Pembangunan Gereja Devosional Lengor,Kecamatan Elar Selatan, Mangkrak Selama Dua Tahun

DaerahFlores

Borong, SorotNTT.com – Pembangunan Gereja Devosional Lengor mangkrak selama dua tahun yang berada di Desa Teno Mese, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Flores-Nusa Tenggara Timur,(NTT).

Data yang berhasil dihimpun SorotNTT.com, Jumat (2/8/2019). dari umat Stasi Lengor berinisial FT mengatakan bahwa, awalnya di Stasi Lengor membuka ruang yang dihadiri oleh Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Muda dan perempuan untuk duduk bersama guna mewujudkan mimpi besar ini.

“Dalam perjalanannya, melalui intervensi APBD lewat perjuangan DPRD tahun 2017,  maka Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur mengalokasikan dana yang diperkirakan senilai Rp.50.000.000,  untuk membangun Gereja tersebut,” ujar FT

Diakuai FT, awalnya Panitia Pembangunan Gereja dibentuk tidak melibatkan banyak orang. Setelah mentok agenda siaga pra perencanaan pembangunan tersebut tidak dijalankan sebagai mestinya, maka ada upaya panitia untuk merangkul banyak orang untuk mengadakan pertemuan.

“Saat itu, kabarnya ada sumbangan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur, maka panitia pembangunan Gereja pun bekerja untuk mendapatkan dana yang diperoleh melalui swadaya dari umat d Lengor masing-masing RP. 150.000 per kepala keluarga,” ujarnya.

Masih kata FT, agenda pertama saat itu adalah acara peletakan batu pertama yang didanai dari dana swadaya umat. Setelah semua proses pelaksanaan berjalan hingga acara peletakan batu pertama dilakukan bahkan hingga proses pencairan dana, selanjutnya ada aksi pengangkutan material pada tanggal 4 Juni 2017. Namun ironisnya, sampai hari ini tindak lanjut dari peletakan batu pertama pembangunan Gereja tersebut tidak ada sama sekali.

“Acara peletakan batu pertama yang diselenggarakan pada tanggal 04 Juni 2017 sangat heboh, apalagi dalam acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Manggarai Timur, Bapak Andreas Agas, Romo Vikep Borong, Pastor Paroki, Camat Elar Selatan, Kapospol Elar Selatan, serta umat dari tiga Stasi di Lengor,” imbuhnya.

Dia menambahkan, hingga saat ini, Evaluasi dari Panitia terkait agenda setelah acara peletakan Batu pertama, sama sekali tidak ada. “Seperti apa laporan panitia serta perkembangan, apakah ada suntikan dana dari pihak ketiga dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur, itu tidak ada sama sekali,” tambah FT.

Dia berharap, tentu segala sesuatu itu harus berjalan sebagai mana mestinya. Dikatakan FT, hal ini sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat Teno Mese umumnya sudah tahu ada dana sekian juta sudah dicairkan untuk pembangunan Gereja ini.”Seperti apa pemanfaatannya dari dana tersebut, sebagai umat kami belum tau,” tutupnya.

Sementara itu, Bendahara Panitia Pembangunan Gereja Devosional Lengor, Heribertus Soterleli saat diwawancarai SorotNTT.com pada, Sabtu (3/8/2019) membenarkan terkait alokasi dana yang bersumber dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

Menurutnya, besarnya dana yang dialokasikan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur saat itu senilai Rp. 50.000.000.

“Dana sebesar Rp. 50.000.000 tersebut sudah cair dan sudah kami terima pada tahun 2017,” ujar Heribertus.

Saat ditanya pemanfaatan dari dana sebesar Rp.50.000.000 tersebut, Heribertus mengatakan sudah kami gunakan untuk membeli material pembangunan Gereja tersebut.

“Untuk barang seperti Semen, Pasir, Batu, Besi Beton sudah kami belanja semua. Sekarang kami hanya menunggu kapan ada rapat tindak lanjut dari ketua Panitia, terkait panitia yang sudah dibentuk”, ujar Heribertus.

Menurutnya, selain mendapat sumbangan dari pemerintah Daerah Manggarai Timur, ada juga dana hasil dari swadaya umat dari tiga Stasi sebesar Rp. 18.590.000, Tiga Stasi Gereja Devosional Lengor, yaitu Stasi Lengor, Stasi Sopang Nancur, Stasi Leko Neko.

“Dana swadaya umat ini, ada yang sudah berhasil dikumpulkan dan ada yang belum lunas dari tiga stasi Gereja Devosional Lengor,” ungkapnya.

Lanjut Heribertus, dana yang saya pegang hingga saat ini diperkirakan 5 jutaan saja. Dan dana itu masih ada ditangan saya saat ini.

“Sekarang kami hanya menunggu kapan diselenggarakan rapat yang dipimpin oleh ketua Dewan Stasi selaku ketua Panitia pembangunan Gereja,” tutupnya.

Hal serupa disampaikan oleh ketua Panitia Pembangunan Gereja Devosional Lengor, Rofinus Ratu. Ia membenarkan bahwa, benar ada sumbangan dana untuk pembangunan Gereja Devosional Lengor dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur pada tahun 2017.

“Untuk material pembangunan tersebut sudah kami belanja. Sekarang barang-barangnya masih ada di toko, di kota Borong. Sementara barang material yang lainnya sudah ada disini,” kata Rofinus saat ditemui sorotNTT.com pada, Minggu (4/8/2019).

Lanjut Rofinus, jujur sampai saat ini kami dari panitia belum melakukan Evaluasi terkait kegiatan-kegiatan yang sudah kami lakukan sejak acara peletakan batu pertama pembangunan Gereja.

“Dalam waktu dekat kami akan melakukan diskusi ditingkat panitia sekaligus melakukan Rapat bersama yang dihadiri umat terkait tindaklanjut dari pembangunan Gereja yang mandek dua tahun ini, sekaligus untuk menjawab desakan dari para umat dari tiga stasi ini,” ujar Rofinus.

Dia menambahkan, saya punya niat diakhir tahun ini harus sudah bangun fondasi Pembangunan Gereja  dari bahan yang sudah ada.

“Awal tahun 2019 ini, saya didesak oleh Kepala Dinas untuk membuat laporan pertanggungjawaban terkait dana senilai RP. 50.000.000 itu,” terangnya.

Diakui Rofinus, Dana beserta pembelian material pembangunan Gereja tersebut sudah di pertanggung jawabkan. Namun, hingga saat ini fakta pembangunan fisik di lapangan yang belum terealisasi.

Pantauan SorotNTT.com, Minggu,(4/8/2019), di lokasi kegiatan pembangunan Gereja Devosional Lengor, tampak bekas galian fondasi peletakan batu pertama tahun 2017 silam, serta tumpukan batu dan pasir yang hingga saat ini belum dimanfaatkan.

Laporan : Ferdinandus Lalong