasi keterbelakangan, belum tersentuh kemudahan modern daerah perkotaan.

Jaringan komunikasi, transportasi dan listrik masih jauh dari pedalaman. Hidup di pedalaman dengan berladang berpindah adalah keseharian yang menandai keterbelangan itu.

Mereka bergantung pada air hujan atau air sungai. Musim kering menjadi rawan air, bahkan dibeberapa daerah rawan pangan, karena transportasi air lumpuh.

Sungai tercemar oleh penambang rakyat yang menggunakan merkuri. Itu semua harus menjadi konteks hidup mereka karena tidak mudah mencari alternatifnya.

Ada yang mengatakan masih sedikit lebih untung mereka yang hidup dari kebun kopi atau kebun kemiri. Mereka berpenghasilan tetap. Artinya, tetap kurang, tidak mencukupi untuk hidup yang pas-pasan.

“keuntungan itu sangat relative dan sementara. Tanaman monokultur menurut sementara ahli, ternyata bisa merusak masa depan tanah secara fatal.

Itu berarti masa depan anak cucu dipertaruhkan. Pertimbangan keuntungan sesaat karena adanya proyek-proyek yang menaikkan pendapatan asli daerah perlu dikaji ulang.

Tetapi, siapa berani menentang kebijakan pemerintah? Karena itu, ada yang berpendapat, tanaman kemiri ditinjau dari segi keuntungan jangka panjang bisa lebih prospektif.

BACA JUGA:  Tiga Kabupaten di NTT Dengan Rasio Elektrifikasi Terendah di Bawah 70%

Seandainya Yesus lahir di kebun kopi atau di kebun kemiri ( di Nusa Tenggara Timur misalnya ), apa kira-kira warta natal yang akan mereka terima? Barangkali itu pertanyaan spekulatif saja.

Kisah natal merupakan kisah yang amat menyentuh rakyat kecil, orang yang tak berdaya.

Kelahiran Yesus yang diwartakan kepada gembala oleh malaikat utusan bukan sekadar kisah romantic-spiritualis tetapi benar-benar warta kegembiraan, pembebasan, dari rasa takut rakyat sederhana, orang yang tak berdaya pada zamannya.

“jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberikan kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini lahir bagimu juruselamat, yaitu Kristus Tuhan…” (Luk 2:1-11).

Perjuangan hidup Yesus bagi orang kecil dan tak berdaya bisa menimbulkan inspirasi: apa yang harus diperjuangkan bagi mereka yang masih hidup dibawah garis kemiskinan di pedalaman: peladang berpindah,pekerja kebun kopi, petani kemiri dan lainnya.

Renungan natal kita dapat diarahkan untuk pembebasan dari segala ketakutan di sekitar kita. Ketakutan yang diakibatkan oleh pelbagai terror, baik dari bencana alam maupun ketidakadilan sesamanya, tidak seharusnya menjadikan semua orang yang berkehendak baik hilang nyali dan putus asa untuk mengatasinya.

Umat kristiani dan para pemimpin umat di Lewoleba berani menegaskan, meski ada letusan gunung, batin harus tetap siap dan tegar untuk menyambut kedatangan Kristus Sang Penyelamat.

Demikian tampaklah kebenaran ungkapan nabi yesaya, Allah, Sumber Pengharapan dunia, dalam sikap batin saudara-saudara kita yang baru tertimpa musibah letusan gunung.

Juga, terror dan penyerangan secara berrencana hendaknya tidak menjadikan umat kristiani putus asa, sebaliknya tetap menjalin hubungan dengan sesama dalam damai sejahtera.

BACA JUGA:  Efect Multiplier Lain dari Pabrik Semen Manggarai Timur

Titik-titik harapan itu kian membesar  dalam pelbagai peristiwa di sekitar kita. Penembakkan sejumlah pelaku pembunuhan di sulawesi, pelaku penyerangan terhadap polisi di Jakarta pusat, pemberantasan korupsi dengan menjerat sejumlah pejabat negara (sejumlah mentri).merupakan tanda yang memberi harapan.

Meski masih menyisakkan sejumlah pertanyaan, akankah semuanya bisa dituntaskan, namun kita yakin aneka usaha itu tidak akan sia-sia.

Reshufle kabinet dan atau rotasi kabinet Indonesia maju oleh presiden dan wakil presiden membuka masa depan generasi muda dalam dunia kerja yang baik dan benar serta bersih dari ketidakjujuran.

Dengan kaca mata sikap optimistis, titik-titik harapan itu kiranya bisa bertumbuh menjadi pilar kekuatan penegak keadilan dan sumber kesejahteraan dan damai sejahtera.

Berlandaskan fenomena itulah, ketakutan yang tak beralasan bisa disingkirkan. Karena , sebenarnya warta natal merupakan warta gembira untuk orang yang tak berdaya di sekitar kita

hut17_fansi.jpeg hut17_sil.jpeg hut17_osi.jpeg hut17_yeni.jpeg hut17_domi.jpeg hut17_sma2pacar.jpeg hut17_smpn1pacar.jpeg hut17_manong.jpeg hut17_jon.jpeg