Puisi Rian Tap

NasionalPuisi

Tuan, Berikan Kami Rupiahmu

Aku ingin meminta, dengan suara lusuh penuh ketakutan
Aku mencoba teriak menggema seluruh negeri
Suara, terbungkam
Sunyi terseret diri
Inilah negeri yang diperjuangkan
Aku kembali bersuara, sambil mengulurkan tangan jelata
Namun apalah daya
Tanganku amat mungil, tak panjang untuk sampai pada saku dan isi dompetmu
Apa lagi, tanganku penuh dekil
Semenjak tadi, aku melebur dalam debu untuk mencari uang logam simpanan nenekku
Aku tak beribu
Apa lagi berayah
Ke mana lagi aku mengaduh, dan berkelium
Kalau bukan kepadamu
Kaum panjang tangan dari Tuhan
Hanya duduk di pinggir jalan
Tuan, belaskasihlah, aku anak yatim piatu
Tiada tempat beraduh, apa lagi untuk mengisi perutku

Terlalu pahit anggur yang kau seduhkan
Asam cuka yang kau berikan
Jembatan jadi tempat aku berteduh
Aku mengadahkan tangan
Berikan aku rejeki hari ini
Tuan, usiaku belum remaja
Apa aku harus perbuat?
Berikan sedikit rupiahmu
Jangan hanya kau berikan kepada tuan yang berdaasi itu
Yang mau membuncitkan diri
Mengenyang diri dengan ego yang tinggi

Jejak pada Setapak

Aku berjalan menyusuri stapak dengan mata terpejam
Menujumu yang amat silau
Berharap, mencungkil sekian rasa dari cahaya-Mu
Di kiriku menggelayut anak yatim
Di kananku erat mencekal anak piatu
Mampukah engkau, menanak sebakul nasi dengan api dari guritan senyum-Mu
Berbagi kenikmatan dan kemuliaan
Susu dalam bejana syukur
Aku berjalan menyusuri
Diiringi jutaan harap anak-anak pendoa
Dengan tubuh lunglai dan lapar
Bisakah engkau didihkan hangat air
Dari tadahan hujan yang kita punya
Agar mereka merendam risau, sebelum perjamuan makan
Seraya mengusir bisu dan risau
Sebelum kita tanak nasi dan air hangat pada ekaristi suci

Dimana?

Rasa sang raga yang ingin pulang
Untuk apa lagi aku ada
Mereka ada, tapi tak ada
Aku kian merana dan melarat
Aku bekerja di pertambangan
Aku bekerja sebagai pemulung
Aku bekerja sebagai buruh
Semua sama, kaum kapitalis meraut lebih dari jerih
Aku,
Hanya memandang dari ranjang atas kursi untuk tuan berdasi
Yang berpanggku kaki di atas ruang itu
Ada mereka
Aku geram
Aku kesal
Mana adamu
Adamu di mana
Hai tuan
Semoga ada hal yang kau beri untuk kami
Lihatlah kami!

Penulis adalah Pegiat Sastra Sampul Buku Unit Gabriel. Asal Lembor-Manggarai Barat. Tinggal di Ledalero-Maumere