“Nota Bene” dalam surat cinta tempo dulu”

Penulis: Jon Kadis, S.H., sekjen Komodo Lawyers Club, di Labuan Bajo

Nota bene (NB) artinya catatan baik. Sama dengan foot note (catatan kaki). Nota atau catatan ini berada di luar tulisan utama. Meski hanya nota bene, tapi itu penting.

Masa surat menyurat dalam hal cinta ini mulai dulu sampai tahun 1990an ketika handphone (HP) sudah beredar di publik. Butuh kemampuan tulis menulis untuk menuangkan perasaan cinta. Perlu penguasaan rumus bahasa, kalimat dan alinea. Karena menulis tentang ketertarikan, maka yang beperan di situ adalah perasaan. Karena itu, belum tentu cinta yang sesungguhnya untuk menuju ke pernikahan, walaupun ada juga yang serius ke arah itu.

Bagi remaja siswa sekolah menengah pertama (smp) maupun sekolah menengah atas (sma), atau bagi yang belum stabil kerjanya, perasaan cinta masa itu lebih sering disebut ‘cinta monyet’. Anda tahu kenapa disebut ‘cinta monyet’? Saya juga tidak tahu, karena saya bukan ahli perilaku monyet. Untuk mudahnya, mungkin jalinan cinta masa remaja itu bukan menunjukkan perilaku manusia sesungguhnya. Abaikan saja monyetnya itu. Kita fokus pada manusianya, pria tertarik kepada wanita, demikian pula sebaliknya. Itu kodrat pada manusia, bukan kodrat monyet pada manusia. Ya to!

Surat menyurat cinta itu biasanya tidak langsung diserahkan oleh pria kepada wanita, tapi pakai perantara. Ada juga yang pakai jasa kantor pos, meski tinggal di satu kota bahkan rumah berdampingan. Tapi yang via pos ini jarang sekali. Di desa tidak berlaku.

Tahap pertama sebelum surat adalah ‘titip salam’. Itu semacam tekan tombol klik. Kalau nona setuju, dia kirim salam balik. Kalau tidak, tidak ada pesan salam balik. Meski sudah ada salam balik, si pemuda melakukan tahap kedua, yaitu surat. Ditulis sendiri, tandatangan resmi. Satu halaman full. Lalu si nona balas pakai surat juga. Full halaman. Lalu surat kedua dari si pemuda, untuk merespond surat balasan. Di dalam surat itu sudah dicantumkan janji bertemu. Lalu si nona balas lagi. Tempat janji bertemu bisa di rumah perantara atau di teras rumah si nona. Jika ditotal, ada 4-5 surat.

Tentang isi surat. Full kata-kata cinta dan janji. Halaman surat itu full, tidak ada ruang kosong margin atas bawah, kiri kanan. Di kiri kanan atas bawah itu diisi ‘nota bene’ dan gambar buatan sendiri, jantung kena panah. Salah satu nota bene itu antara lain : Salam RINSO. Itu nama deterjen sabun cucian . Itu singkatan dari : Rinduku hanya untukmu seorang. Atau Pena = Pelukku hanya untuk Anda. Periuk = Perasaan rinduku hanya untukmu. Senduk = Senang nai nai daku nuk ite ( hatiku senang ingat dikau). Piring = Pingin rindu ini segera kita kawing (kawin). Ditambah dengan gambar jantung kena panah tadi. Full itu kertas. Tapi ada juga yang tidak disertai kepanjangannya. Rinso, Pena, Periuk, Senduk, Piring saja.

Pengalaman saya

Waktu muda saya pernah lakukan itu. Karena saya baru keluar dari SMA Seminari, banyak hal teknis tidak saya ketahui. Terutama surat cinta. Pada saat itu terbuka ruang untuk leluasa menyatakan ketertarikan kepada lawan jenis. Perasaan luar biasa. Melihat nona cantik saja, celana longgar mendadak terasa sesak. Darah mengalir serrr…Uh !

BACA JUGA:  Gubernur NTT: Pengangkatan Sekda Sumba Barat Daya Tidak Sesuai Aturan

Tapi kembali lagi, tak tahu cara bagaimana supaya touch, saling sentuh rasa gelora. Termasuk nama singkatan cinta dari barang kebutuhan rumah tangga. Seseorang membantu saya supaya “menulis surat cinta”. Maka sayapun action! Tulis itu surat tengah malam di bawah sinar lampu pelita. Sampai hitam lobang hidung terkena asap minyak tanah pelita itu, digigit nyamuk pula. Tidak perduli. Dahsyatnya rasa gelora cinta membuat mati rasa untuk hal semacam itu. Busyeeet! Beli kaset pita yang berisi lagu “Tak Ingin Aku Sendiri”. Putar kaset itu di tapenya teman berulang-ulang. Jika putus kaset itu, dilem ! Kalo putus lagi, beli lagi yang baru.

Lalu saya kirim surat itu, titip via perantara. Hati dag dig dug menanti balasan. Dalam salah satu surat balasan ke saya, ada nota bene ‘salam Rinso, Periuk, sendok, piring”, tanpa kepanjangannya. Full halaman dengan ‘nota bene’. Lalu saya balas, ‘Ade sayang, nanti yang bisa saya bawa hanya Rinso 1 kg dulu ya, sedangkan Periuk, sendok dan piring akan saya bawa menyusul. Dalam pikiran saya adalah, ini barang-barang simbol tanda kesungguhan menuju pernikahan. Serius. Oii.. Ini betul-betul jodoh suda! Saya mulai bermimpi keluarga baru, lengkap dengan alat rumah tangga.

Surat saya itu tidak ia balas. Kepada perantara dia bilang, “saya amat gembira dengan isi suratnya itu”. “Aii.. sobat, si nona e, senyum tak henti walau sudah baca itu surat. Dia mau ketemu cesua le mane (lusa sore, bahasa Manggarai)”, kata perantara. Oiii…. menunggu hari bertemu itu serasa setahun! Padahal selama sehari itu baku lihat dari jauh. Zaman itu bro, kalau belum final surat menyurat, tidak boleh nyerocos saling tegur di jalan. Karena bisa saja kena denda ela wase lima (kena denda adat berupa hewan).

Tiba saatnya saya pergi ke rumahnya, jalan kaki. Menenteng tas plastik warna merah berisi sabun Rinso bubuk itu. Separuh jalan saya pikir, “Olee…. begini barang ini e? Ada rasa geli dalam hati. Sambil senyum sendiri seperti orang gila. Saya berhenti di satu kios untuk beli rokok 3 (tiga) batang. Isap itu rokok berkali-kali, lupa kalau rokok itu belum dibakar korek api. Cukaminyak ! ( kata seru sedih bahasa Manggarai). Dalam perjalanan sudah mulai mabuk kepayang. Hujan lebat turun. Terpaksa saya duduk dulu di kios itu, sekitar 30 (tigapuluh) menit. Hujan reda, lalu jalan kaki lagi. Tetap nenteng Rinso sesuai nota bene dari someone to whom I love itu.

Sekitar sejauh duapuluhan meter dari rumahnya, saya intip dia, “oo.. dia lagi jalan mondar-mandir di teras rumahnya”. Mungkin dia gelisah ya, karena janji tidak tepat waktu. Atau dia maafkan saya karena kesalahan hujan penghalang turun dari langit. Atau mungkin dia pikir, “ae.. pria Jon Kadis pembohong .. !”. Begitu saya nongol depan gerbang rumahnya, tampak dia terkejut. Gembira. Meski jarak beberapa meter, saya merasa kena strom cinta. Terkesan dia juga begitu. Saya terantuk di gundukan tanah karena sudah tidak lihat ke bawah lagi. “Ae.. hati-hati Kaka”, sapanya. Oiii.. kata-kata itu serasa panah asmara yang telak kena di pucu lolo daku ( hati). Itu bikin saya bersemangat tingkat super saat melangkah gagah masuk sambil nenteng tas plastik berisi sabun Rinso 1 kilogram tadi dengan rasa percaya diri penuh, menunjukkan bahwa saya tidak mengingkari janji bawa rinso.

BACA JUGA:  DARI BUKIT CINTA (-1)

Lalu saya masuk, duduk di teras. Ngobrol bla bla bla. Lalu saya kasi Rinso dalam nota bene suratnya. “Ini yang ade tulis di nota bene itu ka. Maaf ya, hanya 1 kg. Sedangkan periuk, piring dan sendoknya, minggu depan akan saya bawa ya dek!”. Saat penyerahan itu jemari saya nakal tersentuh jari tangannya. Ia tersenyum gembira. Aiii.. saya mulai rasa seperti terangkat satu meter dari permukaan bumi. Lalu sambil senyum ia bawa Rinso itu ke dalam rumah, sampai di dapur kayaknya. Dari teras saya mendengar sekeluarganya, ayah, ibu dan saudaranya ramai ketawa dari ruang belakang. Ketawa meledak. Perasaan saya? Ae.. gembira sekali bro. Kenapa? Saya pastikan bahwa sekeluarga menerima saya to! Wong mereka sukacitalah ! Rinso 1 kg tidak sia-sia, pikir saya sambil bersiul tanpa suara, ibarat pecu angin kosong (pecu, bahasa Manggarai, kentut).

Lalu si nona balik menemani saya di teras sambil membawa minuman teh dua gelas. Sambil senyum ceria warna cinta. Tampaknya seperti mau ketawa, tapi ia tahan. Saat membungkuk meletakkan gelas, seperempat buah dada nongol. Serrrr… darah saya sejenak seperti arus dadakan. Kami duduk saling pandang. Baku dekat. Sesekali kaki dibawah meja kayu baku kowik (sentuh). Kami merasa waktu itu, bahwa planet bumi ini diciptakan untuk kami berdua sajaaaaa…! Yang lain itu kontrak !

Sambil kami ngobrol, masih terdengar keluarga dan orangtuanya dari ruang belakang ketawa-ketawa. Sesekali si Ade tersayang masuk ke dalam rumah, ke ruang belakang. Dugaan saya, dia mau larang supaya jangan ketawa keras-keras, nanti ‘tamu istimewa saya terganggu atau malu. Calon anak mantu, calon ipar terganggu’. Rupanya betul. Sejenak keluarga di dalam rumah sunyi. Si Ade ke teras lagi. Tapi mereka ketawa-ketawa lagi. Si Ade pergi ke belakang lagi. Saat sendiri saya lihat ke bawah, cek resliting celana, siapa tau ada “Semen Sibinong” (sementara ngobrol si biji nongol). Olee..! Dia agak lama ke belakang. Pikir saya, mungkin ke kamar mandi. Apa karena dahsyatnya guntur dan kilat cinta saya kepadanya, kami berdua, dalam nada renyah cinta dan cahaya sinar mata, sehingga memecahkan awan tebal lalu turun menjadi kabut dan embun membasahi daun muda dan bunga yang belum dipetik? Oiiiiii….. ! Mabooook ! Sementara itu masih juga ramai di ruang belakang. Saya pastikan bahwa mereka sekeluarga betul-betul sukacita “menerima saya”.

Dia balik dari belakang dengan senyum yang tertahan. Mungkin ada hal lucu, tak tahu persislah saya. “Ade… biarkan mereka gembira ka, tidak usah larang..”, kata saya sambil colek dia pung tangan. Ngobrol dilanjutkan tentang masa depan kami berdua. Mimpi masa depan. Plus gombal-gombal bikin renyah suasana. Tapi kami sadari, bukan bahan cerita itu jadi topik utama, tapi saling pandang baku dekat dan baku sentuh. Persetan masa depan itu! Now is now, next is next, today is today, tomorrow is tomorrow. Cuuukaminyak!

BACA JUGA:  GUBERNUR NTT BERPESAN, MARI SOLIDER DENGAN YANG TERPAPAR

Di akir pertemuan saya bilang, “Ade.. nanti minggu depan baru saya bawa Periuk ya”. “Kaka, kaka, tidak usah, tidak usah kaka, tidak usah bawa periuk!”. “Atau saya bawa sabun rinso lagi?” Tida kaka, jangan, jangan bawa lagi kaka! Kami dua baku gangga (berdebat). Saya serius, tapi dia ketawa-ketawa.

Belakangan ternyata debat saya dengan dia, sukacita saya dan seisi rumah bukan karena satu alasan yang sama, tapi karena masing-masing alasan berbeda. Mereka tentang Rinso singkatan bahasa cinta pada Nota Bene, sedangkan saya Rinso deterjen sabun cuci pakaian. Beberapa minggu kemudian baru rahasia terbongkar. Rinso yang saya bawa itu adalah Rinso bodok tololnya saya, dan periuk yang mau saya bawa itu juga ada periuk bodok konyol tidak tahu arti bahasa Nota Bene dalam surat cinta. Poka ma’a! ( ‘sialan !’, bahasa Manggarai). Nota bene rinso, rinduku hanya untukmu seorang, pena, malah saya balas dengan bawa sabun rinso 1 kg. Oleee…. !!! Berbeda! Ibarat pesawat yang lagi terbang di angkasa, mesin mati tiba-tiba, jatuh praa…kkk, tersungkur ke tanah hancur berkeping-keping. Plus kepleset kena air cucian sabun rinso yang dibawa. Kepala pecah terkena periuk aluminium. Konyol karena salah membaca ‘nota bene’ surat cinta. Benar kata orang, ketika jatuh cinta, antara pintar dan bodoh sulit dibedakan, antara cerah dan mata buta sulit dipisahkan, antara keberanian dan rasa malu dicampuradukkan, coklat dan tai kucing jadi satu. Ketika perasaan itu dibahasatuliskan, maka hal-hal konyol itu juga ada di sana. Benar lirik sebuah lagu, “Jatuh cinta berjuta rasanya, amboi-amboi rasanya”.

Zaman now, kira-kira mulai tahun 1990an, surat menyurat cinta itu tidak ada lagi. Handphone (HP) sudah menggantikannya. Bagi generasi yang mulai masa remajanya sejak tahun itu sudah memakai sms (short massages system). Tanpa perantara. Itu berlaku hingga hari ini. Tidak ada lagi ‘nota bene’. Tapi satu hal yang tidak berubah, yaitu “jatuh cinta berjuta rasanya”. Meski berjuta campur buta, tapi remaja-remaja, pemuda-pemudi bukanlah monyet, karena mata hati dan akal budi tetap menjunjung nilai-nilai luhur martabat manusia dan keTuhanan. Saya pikir, itulah ‘nota bene’ yang sesungguhnya dalam cinta saat menziarahi kehidupan di dunia ini. Anda setuju?

  • Labuan Bajo, 22 Oktober 2021