ROMO KAREL JANDE DALAM NARASI TOROK

Daerah

Oleh: Gerard N.Bibang

TOROK

Segera engkau tahu siapa dirimu, serentak warta untuk aku dan teman-teman kelasmu tentang seperti apakah hidup ini sejatinya, ketika di lembah permai Kisol, engkau selalu diampukan terdepan mengucapkan torok, melantangkan sastrawi manggarai ke langit-langit semesta. Tak satu pun kata Indonesia terselip. Mengalir kata-kata manggaraimu bagaikan anak sungai meriak-riak hilir tanpa arah kembali.

Yah, torok-mu adalah kata-mu, lagak-laku-mu, proklamasi-mu, hadir-mu, diri-mu, hidup-mu. Maka torok-mu adalah identitasmu, adalah jati-diri-mu. Ketika engkau menyebut setitik debu, yah, debu-lah engkau yang dirangkai dari berbagai serpihan, yang diendus dalam beragam kepingan, yang dirawat dalam doa, yang dramatis dan memberontak lebih-lebih ketika maling datang atas nama korporasi atau ideologi pembawa kesejahteraan yang melibas martabat manusia, yang membuatmu tidak gampang lupa bahwa tanah dan kebun sejatinya untuk siapa dan dari siapa.

Torok-mu adalah intimitas-mu dengan Mori Keraeng Ema Pu’un Kuasa*, adalah hidupmu yang tidak dibatasi pada apa yang terlihat kasat-mata dan yang dikalkulasikan untung rugi dalam perhitungan dunia. Dan yang terbalut dalam imamat tahbisan. Jadilah engkau bukanlah apa-apa di depan kemahaluasan semesta.

Torok-mu adalah ekaristi-mu di mana dirimu melebur dalam korban Kristus untuk keselamatan semua, lantas torok-mu menjadi altar sucimu di mana engkau mengantarai doa kami-kami dan umat manusia ini kepada Sang Kehidupan. Benar-benar engkau hanyalah perantara. Tak pernah ada niatan sedikit pun untuk menjadi terdepan dan tak sekali-kalinya berperilaku menjadi yang terutama, entah di dalam gereja, entah di masyarakat. Engkau bersahaja, benar-benar setetes debu yang siap melarung ke angkasa raya.


  • torok = satra lisan orang Manggarai dan merupakan doa yang menyertai berbagai ritus sejak kelahiran hingga kematian.
  • Mori Keraeng Ema Pu’un Kuasa = Tuhan Allah Maha Kuasa

TUAK

Engkau adalah robo tuak*, di depan kapel Sanpio dan pintu gerbangnya, melantunkan torok penyambutan kepada tamu-tamu khusus yang datang. Itulah caramu memuliakan martabat mereka sebagai sesama makhluk bersahaja.

Pada robo tuak, engkau berucap tentang saudari dan saudaramu, ialah semesta dan lima samudera, langit di atas dan bumi di sini. Melihat caramu berdoa, begitu pulalah imanmu, yang engkau warisi dari leluhurmu di desa Pong Lale, Sampar, yang ketika membuka lingko*, engkau dan orang-orangmu memohon izin pada tanah, batu, tali, kayu dan lain-lainnya lalu engkau sirami mereka dengan tuak. Mereka-mereka adalah totalitas dirimu. Tak terpisah hingga jasadmu diarak ke liang kubur. Salah satu pun mereka engkau gadaikan demi uang dan janji kesejahteraan, maka engkau memuncratkan darah dari nadimu hingga mati.

Pada robo tuak, engkau mendaraskan spiritualtias saudara dan saudari kepada siapa saja, tidak perlu menjadi berlebih, dalam nilai, angka dan lagak-laku. Pada robo tuak, hidup ini, yah, menjadi being, bukan having. Kalau pun having diberikan, itu hanyalah bonus dari Tuhan yang ditatakan di atas being. Maka having menjadi tanpa arti jika tanpa being.


  • robo = kendi
  • tuak = arak, minuman beralkohol
  • lingko = lahan kebun

MEMPERLUAS JIWA

Ketika imamatmu bergulat di ibukota Jakarta dan meriak-riak ke seluruh negeri melalui MNPK, Majelis Nasional Pendidikan Katolik, engkau menggeleng-geleng kepala tapi tidak bingung.

Kenapa teman, tanyaku di suatu waktu.

Ini ka teman, pendidikan sekarang koq hanya bikin orang jadi pintar rebut angka, dapat nilai A dan B, delapan, sembilan, sepuluh.

Lha, apa yang salah?

Aeh ghau ta Gerard (=ah kau ini), apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah?

Tu’ung e (= benar) Romo Koyu. Berarti gak ada gunanya sudah kita baca buku-buku, atau gimana.

Memang untuk apa, hahahahahahaaha. Ta (= gini) teman, hidup ini bukanlah apa yang kita ketahui, bukan buku-buku yang kita baca atau kalimat-kalimat yang kita pidatokan, melainkan apa yang kita kerjakan, apa yang paling mengakar di hati, jiwa dan inti kehidupan. Sudah banyak yang kita baca. Kata orang, semesta dan butiran udara adalah perpustakaan untuk kita, hahahahahaha.

Hahahahahaha, nia setu’un koe tombo gho ta de (= yang benar dikit e).

Ta Gerard, ngancet tombo mbamba leso nenggo’o ko (= masa’ bohong di usia begini). Sudah tua kita e.

Serempak daler (= tawa) kita berdua sejadi-jadinya memecah langit mendung Jakarta sore itu.

Lalu engkau bercerita tentang neoliberalisme dalam pendidikan pada umumnya, termasuk dalam pendidikan katolik. Aku mendengar sekenanya dari awal tapi lama-lama semakin terpana, layaknya seperti engkau mengantarku ke dasar samudera sembari mengagumi keindahan tak terkira dan misteri-misterinya. Amazing, temanku.

Engkau berkata, pendidikan kita sudah terjerembab dalam salah satu cara berpikir neoliberal di mana para pemberi membutuhkan mereka yang diberi. Orang kaya membutuhkan orang miskin, sebab orang miskin adalah jalan memperbanyak pemberian. Orang miskin adalah lahan subur untuk menanam kasih sayang. Aku tidak suka!

Segeralah saat itu juga aku paham bahwa engkau tidak turut menikmati bermain logika dan simulasi neoliberal itu. Engkau transenden, temanku, pastorku. Engkau transenden dari pola-pola adegan neoliberal itu dengan mempertapakan dambaan cinta alangkah indahnya kehidupan tanpa orang-orang miskin yang meruntuhkan hati dan memeras airmata. Bahwa alangkah indahnya sekolah-sekolah tidak berpikir harus ada murid bodoh dan miskin dulu, barulah sekolah-sekolah dan universitas merasa diri amat berperan, melebihi kekuasaan Tuhan.

Gelar gelar dan pemuliaan orang-orang lulus terindah satu sampai sepuluh, untuk apa, tanyamu lagi. Gelar-gelar itu hanyalah sebatas kedewasaan ilmu, namun tidak menjamin kematangan mentalitas dan spiritualitas. Bahkan tidak menjanjikan kedewasaan sosial dan kultural.

Nah, saat itu, aku termangu. Diam dalam silentium magnum. Dalam bathin, aku berucap: “ Temanku, engkau telah memiliki semua itu!”

SYAIR SEDERHANA

Kutuliskan syair sederhana ini untukmu, temanku, pastorku. Syair sederhana, pikiran-pikiran sederhana, perasaan-perasaan dan hasrat yang sederhana, warta terpantul dari 63 tahun rentang waktu usiamu.

Syair sederhana ini adalah tentang kebanyakan kami teman kelasmu tak bisa tidur, kami hanya tertidur, karena sepanjang siang dan malam hari, kami diberati oleh dunia. Padahal apa yang dilakukan di dunia ini hanyalah sejatinya perlombaan dalam kebaikan. Bukan perlombaan keunggulan satu sama lain.

Sebab hidup ini pun sederhana saja. Tapi ternyata yang kami teman kelasmu cari bukanlah kebaikan melainkan kekayaan, yang lebih kami buru bukanlah keluhuran melainkan kenyamanan, dan pada posisi seperti itu kami selalu merasa lebih tinggi derajat dibanding orang-orang lain. Ada motto dalam hati: aku harus berlebih dari kamu-kamu!

Syair sederhana ini adalah doaku kepadamu agar engkau bantu aku dan teman-teman kelasmu di dalam memenangkan pertarungan melawan segala kesia-siaan. Sebab aku dan teman-teman kelasmu, mungkin juga kamu-kamu di luar sana, belum sepenuhnya merasa jijik terhadap cita-cita dunia yang muluk dan masih belum berhasil mengurangi semangat terhadap yang serba gemerlapan, mengejar-ngejar angka, jumlah, nama. Non multa sed multum, bukan kuantitas tapi kualitas masih jauh panggang dari api.

Syair sederhana ini adalah tentang kemerdekaan yang telah dikerangkeng. Ketika Tuhan melepaskan Adam ke bumi beserta anak turunannya, aku dan teman kelasmu tahu itu untuk menguji apakah kami-kami ini dewasa memahami kemerdekaan yang diberikan kepada kami. Dan engkau tahu, kami selalu gagal. Kemerdekaan, kami kerangkeng dalam tindakan berbuat semau-ma unya untuk kebesaran jumlah, angka dan nama, padalah ia diberikan supaya kami-kami ini tahu batas-batas. Itulah kemerdekaan dalam makna yang sebenar-benarnya.

Syair sederhana ini adalah hembusan sebuah pinta jika nanti aku dan teman-teman kelasmu selesai menjalani tugas-tugas di bumi, kuharap mulut-mulut kami tidak kelu ketika mengucapkan nama Mori Keraeng Ema Pu’un Kuasa*.

Yo Mori, ambillah jiwa-ragaku sebagai bahan puja-puji bagi-MU. Ambillah sewaktu-waktu jika putusan-MU turun. Kematianku hendaknya sederhana saja. Orang-orang menguburku hendaknya juga dengan sederhana saja. Itulah warta lantang dari 63 tahun hidupmu, temanku, pastorku.


  • Yo Mori = Ya Tuhan
  • Mori Keraeng Ema Pu’un Kuasa = Tuhan Allah Maha Kuasa
    ****(gnb:tmn aries:jkt:senin:29.3.21: in memorian Romo Karel Jande Pr, jam 9.30 WIB di Tulung Agung)