Polres Manggarai Diminta Segera Tangkap Pelaku Penyerobotan Tanah Warga di Desa Bangka Kenda, Kabupaten Manggarai

Daerah

Ruteng, SorotNTT.Com-Polres Manggarai Diminta segera menangkap para pelaku penyerobotan tanah milik Ibu Yuliana Moen dan beberapa warga lainnya yang berlokasi di kampung Coco Sangge dan Kampung Kaweng, Desa Bangka Kenda, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur(NTT).

Hal ini disampaikan pengamat dan praktisi hukum, Siprianus Edi Hardum, SH, MH.pada Kamis 30/12/2021, kepada awak media.”Ini namanya tindakan penyerobotan”.

Berdasarkan peraturan perundang-undangan, tanah yang dihibahkan dari adat atau dari mana saja, dan dikuasai minimal 30 tahun, maka tanah itu menjadi hak milik. Siapa yang mengambil atau menguasai tanpa persetujuan pemilik maka termasuk tindak pidana perampasan dan penyerobotan. Polisi harus tangkap orang-orang yang merampas itu.

Orang-orang seperti itu jangan dibiarkan. Kalau dibiarkan akan menjadi preseden buruk ke depan. Ini negara hukum. Hukum harus ditegakkan, tegas Pria yang biasa disapa Edy Hardum ini.

Untuk diketahui, sebelumnya telah diberitakan bahwa Pesta Demokrasi di Negara Republik Indonesia ini rupanya telah tercoreng oleh ulah sekelompok warga di Desa Bangka Kenda, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur(NTT).

Hajatan politik di tingkat desa yang seharusnya dilaksanakan dengan damai dan sukacita, kini menjadi pesta demokrasi yang menakutkan dan mencemaskan bagi keluarga ibu Yuliana Moen(57).

Kenyataan pahit mereka rasakan tatkala hajatan Pilkades serentah dikabupaten Manggarai, NTT telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Diduga karena beda pilihan terhadap figur yang diusung maka dua (2) lahan tanah yang mereka miliki sejak puluhan tahun sekarang di serobot oleh sekelompok warga.

BACA JUGA:  Cuti ke Amerika, Sandiaga Titip Pos Kemenparekraf ke Wamen Angela

Kepada media Rabu(29/12/2921) Ibu Yuluana Moen (57), asal Kaweng, Desa Bangka Kenda, Kecamatan Wae rii, Kabupaten Manggarai, NTT menyampaikan bahwa ada dua bidang lahan miliknya yang sekarang telah diklaim oleh sekelompok orang.

Pertama lahan di Lingko Dalo, Kampung Kaweng, Desa Bangka Kenda, diambil oleh  oknum berinisial AN, NJ, AT,LM, S, mereka adalah warga asal Coco Sangge dan Kaweng dan diambil pada tanggal 16 November 2021.

Atas tindakan para oknum tersebut oleh Kasmir Kadung (Anak dari Bapa Pelipus Mantur dan Ibu Yuliana Moen), sudah melaporkan kejadian ini ke Camat Wae Rii, dari Camat Wae Rii diarahkan untuk lapor ke Desa Bangka kenda.

Selanjutnya kasmir kadung sudah melaporkan masalah ini ke Pjs Desa Bangka kenda atas nama Agus Hamid dan Pjs. Desa Persiapan Compang Kaweng Korneli Jaman.

Kasmir Kadung sendiri sudah diambil keterangan oleh kedua Pjs tersebut di Kantor Desa Bangka Kenda, tetapi sampai saat ini belum ada keputusan.

Menurut ibu Yuliana Moen, tanah ini merupakan pembagian tua gendang Kaweng pada tahun 1979 kepada suaminya, setelah mereka menjadi suami isteri maka lahan itu digarap sejak tahun 1983.

Didalam lahan tersebut sudah ditanami berbagai tanaman seperti kopi, pisang, ampupu, cengkeh, mahoni dan mangga serta tanaman lainya.

Sejak tahun 1979 tidak ada yang mengganggu kami sekeluarga ketika menggarap lahan tersebut, baru pada tanggal 16 November 2021 kemarin lahan ini di klaim oleh sekelompok warga.

BACA JUGA:  Gubernur NTT Harus Pecat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Kedua lahan sawah di Lingko Neka, kampung Kaweng, Desa Bangka Kenda, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai

Tanah tersebut dilakukan penyerobotan oleh  oknum berunisial LM, M, IM, FR, YB, LM, S, DD, J, SJ, ML, Y, R, YN, YI, MG, Mereka berasal dari Kampung Kaweng dan Coco Sangge.

Lahan ini merupakan warisan orang tua dan sudah lama dikerjakan, serta selama ini membayar pajak kepada negara.

Pada Tanggal 28 Desember 2021 lahan tersebut di klaim dan dilakukan penyerobotan oleh sekelompok orang dari kampung Kaweng dan Coco Sangge.

Ibu Yuliana Moen sempat bertemu dengan para oknum tersebut dilokasi dan kepada ibu Yiana disampaikan bahwa ini akibat karena keluarga kamu tidak memilih kepala desa yang merupakan utusan gendang kita.

“Sejak awal kami sudah sampaikan kita harus pilih kepala desa dari gendang kita, jangan pilih calon dari kampung lain, sekarang ini sudah kamu rasakan akibatnya, seluruh tanah yang dibagikan oleh para tua dulu akan diambil kembali”.

Atas ulah para oknum, mama Yuliana Moen sudah melaporkan kasus ini ke polres manggarai, oleh petugas petugas dipolres disampaikan baiknya diurus setelah tahun baru.

Sampai sekarang ini seluruh keluarga ibu Yuliana Moen merasa tidak tenang karena selalu mendapat  perlakuan yang tidak wajar serta adanya ancaman dari sekelompok warga tersebut.

Karena merasa takut, Kasmir Kadung anak dari ibu Yuliana Moen telah meninggalkan rumah dan sekarang lagi berusaha untuk membuat rumah baru dilokasi berbeda.

BACA JUGA:  DPD dan DPC PSI Kabupaten Manggarai Dilantik Giring Ganesha

Ibu Yuliana Mien serta keluarganya sangat mengharapkan bantuan dari Bapak Bupati dan Wakil Bupati Manggarai, Bapak Kapolres Manggarai, Bapak Dandim 1612 Manggarai untuk membantu mereka memperoleh keamanan serta menyelesaikan masalah yang mereka hadapi saat ini.

Kami warga negara yang taat aturan, kalau memang Pilkades Desa Bangka Kenda ini membuat kami tidak nyaman, lebih baik kemarin jangan saja dilaksanakan.

Karena dijamin oleh aturanya pemerintah dan keamanan dari polisi dan TNI, maka kami ikut berpartisipasi, tetapi sekarang kondisinya begini.

Oleh karena itu saya mengharapkan bantuan pemerintah Kabupaten Manggarai dan Pihak Polisi dan TNI untuk membantu kami.

Ibu Yuliana juga menjelaskan masih ada 4 orang warga yang lahanya di klaim oleh sekelompok orang tersebut dan semuanya karena masalah beda pilihan waktu Pilkades kemarin.

Untuk diketahui Philipus Mantur suami dari Yuluana Moen sekarang ini mengalami sakit pendengaran dan ingatanya berkurang.