Roy Wijaya Harapkan Novel Diatas Singgasana Cinta Bisa Jadi Film Unggulan

Daerah

Jakarta, SorotNTT.Com-Sutradara Roy Wijaya kembali membuka kenangan lamanya, saat peluncuran novel terbaik 2017 tahun silam, untuk dijadikan Film religi dan rencananya akan dibuat dengan sangat religius. Karena banyak pesan moral yang bisa dipetik dari Novel itu.

Mantan Direktur Rumah Media Film itu, mengatakan dirinya sempat akan menggagas Film dari Novel tersebut, hanya saja belum ada produser yang bisa menguatkan dalam produksinya.

“Dalam Novel itu terdapat kisah tentang masa lalu yang kelam, pergulatan bathin dan persahabatan dari benci menjadi rindu, sedih dan gembira berubah asmara. Makna perjalanan yang dipersembahkan Novel ini sangatlah dalam,” ungkap Roy kepada Wartawan di Gramedia, Jakarta saat melihat deretan novel yang berbaris, Rabu 4 Maret 2021.

Menurut Roy, dalam novel itu juga tidak hanya tentang kisah cinta dan para pencarinya, tetapi juga tentang keberserahan seorang pencinta atas takdir yang diterimanya yang disangkakan sebagai teroris. “Lantas, Haruskah Setiap muslim yang taat beribadah di cap sebagai teroris,” ujar
Roy saat peluncuran Novel di Kawasan Buperta Ragunan, Minggu (10/11/2017) empat tahun yang lalu.

Cerita yang diangkat dari Novel Syiffanis Amaar, kata Roy, selain bertutur tentang perjalanan cinta yang tak bertepi sang tokoh utama. Nuansa suka, duka, bahagia dan kecewa bercampur aduk hingga pembaca akan terhipnotis dengan untaian kisahnya yang mengharu biru. Karena tak terpikir dalam benak Mahes, sebab Cerita sesungguhnya baru dimulai justru ketika Mahes bertemu dengan pria aneh yang seolah selalu mengikutinya.

Alurnya seperti sungai, sedangkan konflik demi konflik adalah bebatuan yang mau tak mau harus dilewati untuk menemukan di mana arus bermuara. Ahir dari cerita ini, dapat dipahami, bahwa sebesar apapun cinta yang kita agungkan pada lawan jenis. Ternyata tak mampu mengalahkan cinta dua insan kepada sang kholik sebagai pemilik alam semesta (Alloh  Swt). 

“Dengan ketauhidan dan jejak islami yang syarat makna. Novel ini mengajarkan kita untuk tetap bertawakal dan tetap beristiqomah kepada alloh swt,” jelasnya.

Sementara itu penulis buku, trainer kepenulisan, dan pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPkers) J. Haryadi Kohar berharap Novel itu bisa diangak ke Layar Lebar, srbagai Film unggulan.
Sebab banyak pesan moral yang bisa dipetik dari novel ini.

Di dalamnya terdapat kisah tentang masa lalu yang kelam, pergulatan batin, persaudaraan dan persahabatan, benci dan rindu, sedih dan gembira, serta dendam dan asmara.
 
“Saya merekomendasikan produser dan sutradara untuk mengangkat kisah dalam buku ini ke layar lebar,” ulasnya. (***)