pemberitaan berlebihan pemicu bunuh diri

Pemberitaan Berlebihan di Media Massa Pemicu Bunuh Diri

Daerah Flores

BORONG, SorotNTT.com – Maraknya kasus bunuh diri akhir-akhir ini di wilayah Manggarai Raya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dipicu akibat pemberitaan media massa yang berlebihan bahkan sangat vulgar.

Dilaporkan, hampir setiap bulan di wilayah Manggarai raya mengalami kasus bunuh diri. Bahkan melebihi dua korban dalam kurun waktu satu bulan.

Dalam keterangan siaran pers yang diterima SorotNTT.com, Direktur Yayasan Mariamoe Peduli (YMP), Albina Redempta Umen, S.Psi menjelaskan pemicunya, menurut analisis lembaganya, adalah copying mechanism pada kasus-kasus bunuh diri yang terdahulu dan diberitakan secara masif oleh media-media massa tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya. Akhirnya publik belajar bahwa pola penyelesaian masalah salah satunya adalah dengan cara bunuh diri.

“Istilah dalam ilmu psikologi adalah copying mechanism yang keliru dari para korban kasus bunuh diri. Sehingga para korban memiliki kecenderungan untuk meniru kasus bunuh diri sebelumnya,” katanya.

Ia  menyarankan, agar pemberitaan media massa sebaiknya lebih berorientasi mengedukasi publik dengan menghadirkan pendapat dan pikiran para pakar, terkait pemecahan masalah dan analisa ilmiah terhadap kasus, bukan justru membedah kasus, bahkan memaparkan secara detail kronologis kejadian, cara bunuh diri, alasan, dan juga berisi interpretasi terhadap kejadian secara subyektif.

Praktisi Psikologi itu mengungkapkan bahwa fenomena maraknya kasus bunuh diri di Manggarai Raya sudah terbaca di riset YMP sejak awal tahun 2018 lalu.

Ia menerangkan bahwa hal yang paling jelas terlihat pada ringkihnya ketahanan psikologis anak-anak dan remaja yang menjadi responden riset ini. Ketahanan psikologis dari masa ke masa cenderung mengurang. Stressor yang seharusnya hanya menyentuh level rendah pada orang umumnya, tapi pada kelompok anak dengan ketahanan psikologis yang rendah, hal yang biasa bisa menjadi problem yang sangat pelik dan berujung pada jalan buntu, yakni dengan mengakhiri hidup.

Pola asuh menjadi pemicu utama bunuh diri

Albina menambahkan, pola asuh yang mengabaikan adversity quotient atau kecerdasan mengelola masalah pada anak. Bahkan orang tua cenderung membesarkan anak mereka dengan pola mengambil alih semua peran anak dan tidak membiarkan anak mengalami kegagalan.

“Anak-anak dididik hanya jadi pemenang dan tidak menyiapkan diri untuk kalah. Hal itulah yang membuat ketahanan psikologis anak-anak hari ini menjadi sangat rendah. Sulit menerima kegagalan,” jelas Albina.

Turbulensi sosial yang sangat cepat juga membuat anak-anak yang tidak kuat tersingkir dari pergulatan hidup dan cenderung kehilangan harapan. “Dalam istilah kami, banyak anak-anak yang tersingkir atau tercecer dari frenzied social competition (persaingan sosial yang ketat-red),” tutupnya.

Laporan: Lalong Ferdinandus