‘Praktek Peradilan Semu’, Wadah Belajar Praktek Beracara bagi Mahasiswa Fakultas Hukum Unwira

KUPANG, SorotNTT.comPraktek Peradilan merupakan salah satu bagian dari mata kuliah yang diajarkan dalam perkuliahan Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang. Melalui mata kuliah Praktek Peradilan, mahasiswa dapat mengimplementasi teori yang telah didapatkan dari Hukum Acara, baik Hukum Acara Pidana, Hukum Acara Perdata, maupun Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Oleh karena itu, Praktek Peradilan wajib ditempuh oleh mahasiswa Fakultas Hukum Unwira.

Mengingat pentingnya peranan Praktek Peradilan, maka Fakultas Hukum UNWIRA Kupang menyelenggarakan Praktek peradilan Semu di Ruangan Praktek Peradilan B210, Lantai 2 Fakultas Hukum UNWIRA Kupang, pada Selasa 7 Januari 2020.

Peradilan semu  sebagai wadah bagi mahasiswa untuk belajar mengenai praktik beracara pada proses peradilan, lebih tepatnya pada hukum acara. Kegiatan peradilan semu merupakan simulasi dari proses peradilan yang sebenarnya.

Praktek Peradilan Semu di Fakultas Hukum Unwira untuk mahasiswa semester tujuh dan termasuk dalam tugas akhir yang wajib dilaksanakan semua mahasiswa.

Sebelum melakukan peradilan semu mahasiswa Fakultas Hukum UNWIRA melakukan magang di Pengadilan Negeri selama satu semester supaya memahami kasus yang ditangani dan alur proses persidangan.

BACA JUGA:  Jaga Persatuan dan Kesatuan, Polres Manggarai Barat Gelar Apel Kebangsaan

Dosen yang membawakan mata kuliah Praktek Peradilan Rudolfus Talan mengatakan, Praktek peradilan ini sebagai mata kuliah terapan atau praktek terhadap muatan materi yang sudah diperoleh mahasiswa dari semester satu sampai semester tujuh sehingga dengan peradilan semu yang praktek oleh mahasiswa yang memprogramkan mata kuliah praktek peradilan ini dapat mengejawantahkan/mengaplikasikan hukum acara yang telah selesai dipelajari pada semester lima sebelumnya; sehingga mahasiswa praktek peradilan semu itu betul-betul sudah 50% sampai 70% mempraktekan hukum acara yang diperoleh pada saat kuliah di semester lima.

“Pada prinsipnya Penampilan mahasiswa praktek peradilan ini sudah cukup memadai karena menampilkan proses itu secara baik sesuai hukum acaranya,” kata Rudolfus.

Walaupun masih ada beberapa hal teknis yang mungkin selama ini kurang diperhatikan pada saat mengikuti proses di persidangan di pengadilan melalui visitasi.

Diharapkan peran yang sudah dipraktekan baik sebagai majelis atau penasehat hukum JPU, atau kuasa dari penggugat maupun tergugat bahkan juga panitera pengganti, mahasiswa kedepan akan bisa menentukan sikap untuk memilih profesi majelis, Jaksa Penuntut Umum atau juga sebagai Penasehat Hukum,” jelas Rudolfus.

BACA JUGA:  Dipanggil Ke Istana: Johnny G. Plate Digadang Masuk Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin

Sementara salah satu mahasiswa yang menjadi pemeran dalam sidang peradilan semu, Benedikta Wewik Li Pena mengungkapkan dengan adanya Praktek Peradilan Semu ini, kita bisa terbiasa dengan suasana peradilan. “Kita terbiasa dengan suasana peradilan, membuat kita percaya diri, lebih kritis dalam mengamati situasi di pengadilan.

Situasi peradilan semu dengan peradilan sesungguhnya berbeda, peradilan semu berisi teman-teman kita sendiri. Meskipun demikian, setidaknya peradilan semu ini melatih mental kita untuk menghadapi peradilan yang sesungguhnya”, ungkap Wewik.

Sedangkan Yoseph Edwin Tanaem menyampaikan, “ada banyak manfaat dan tujuan yang dapat diperoleh dalam praktek peradilan semu ini diantaranya adalah proses pembelajaran, pengalaman yang kami dapat.

Persiapan peradilan semu ini sangat panjang dan bertahap. Dimulai dari penyusunan berkas hingga latihan persidangan yang tentunya memakan waktu yang cukup lama dan menguras tenaga. Namun hal ini semibang dengan manfaat, ilmu, dan pengalaman yang diperoleh dalam praktek ni,” jelas Edwin.

BACA JUGA:  Bupati Sikka Mengikuti Vaksinasi Tahap Pertama

“Ia mengakui meski bukan peradilan sebenarnya namun mereka meyakini peradilan semu ini sangat membantu untuk memahami tata cara proses serta tahap-tahap dalam peradilan yang sebenarnya,” tutup Edwin.

Reporter : Hendrikus Aditono