ilustrasi

Pernyataan Keprihatinan Perhimpunan Jurnalis Indonesia

Nasional

Bangsa ini sudah menapaki jalan reformasi cukup panjang. Sudah 20 tahun lebih, negeri ini menginginkan terlaksananya demokrasi yang menghargai perbedaan pendapat, kebebasan penyampaian pendapat di muka umum, dan kebeban pers, termasuk perlindungan terhadap jurnalis dalam mencari informasi.

Hari ini, negeri ini seakan menyaksikan kembali kekerasan aparat kepolisian dalam melakukan pengamanan demonstrasi mahasiswa. Sekitar 20 tahun yang lalu, ibu pertiwi menyaksikan anak-anak muda negeri ini berjalan berderap bersama. Bersama untuk mewujudkan satu impian demokrasi, impian untuk kemakmuran negeri ini, dengan menghargai perbedaan pendapat, dan memiliki aparat yang mengayomi warga negaranya dan bukan menjadikan warga negara sebagai musuh.

Hari ini, ibu pertiwi kembali menangis menyaksikan bagaimana kekerasan aparat kembali dipertontonkan dihadapan publik. 

Hari ini, ibu pertiwi kembali menyaksikan jurnalis juga menjadi korban kekerasan aparat kepolisian saat menjalankan tugas di lapangan.

Salah satu korban itu adalah Muhammad Darwin Fathir (LKBN Antara) Makassar, Sulawesi Selatan. PLt ketua Perhimpunan Jurnalis Indonesia Sulsel ini, menjadi salah satu korban kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian.

Padahal, dalam menjalankan tugasnya, jurnalis sudah dilindungi oleh UU no:40/1999 tentang Pers, Dalam UU ini, pasal 4 ayat (3) menyebutkan, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. UU ini juga memuat tentang pemberian sanksi kepada mereka yang menghalang-halangi kerja wartawan. 

Pasal 18 Undang-Undang tentang Pers menyatakan: “Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berkaitan menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta.“

Itu sebabnya, PJI meminta pihak kepolisian untuk segera menyelesaikan kasus kekerasan terhadap jurnalis ini, dan berharap tidak ada penundaan penanganan, yang bisa menyebabkan keprihatinan yang semakin mendalam. PJI berharap, kekerasan terhadap jurnalis oleh aparat kepolisian tidak terjadi lagi.

Semoga, aparat kepolisian dan pemimpin negeri ini diberikan hati yang bersih, dibukakan mata batinnya tentang apa yang terjadi di negeri ini.  Semoga, negeri ini diberikan kerahmatan dan kedamaian dari Allah SWT. Amin.

Jakarta, 24 September 2019

Siaran Pers

Ketua Umum PJI

Imam Prihadiyoko