pengkhianatan

Pengkhianatan

Cerpen Sastra

“Aku melihat dengan mataku sendiri. Dia sudah mengandung anak dari mantannya.”

Sepotong kalimat ini pernah dimuat pada story WhatsAppnya. Waktu itu tepat dua tahun mereka menjalin kasih jarak jauh (LDR). Suatu perjuangan yang berat. Dan Anji tahu itu. Berkorban adalah pilihan yang menjadi keputusannya. Berkorban dalam bentuk apa saja, terutama mengenai pertemuan yang terus menghantui pikiran Anji. Berbagai imajinasi liar tentang pertemuan terus menggelora membakar pikiran Anji. Dan itu semua hanya fiksi.

Anji pernah menulis demikian, “Jika memang aku ditakdirkan untuk bersamanya, maka tidaklah sia-sia kami terkungkung dalam rindu. Dan itu semua akan aku ceritakan kepada anak dan cucuku nanti”. Memang LDR hanya sebatas khayalan semata, tapi tidak berarti mereka yang LDR demikian. Dan bagi mereka yang mencapai pelaminan akan bersorak riang, tapi, tidaklah Anji. Seorang pemuda dengan gelar sarjana filsafat, predikat cum laude, ternyata tidak demikian dalam menjalin asmara. Memang benar, filsafat membantu kita untuk berpikir kritis mengenai situasi sekitar kita dan apa pun itu, mungkin juga tentang asmara.  Tapi Anji sudah menstempelkan dirinya sebagai seorang pemuda yang gagal dalam dunia asmara.

 “Aku pemuda yang jalang di antara yang malang. Aku pemuda yang merana di antara makhluk yang paling fana. Aku gagal menjadi aku oleh kebutaanku pada asmara. Biarkan itu menjadi dosaku”. Tulis Anji pada diarynya.

Anji berkomitmen pada tahun 2019, untuk menghapuskan segala kenangan, apa saja, khususnya dengan Veve.

Anji mengenal Veve dua tahun silam. Perkenalan itu cukup berarti bagi keduanya. Yang walaupun cukup untuk menanyakan kabar dan ngopi bersama di warung pojok, tempat biasa anak-anak milenial menghabiskan waktu belajar dan ngobrol santai. Tempat ini ramai dikunjungi pada hari-hari kuliah. Ada yang sekedar melepas penat selesai mengikuti kuliah di ruangan kelas, dan ada juga yang bolos dari ruangan kelas karena menganggap dosennya tidak memberikan nilai tambah atau dosen pengampu mata kuliahnya sangat killer dan masih banyak alasan-alasan konyol lainnya. Tapi itulah kenangan-kenangan semasa kuliah dan yakin bahwa hal ini tidak terjadi untuk kedua kalinya saat berada dalam dunia kerja. Dan di tempat itu juga Anji dan Veve bertemu. Pertemuan ini memang bukanlah sebuah kebetulan bagi keduanya. Tapi di sini mereka mulai melahirkan rindu. Veve yang pada waktu itu seorang mahasiswi kedokteran di salah satu kampus ternama di Surabaya. Tentu saja, ada banyak laki-laki yang mengawininya. Veve memiliki kelebihan, selain statusnya sebagai seorang mahasiswi dokter, dia juga pandai bergaul dengan siapa saja. Gadis yang memiliki pipi lesung ini, juga sering tampil di pelbagai acara sebagai MC. Sebelum mengenal dengan Anji, sudah banyak laki-laki yang ditolaknya tidak terhitung mantan pacarnya.  Anji juga bagian dari ramalan dalam kehidupan Veve. Apakah dirinya masuk dalam kolom mantan atau dialah satu-satunya laki-laki yang berhasil mendamping Veve sampai pelaminan.

 “Anji, aku yakin Tuhan mengirimmu untukku. Dan berbahagialah aku tidak salah jika suatu saat engkau menyatakan cintamu padaku dan aku terima. Karna aku yakin pilihanku sudah menjadi keputusanku bahwa jika memang takdir mengijinkan, jadilah imam dan ayah dari anak-anakku nanti”. Tulis Veve pada diarinya. 

Cerita demi cerita menghiasi hubungan mereka. Keduanya bertekad akan menikah setelah merasa mandiri dan mapan dalam hal ekonomi. Janji demi janji mengikat jarak dan sedikit mengobati rindu. Mereka tidak seperti anak zamannya yang sedang jatuh cinta. Malam mingguan hanya habis dengan video call (VC). Ya. LDR memang begitu ceritanya. Tidur beralaskan rindu dan bangun bernafaskan khayalan. Selain meramalkan tentang apa yang terjadi jika sudah bersama nanti juga hal apa yang pertama dilakukan pada malam pertama. Hampir keduanya berimajinasi tentang hal yang sama.

Setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tingginya disalah satu sekolah tinggi filsafat di Flores, Anji yang pada waktu itu masih berjubah dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan yang akan menjadi sebuah keputusan menghantar Anji pada pergulatan yang hebat. Pilihan dari Veve dan keputusan untuk seminari.

“Jika engkau benar menepati janjimu untuk menjadi imam dan ayah dari anak-anakku, aku tunggu kamu di luar.” Sepotong kalimat yang masuk dalam WhatsAppnya Anji. Hari demi hari Anji terus bergulat dengan kalimat ini. Ruangan kamarnya seakan dipenuhi wajah Veve. Doa tidak cukup untuk menenangkan pikirannya. Ini memang perjuangan berat, bahkan lebih berat rindu. 

Tibalah saatnya, Anji memutuskan pilihan itu. Dia harus memilih di antara pilihan yang dua-duanya sudah dijalani.

“Anji, apakah engkau siap dan sanggup untuk menjadi pelayan Tuhan dengan syarat-syaratnya?” Pertanyaan itu menghantam pikiran Anji. Lama ia menunduk. Bayangan Veve menyelimuti pikirannya. Aku sangat mencintainya, Tuhan. Apakah aku salah jika aku melayani-Mu dengan cara yang berbeda dan syarat-syarat yang beda pula. ”Anji, apakah engkau mendengarkan aku?”. Kembali suara rektor membuyarkan lamuan Anji. “I….aa…a, rektor aku mendengarkanmu.” jawab Anji terbata-bata. “Anji, apakah engkau siap dan sanggup menjadi pelayan Tuhan dengan syarat-syaratnya?” Kembali rektor mengulangi pertanyaannya. “Ma..a…a..fkan aku, saya belum siap”.  Pandangannya gelap. Semuanya menjadi kabur. Waktu 8 tahun di seminari hanya putuskan 5 menit. Kenangan-kenangan selama 8 tahun tentu akan berbeda ketika dia memilih jalan yang lain. Selama satu minggu, Anji membereskan barang-barangnya dan siap berpindah tempat. Aku harus memberikan suprixe kepada Veve, dengan tidak mengabarinya. Bayangan Veve sedikitnya mengobati rindunya kepada teman-temannya.  Dan dia bertekad akan mengunjungi kekasihannya di tanah Jawa.

Dengan rindu yang menggebu, saat turun dari pesawat, Anji langsung menanyakan tempat tinggalnya Veve kepada temanya yang kebetulan kenal kekasihnya itu. Tiada hujan, tiada petir, Anji merasa bahwa semuanya sudah berakhir. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, seorang gadis yang membukakan pintu kos untuknya dalam keadaan hamil muda menyambut kedatangan Anji. “Aku datang untuk menepati janjiku dan pilihanmu”. Kata Anji kepada Veve. “Tapi engkau menyambut kedatanganku dengan keadaan yang bagimu sebuah kebahagiaan, tapi bagiku ini adalah pengkhianatan yang akan aku kubur bersama bayangmu. Mengapa engkau memanggilku rindu dan mendoakanku untuk menjadi iman dan ayah dari anak-anak kita, sedangkan engkau menjadi ibu dari anak-anak yang bukan dari darah dagingku”.

Waldus Budiman, Alumnus STFK Ledalero
Ketua Komunitas “Reje Leleng” Manggarai Surabaya.