Rindu Kopi Buatan Ibu

Rindu Kopi Buatan Ibu

Esai

Secangkir kopi mampu meringkas segala jenis keresahan dan mampu merangsang pikiran. Kopi dengan aromanya yang sangat aduhai membangkitkan hasrat bagi setiap pecandu kopi. Kopi memang menyajikan kenikmatan sendiri untuk setiap pecandu kopi. Kebanyakan orang, khususnya laki-laki, kopi selalu memiliki teman, yaitu rokok. Tapi tidak selamanya laki-laki pecandu kopi itu juga perokok. Memang setiap pecandu kopi memiliki persepsi tersendiri tentang nikmatnya kopi. Ah, berbicara tentang kopi pikiranku jadi melayang jauh mengenang tentang dia dan kopi. Dia, yang membuatku ada.

Sejak kecil saya sudah terbiasa minum kopi. Baik kopi pait maupun kopi yang rasanya manis.  Setiap pagi ibu selalu menyajikan kopi untukku baik sebelum maupun sesudah han gula (sarapan). Waktu itu saya belum mengerti mengapa beliau selalu melakukan hal itu. Saya hanya mampu terbiasa dengan kebiasaan beliau menyajikan secangkir kopi panas, lalu saya menikmati tanpa pernah mencoba berpikir maksud dari secangkir kopi itu. Pada waktu SMP ibu masih melakukan hal yang sama setiap kali saya pulang libur dan itu pun terjadi juga sampai saya menyelesaikan SMA. Kopi buatan ibu rasanya sangat jauh berbeda dengan kopi buatan orang lain. Saya sering lejong dan ngopi di rumah tetangga, namun rasa kopi buatan ibu tidak pernah saya rasakan di sana.

“Nak, kopi dapat membuatmu semangat dalam melakukan apa pun termasuk saat engkau baru menyelesaikan pekerjaanmu.” Pesan ibuku sebelum saya mereguk kopi buatan beliau. Hal itu memang terbukti dan saya benar-benar merasakannya setelah mereguk kopi buatan ibu. Namun apalah daya, sudah empat tahun saya tidak pernah merasakan kopi buatan ibu. Kopi memang sejenis minuman yang memberi pengaruh tersendiri bagi tubuh. Selain sebagai penyemangat, kopi juga dapat membangkitkan sejuta inspirasi. Hal ini tidak dipungkiri, karena sebagian orang sebelum melakukan sesuatu harus meminum kopi terlebih dahulu. Ayahku salah satu dari mereka semua itu. Sebelum berangkat kerja, ibu selalu menyajikan kopi untuk ayah dan itu ibu lakukan setiap pagi. Sekali lagi saya katakan, kopi mampu meringankan sebagian beban dalam hidup. Selama di tanah perantauan saya selalu minum kopi tapi rasanya sangat berbeda.

Waktu itu saya sempat menanyakan kepada ibu, kira-kira apa resepnya sehingga kopi buatan beliau sangat berbeda dengan kopi buatan mantan saya. Dengan tersenyum ibu menjawab pertanyaan saya, “Nak, Ibumu tidak memiliki resep seperti dokter kepada pasiennya.” Tapi jawaban ibu belum sepenuhnya menjawab pertanyaan saya.

‘Ibu, mengapa kopi buatan Ibu rasanya sangat berbeda dengan kopi buatan tetangga dan mantan saya dulu?”

“Nak, setiap orang yang membuat kopi pasti mereka memiliki takaran tersendiri baik kopinya maupun gulanya.”

“Apakah karena takaran itu menyebabkan rasanya berbeda?”

“Benar katamu, Nak. Ibu juga tentunya memiliki takaran tersendiri dan itu berbeda dari orang lainnya.”

“Ibu, bisakah aku mengetahui takaran kopi dan gula yang Ibu racik?”

“Selain takaran itu, Ibu juga perlu memberitahukan kepadamu, bahwa ada hal yang lain mengapa Ayah dan engkau selalu merasakan hal yang berbeda ketika menikmati kopi buatan Ibu.” Aku semakin penasaran, kira-kira apa yang mau ibu sampaikan.

“Nak, engkau sudah dewasa. Memang sudah saatnya Ibu memberitahukan kepadamu, selain soal takaran gula dan kopi yang paling penting dalam membuat kopi itu adalah ketenangan batin,” kata ibu, “kita tidak boleh terburu-buru untuk melakukannya.” Ibu sedikit menjedakan pembicaraannya. Saya mulai bingung. Apakah pada saat kita membuat kopi harus tenang seperti yang disampaikan ibu? Ah … ini tidak mungkin. Saya mulai meragukan resep dari ibu.

“Nak, dengan ketenangan, kita mampu menyajikan kopi untuk siapa saja dengan baik.”

“Apakah ada hal lain selain ketenangan seperti yang disebutkan Ibu tadi?”

“Ini yang terakhir, Nak. Saat Ibu membuat kopi untuk Ayahmu dan kamu, Ibu selalu memasukkan 4 resep ini, yaitu masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan kasih sayang. Itulah mengapa kopi buatan ibu mengandung rasa yang berbeda dan kenikmatan tersendiri.”

‘Mengapa harus dengan masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan kasih sayang?” tanyaku.

“Nak, kamu sendiri yang akan menemukan jawabannya nanti.”

Genangan kenangan menggantung di pelupuk mataku. Ibu, belum kutemukan jawaban dari pertanyaanku. Engkau terlanjur berpulang sebelum aku berhasil mengorek rahasia kopi racikanmu. Kini hanya ada aku dan ayah menikmati kopi masing-masing. Diam seribu bahasa, enggan berkomentar tentang secangkir kopi yang tidak seperti dulu lagi.

Waldus Budiman
Alumnus Filsafat Ledalero, Ketua perkumpulan “Reje Leleng” Manggarai Surabaya. Tulisannya pernah dimuat di Flores Pos, Pos Kupang, dan beberapa media online.