Bakohumas Pemprov NTT terkait penutupan Pulau Komodo

Rencana Revitalisasi TNK dan Penutupan Pulau Komodo

Daerah Timor

KUPANG, SorotNTT.com – Pertemuan Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) lingkup pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) digelar oleh Humas Sekretariat Daerah (Setda) NTT di Hotel Ima, Kota Kupang, Kamis (23/5/2019). Diskusi ini mengambil Tema “Langkah-langkah Strategis Pemerintah Nusa Tenggara Timur dan Lembaga Terkait Lainnya dalam Persiapan Revitalisasi Taman Nasional Komodo dan Penutupan Sementara Pulau Komodo di Tahun 2020”.

Hadir dalam kegiatan ini dua narasumber, yaitu Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT, Ir. Wayan Darmawa, MT dan Kepala Balai TNK, Lukita Awang Nistyantati, dan Marius Jelamu selaku moderator. Acara ini juga dihadiri oleh lebih dari 100 orang perwakilan perangkat daerah Provinsi NTT, bagian humas Kabupaten Kupang dan Rote Ndao, serta para awak media.

Gubernur NTT dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT, Marianus Ardu Jelamu menyampaikan, beberapa fakta buruk yang menimpa Taman Nasional Komodo (TNK) sudah kita ketahui bersama-sama, antara lain pembantaian rusa di sekitar TNK oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, pemancingan Komodo oleh beberapa wisatawan asing, kebakaran padang puluhan hektar di Pulau Gili Lawa di sekitar TNK, dan terakhir kasus anak Komodo sebanyak 41 ekor ke luar negeri.

BACA JUGA:  Ubi Nuabosi Mendekatkan Ende dan Ibu Julie Sutrisno

Namun, tidak semua pihak menerima itikad baik ini dengan legawa. Sejumlah pengusaha jasa wisata di Labuan Bajo menantang rencana ini. Karena kurang lebih 70% warga Labuan Bajo hidup dari jasa wisata. Oleh sebab itu, pada pertemuan Bakohumas saat ini, akan mendiskusikan langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan oleh pemerintah Provinsi NTT dan lembaga terkait, sehubungan dengan revitalisasi TNK dan penutupan Pulau Komodo di awal Januari 2020. Selain itu juga menjelaskan bagaimana langkah-langkah tersebut dapat memperbaiki aspek pelestarian TNK, aspek pariwisata, dan aspek ekonomi.

“Besar harapan saya juga agar kegiatan pertemuan Bakohumas ini, kiranya menjadi media untuk meningkatkan kesadaran semua ASN berkolaborasi dengan semua elemen masyarakat di berbagai level untuk berperan aktif secara sistematis, sinergis, dan efektif terhadap kompleksitas berbagai tugas dan fungsi dari masing-masing perangkat daerah, dalam mendukung proses penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelaksanaan kemasyarakatan dalam visi “NTT Bangkit Menuju Masyarakat Sejahtera”,” kata Gubernur dalam sambutan tertulisnya.

Pertemuan Bakohumas Pemprov NTT terkait penutupan Pulau Komodo
Pertemuan Bakohumas Pemprov NTT terkait rencana penutupan Pulau Komodo di Hotel Ima, Kota Kupang, Kamis (23/05/2019). (Foto: Doc. Hendrikus Aditono/SorotNTT)

Kepala Dinas Pariwisata, NTT, Wayan Darmawa dalam paparannya menggarisbawahi bahwa NTT yang memiliki destinasi wisata kelas dunia seperti Sumba sebagai pulau terindah, Hotel Nihiwatu, Komodo, Kelimutu, Wae Rebo, taman laut di Alor dan Nembrala Rote, ikan paus Lamalera, rumah adat dan kampung adat, serta tenun ikat.

BACA JUGA:  Boy Rafli Amar, sosoknya Mirip Jenderal Hoegeng, Kapolri Jujur dan Teladan Bhayangkara

“Keunggulan lainnya, Provinsi NTT dikenal dengan toleransi terbaik, bandara dan pelabuhan laut terbanyak di Indonesia, dengan 14 bandara, ragam kuliner terbanyak, produk rumput laut dan kelor terbaik. Yang paling penting, kata dia, adalah bagaimana mengangkat hal-hal yang unggul dari NTT dan membangun kesadaran (awareness) wisata masyarakat NTT,” jelas Wayan.

Selanjutnya ia menambahkan, ada tujuh destinasi alam yang akan direvitalisasi nanti, yaitu pantai Liman di Semau lebih hebat dari Sanur, ada tapak jejak tangan Lingga dari sejarah kerajaan Majapahit, Fatumnansi di Timor Tengah Selatan (TTS), Naro di Ende, Worwar Alor, Mulut Seribu di Rote Ndao lebih bagus dari Raja Ampat,  dan Premadita di Sumba Timur.

Sementara Kepala Balai TNK, Lukita Awang Nistyantara juga mendorong pemerintah daerah untuk membuka lokasi wisata lainnya terutama daerah habitat binatang purba Komodo yang ada di wilayah daratan Flores bagian utara. Menurutnya, hal ini penting untuk keadilan dan kesetaraan pariwisata di semua daerah potensi wisata yang belum diberdayakan.

BACA JUGA:  Tentara Pejuang dan Berjiwa Sapta Marga Dan Sumpah Prajurit

“Prinsip dasar pengelolaan ekowisata, yang pertama adalah best practice eco-tourism, yakni menetapkan praktik-praktik terbaik dalam melaksanakan pariwisata alam di dalam kawasan. Yang kedua adalah environmental integrity, yakni tidak akan menyebabkan perubahan nyata pada lingkungan (alam),” jelasnya pada saat memberikan materi.

Upaya rutin yang dilakukan adalah penetapan resort based management, sosialisasi kepada masyarakat/pengunjung/nelayan, sosialisasi konservasi mingguan, pemberdayaan masyarakat, kerja sama penguatan fungsi dengan pihak ketiga, peningkatan kepastian pegawai, dan lain-lain.

“Tidak hanya itu kami juga kerja sama multi pihak, antara lain penelitian dan pemantauan spesies, patroli pengaman hutan, pelaporan pelanggaran, dan pembangunan saran dan prasarana.” tutup Lukita.

Laporan: Hendrikus Aditono